Beberapa Strategi Perdagangan

Peringkat broker opsi biner:

Teori Perdagangan Internasional dan Strategi . – mutosagala

Teori Perdagangan Internasional dan Strategi . – mutosagala

Disampaikan dalam Mata Kuliah Ekonomika Pembangunan 1 Yogyakarta, 13 Mei 2020

Oleh : Endiarjati Dewandaru Sadono (11/315718/EK/18515) Jurusan Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada

Outline  Pendahuluan  Teori Perdagangan Internasional : Beberapa Masalah      

Penting Teori Perdagangan Internasional Tradsional Kritik untuk Teori Perdagangan Bebas dalam Konteks Pengalaman Empiris Negara Berkembang New Trade Theory : Paul Krugman Strategi Perdagangan Tradisional untuk Pembangunan : Promosi Ekspor vs Substitusi Impor Pendekatan Strategi Industrialisasi untuk Kebijakan Ekspor Kebijakan Perdagangan Negara Maju : Kebutuhan untuk Reformasi

Pendahuluan  Globalisasi = suatu proses dimana perekonomian

dunia menjadi semakin terintegrasi menuju ekonomi global serta kebijakan ekonomi global.  Globalisasi = munculnya budaya global, dimana orang lebih sering mengkonsumsi barang dan jasa serupa di setiap negara dan menggunakan bahasa bisnis yang umum, yaitu bahasa Inggris.  Dalam arti pokok ekonomi, globalisasi = meningkatnya keterbukaan ekonomi untuk perdagangan internasional, arus keuangan dan investasi asing langsung.

Teori Perdagangan Internasional : Beberapa Masalah Penting  Banyak negara berkembang sangat bergantung

pada ekspor produk primer dengan resiko dan ketidakpastian yang menyertainya.  Banyak negara berkembang sangat bergantung pada impor (biasanya mesin, barang modal, barang produksi menegah)  Banyak negara berkembang memiliki defisit kronis pada giro dan modal yang menghabiskan cadangan mereka, menyebabkan ketidakstabilan mata uang dan dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi.

Peringkat broker opsi biner:

Teori Perdagangan Internasional Tradisional

Keunggulan Komparatif  Karena hampir tidak mungkin bagi individu atau

keluarga untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri dengan semua persyaratan konsumsi, maka mereka biasanya mendapatkan keuntungan dalam kegiatan yang paling cocok atau memiliki keunggulan komparatif dalam hal kemampuan alamiah atau sumber daya yang mendukung.  Prinsip keunggukan komparatif = negara harus, dan dengan syarat kompetitif akan mengkhususkan diri dalam ekspor produk-produk yang dapat mereka hasilkan dengan biaya relatif terendah.

Model Neoklasik Hecksher-Ohlin (1)  Teori

perdagangan neoklasik Heckser-Ohlin memungkinkan kita untuk menggambarkan secara analitis dampak pertumbuhan ekonomi terhadap pola perdagangan dan dampak dari perdagangan terhadap struktur perekonomian nasional dan pembayaran kepada berbagai faktor produksi.  Teori ini didasarkan pada dua dalil penting : 1. Produk yang berbeda memerlukan proporsi yang berbeda dalam faktor yang produktif 2. Setiap negara didukung faktor produksi yang berbeda-beda

Model Neoklasik Hecksher-Ohlin (2)  Teori ini mendorong negara berkembang untuk fokus

pada ekspor produk primer yang labor- and landintensive. Dengan memperdagangkan komoditas primer ini, negara berkembang bisa mendapatkan manfaat yang besar dari perdagangan bebas dengan negara kaya di dunia.  Beberapa poin penting lain dalam teori ini : 1. Spesialisasi penuh tidak akan terjadi seperti model keunggulan komparatif klasik.

Model Neoklasik Hecksher-Ohlin (3) 2. Pemerataan rasio harga produk domestik dengan rasio harga perdagangan bebas internasional cenderung menyamai faktor harga antara negara-negara yang berdagang. 3. Teori faktor pendukung memprediksi bahwa pengembalian ekonomi kepada pemilik sumber daya yang melimpah akan naik sehubungan dengan pemilik sumber daya yang langka sebagai faktor yang lebih intensif digunakan. 4. Dengan memacu negara untuk bergerak keluar dari PPF mereka dan mengamankan modal serta barangbarang konsumsi dari belahan dunia lain, perdagangan diasumsikan merangsang pertumbuhan ekonomi.

Gambar 1 Perdagangan dengan Faktor Proporsi and Faktor Pendukung yang berbeda

Gambar 2 Perdagangan dengan Faktor Proporsi and Faktor Pendukung yang berbeda (lanjutan)

Teori Perdagangan dan Pembangunan : Argumen Tradisional (1) Perdagangan merupakan stimulator penting dalam pertumbuhan ekonomi. 2. Perdagangan mempromosikan kesetaraan domestik dan internasional dengan menyamakan faktor harga, meningkatkan pendapatan riil negara-negara yang berdagang, mendayagunakan setiap bangsa dan sumber daya yang tersedia di dunia. 3. Perdagangan membantu setiap negara untuk mencapai pembangunan dengan mempromosikan dan memberikan penghargaan kepada sektor ekonomi dimana masingmasing negara memiliki keunggulan komparatif, baik dalam efisiensi tenaga kerja maupun faktor pendukung. Hal ini juga memungkinkan mereka mengambil keuntungan dari economies of scale. 1.

Teori Perdagangan dan Pembangunan : Argumen Tradisional (2) 4. Dalam dunia perdagangan bebas, harga dan biaya

produksi internasional menentukan seberapa banyak suatu negara harus berdagang untuk memaksimalkan kesejahteraan nasional. Setiap negara harus mengikuti prinsip keunggulan komparatif dan tidak mencoba untuk mengganggu kinerja pasar yang bebas. 5. Untuk mendorong pertumbuhan dan pembangunan, kebijakan internasional berwawasan keluar diperlukan.

Kritik untuk Teori Perdagangan Bebas dalam Konteks Pengalaman Empiris Negara Berkembang

1. Sumber daya tetap, Kesempatan Kerja Penuh dan International Immobility of Capital and Skilled Labor

Trade and Resource Growth : North-South Models of Unequal Trade (1)  Pada kenyataannya, ekonomi dunia ditandai dengan perubahan

yang cepat dan faktor produksi tetap dalam kuantitas maupun kualitas. Oleh karena itu, faktor pendