Akan Ada Sistem Perdagangan Dalam Peperangan Canggih, Perang Dagang Trump-China, Industri Ini yang

Peringkat broker opsi biner:

Perang Dagang Trump-China, Industri Ini yang Paling Terdampak

Jakarta, CNBC Indonesia – Jika Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump ingin mengadakan perang dagang tunggal dengan China melalui peningkatan tarif, ia harus memilah begitu banyak produk terlebih dahulu.

Gedung Putih diberitakan akan mengumumkan bea impor baru untuk barang-barang China pada hari Kamis (22/3/2020), dengan nilai total mencapai US$60 miliar (Rp 824,6 triliun). Kemungkinan besar, penerapan tarif itu akan dimulai pada barang-barang teknologi, telekomunikasi dan kekayaan intelektual.

Namun, jumlah barang di dalam daftar target potensial bisa mencapai ribuan, mulai dari mebel sampai sepatu kets.

Ada alasan mengapa kesepakatan dagang butuh waktu bertahun-tahun dalam bernegosiasi. Selama empat dekade terakhir, puluhan negara di dunia telah meringankan tarif perdagangan secara bertahap terhadap satu sama lain dengan upaya tawar-menawar bertahun-tahun untuk menentukan berapa besaran pajak yang akan diterapkan ke ribuan tipe produk.

Trump Incar Tarif Hingga Rp 824,2 T untuk Produk China
AS Desak China Pangkas Surplus Dagang Rp 1.374 T
Trump Minta Arab Bagi Kekayaan dengan Beli Senjata AS

Sistem tersebut meliputi hampir 100 kategori produk dasar, kemudian dipecah lagi menjadi yang lebih rinci. Misalnya, di dalam kategori “alat, perkakas dan alat makan berbahan dasar logam”, ada lebih dari 80 tipe produk yang tujuh diantaranya adalah berbagai tipe pisau tergantung penggunaannya.

Pemerintahan Trump berharap dapat memberi pukulan yang cepat dan menentukan pada perang dagang AS yang melebar. Perang yang disebut sebagian besar ekonom dan penasehatnya hanya akan memicu reaksi global yang merugikan tenaga kerja AS.

Masih perlu dilihat seberapa mudah pemerintah dapat meluncurkan senjata tarif ini.

Puluhan kelompok bisnis AS telah mengekspresikan kewaspadaan atas pemberitaan tentang potensi tarif baru ke China senilai $60 miliar. Pada hari Minggu (18/3/2020), 45 asosiasi dagang Amerika yang mewakili beberapa perusahaan terbesar di negara itu memperingatkan lewat surat ke Gedung Putih bahwa tarif tersebut dapat menaikkan harga barang-barang konsumen, mematikan banyak lapangan pekerjaan dan menurunkan pasar keuangan.

Jika administrasi berhasil memungut tarif baru yang besar dari China, Beijing kemungkinan besar akan membalas dengan menaikkan cukai untuk produk-produk AS yang dijual di China.

Peringkat broker opsi biner:

Potensi reaksi China bisa sangat merugikan. Eskpor barang dan jasa AS ke China menyokong lebih dari 900.000 lapangan pekerjaan di tahun 2020, menurut data terakhir yang tersedia dari Kementerian Perdagangan AS. Sekitar 600.000 dari lapangan pekerjaan tersebut ditopang oleh ekspor barang dan 310.000 oleh ekspor jasa.

Di antara mereka yang akan rugi besar akibat perang dagang adalah para petani Amerika, yang di tahun 2020 menjual produk senilai $21 miliar ke China, pasar terbesar kedua untuk produk pertanian AS.

Industri lain yang akan menjadi target utama dari tarif China yang lebih tinggi termasuk pesawat ( dengan ekspor senilai $15 miliar di tahun 2020), mesin listrik ($12 miliar), mesin ($11 miliar) dan kendaraan ($11 miliar). (roy/roy)

Perang Dagang, AS dan China Saling Menyalahkan

Jakarta, CNN Indonesia — Pemerintahan Trump menuding China sedang memainkan aksi untuk menyalahkan Amerika Serikat (AS) atas perang dagang yang berlarut-larut antara kedua negara.

Dalam pernyataan bersama, kantor Perwakilan Dagang AS (USTR) dan Departemen Keuangan AS menegaskan kembali pandangan mereka bahwa negosiator Tiongkok telah “mundur” pada elemen-elemen penting dari kesepakatan yang sebagian besar sebenarnya telah disepakati, termasuk mengenai ketentuan penegakan hukum.

“Desakan kami pada komitmen yang terperinci dan dapat ditegakkan dari Tiongkok sama sekali bukan merupakan ancaman bagi kedaulatan Tiongkok,” kata USTR dan Departemen Keuangan, dikutip dari Reuters, Senin (4/6).

Sebaliknya, menurut mereka, masalah-masalah yang dibahas adalah perjanjian perdagangan yang bersifat umum dan diperlukan untuk mengatasi masalah-masalah sistemik yang telah berkontribusi pada defisit perdagangan AS yang terus-menerus dan tidak berkelanjutan.

Lihat juga:

China pada hari Minggu mengeluarkan makalah kebijakan pemerintah tentang sengketa perdagangan AS-China. Mereka menyatakan bahwa AS memikul tanggung jawab atas kemunduran dalam pembicaraan, mengutip tiga contoh di mana Washington telah mengulangi komitmen yang dibuat selama negosiasi.

Wakil Menteri Perdagangan China Wang Shouwen yang juga tim negosiasi mengatakan dalam mempresentasikan makalahnya kepada media bahwa ASt tidak mungkin menggunakan “tekanan ekstrem” untuk memaksa konsesi dari Tiongkok.

Retorika yang sengit antara Beijing dan Washington terus meningkat sejak pembicaraan macet pada awal Mei atas tuduhan AS bahwa Beijing telah mengulangi komitmen untuk mengkodifikasi perubahan hukum dalam kekayaan intelektual dan praktik alih teknologi untuk menangani tuntutan A.S.

Presiden Donald Trump memberlakukan kenaikan tarif hingga 25 persen pada daftar barang China senilai US$ 200 miliar pada 10 Mei, mengatakan bahwa China melanggar kesepakatan. Pemerintahannya kemudian menjatuhkan sanksi berat terhadap Huawei Technologies Co, perusahaan peralatan telekomunikasi utama China.

Lihat juga:

“Amerika Serikat kecewa karena Cina telah memilih dalam ‘Buku Putih’ yang dikeluarkan (pada hari Minggu) dan pernyataan publik baru-baru ini untuk mengejar permainan menyalahkan salah menggambarkan sifat dan sejarah negosiasi perdagangan antara kedua negara,” USTR dan Departemen Keuangan mengatakan dalam pernyataan.

Kedua badan yang memimpin negosiasi untuk pihak AS mengatakan bahwa dorongan untuk negosiasi adalah sejarah panjang praktik perdagangan yang tidak adil dan posisi negosiasi AS telah konsisten di seluruh pembicaraan.

Belum ada pembicaraan yang dijadwalkan sejak putaran terakhir berakhir pada bulan Mei, dan masih belum jelas apakah Trump dan Presiden Cina Xi Jinping akan bertemu ketika mereka berdua menghadiri KTT para pemimpin G20 akhir bulan ini di Jepang.

Panas Dingin AS-China yang Berujung Perang Dagang

Jakarta, CNBC Indonesia – Perang dagang antara dua raksasa ekonomi dunia memanas. Amerika Serikat (AS), negara dengan perekonomian terbesar di dunia menetapkan kebijakan pengenaan bea masuk untuk impor produk-produk berteknologi tinggi dari China, negara dengan perekonomian terbesar kedua di dunia.

Pengenaan bea impor ini adalah yang kali ketiga dilakukan oleh pemerintah AS di bawah pimpinan Presiden Donald Trump, yang terkenal dengan jargon proteksionisnya yaitu America First.

China, sang Macan Asia, tak tinggal diam. Negari Tirai Bambu pada hari Jumat (23/3/2020) langsung mengumumkan daftar 128 barang impor asal AS yang akan dikenakan bea masuk apabila tak ada kesepakatan yang dicapai antara kedua negara.

Perang dagang antara kedua raksasa ini dimulai April tahun lalu ketika Trump memerintahkan penyelidikan terhadap dugaan “kecurangan” yang dilakukan negara rekan dagang AS yang mengakibatkan tingginya defisit neraca perdagangan. China adalah salah satu negara yang diselidiki. Kementerian Perdagangan China ketika itu mengatakan negaranya bersedia bekerja sama dengan AS dengan dasar kesetaraan dan prinsip saling menguntungkan untuk menyelesaikan masalah.

AS membukukan defisit dagang dengan China US$ 375 miliar (Rp 5.170 triliun) pada 2020 . Jumlah tersebut mencapai 2/3 dari defisit dagang AS yang senilai $566 miliar. China melaporkan surplus dagang dengan AS sebesar US$276 miliar atau 2/3 dari surplus global yang dilaporkan negara itu.

Serangan Pertama Targetkan China dan Korea Selatan

Belum jelas hasil investigasi yang juga mencantumkan nama Indonesia di daftarnya itu, Trump mengambil tindakan protektif yang nyata. Pada Januari 2020, eks taipan properti itu menetapkan bea masuk hingga 30% untuk impor mesin cuci jenis tertentu dan panel surya. China dan Korea Selatan adalah negara yang terpukul penerapan bea impor itu.

Dua perusahaan elektronik asal Korea Selatan, Samsung Electronics dan LG Electronics, secara gabungan mengirim sekitar 2,5-3 juta mesin cuci setiap tahunnya ke AS dengan nilai penjualan sekitar $1 miliar (Rp 13,3 triliun). Mereka menguasai 1/4 pangsa pasar AS yang selama ini didominasi oleh profuk lokal yaitu Whirlpool dan General Electric.

China, yang merupakan produsen panel surya terbesar di dunia, ketika itu menyebut tindakan Trump sebagai ‘aksi berlebihan’ yang akan mengganggu situasi perdagangan dunia.

“Keputusan AS ini adalah penyalahgunaan kebijakan perdagangan, dan China menyatakan ketidakpuasan yang mendalam. China akan bekerja sama dengan WTO (Organisasi Perdagangan Dunia) untuk secara tegas mempertahankan kepentingannya yang sah dari keputusan AS yang salah itu,” tegas Wang Hejun, kepala Biro Investigasi Perdagangan dan Kebijakan China.

Langkah awal Trump itu dikhawatirkan akan memantik menjalarnya kebijakan proteksionis ke seluruh dunia. Benar saja. Sang presiden kontroversial itu kembali meresahkan dunia karena mengumumkan pengenaan bea masuk baja dan aluminium dengan alasan keamanan nasional dan melindungi industri dalam negeri.

Bea Impor Baja dan Aluminium

Serangan kedua Trump jadi kenyataan ketika ia menandatangani kebijakan pengenaan bea masuk 25% untuk impor baja dan 10% untuk aluminium. Beberapa negara, seperti Kanada, Meksiko, dan Eropa, sementara ini dikecualikan dari pengenaan bea masuk itu.

Parlemen China sendiri mengatakan akan mengambil tindakan yang diperlukan apabila kepentingan negaranya dirugikan akibat pengenaan bea masuk itu. China adalah produsen baja terbesar di dunia, tetapi ekspor baja negara ini hanya 1% dari keseluruhan impor baja AS. China juga hanya menjual 10% dari produksi aluminiumnya ke luar negeri. Pemerintah China menyebut tindakan Trump itu hanya akan menyebabkan kehancuran pada pertumbuhan ekonomi global.

“Tidak ada pemenang dalam perang dagang. Ini hanya akan membawa bencana ke China dan Amerika Serikat dan dunia,” kata Menteri Perdagangan China Zhong Shan.

Selepas menerapkan tarif baru itu, Trump juga berkicau bahwa ia telah meminta China membuat langkah-langkah untuk mengurangi US$100 miliar dari keseluruhan nilai surplus perdagangannya dengan AS.

Juru Bicara Gedung Putih Sarah Sanders menolak memberi informasi rinci tentang bagaimana pemerintahnya ingin China mencapai tujuan pengurangan surplus tersebut. Berbagai usaha yang kemungkinan akan dilakukan adalah meningkatkan pembelian produk AS seperti kedelai atau pesawat, serta membuat perubahan besar di dalam kebijakan industri, memangkas subsidi untuk badan usaha milik negara, atau semakin mengurangi kapasitas baja dan aluminium.

Permintaan tersebut muncul bersamaan dengan persiapan AS untuk kembali mengenakan bea impor untuk produk konsumen, teknologi informasi, dan telekomunikasi dari China senilai US$ 60 miliar sebagai bagian dari investigasi AS terhadap dugaan praktik ‘pencurian’ kekayaan intelektual perusahaan-perusahaan teknologi AS oleh China.

Serangan Terbaru, Sasar Produk Teknologi China

Trump akhirnya menandatangani kebijakan pengenaan bea masuk yang menargetkan impor asal China senilai hingga US$ 60 miliar atau sekitar Rp 824 triliun. “Ini adalah yang pertama dari banyak [kebijakan serupa lainnya],” kata Trump pada saat penandatanganan.

Kebijakan baru itu didesain untuk ‘menghukum’ China atas praktik perdagangannya yang disebut oleh pemerintahan Trump mencuri hak kekayaan intelektual perusahaan-perusahaan AS. Kebijakan itu pada awalnya akan dikenakan pada produk-produk tertentu di sektor teknologi di mana China memiliki keuntungan dibandingkan AS.

Berselang sehari, pemerintah China mengeluarkan daftar barang-barang impor dari AS senilai US$3 miliar yang akan dikenai tarif baru. Daftar itu sebenarnya dikeluarkan untuk merespons pengenaan bea masuk impor baja dan aluminium Trump.

Perang Dagang Trump-China, Industri Ini yang Paling Terdampak
AS-China Perang Dagang, Dunia Meradang
AS Kenakan Bea Impor untuk China, Wall Street Rontok
Balas Bea Impor Trump, China Kenakan Tarif pada 128 Produk AS

Kementerian Perdagangan China mengancam akan mengenakan tarif 15% untuk 120 produk, termasuk buah segar, kacang-kacangan, ginseng, dan anggur (wine), bernilai hampir US$ 1 miliar bila negosiasinya dengan AS tidak mencapai kesepakatan.

Untuk tahap kedua, bea masuk 25% akan dikenakan ke delapan produk, termasuk daging babi dan aluminium, bernilai hampir US$ 3 miliar. Namun, daftar tersebut tidak mencantumkan kedelai, yang sebelumnya disebut-sebut akan ditargetkan oleh pemerintahan China untuk dikenai tarif.

Bila kedelai dikenakan bea masuk, hal itu akan memukul para petani di AS karena 1/3 dari ekspor kedelai mereka dikirim ke China dengan nilai fantastis US$14 miliar tahun lalu. (aji)

Peringkat broker opsi biner:
Tempat berinvestasi
Tinggalkan Balasan

;-) :| :x :twisted: :smile: :shock: :sad: :roll: :razz: :oops: :o :mrgreen: :lol: :idea: :grin: :evil: :cry: :cool: :arrow: :???: :?: :!: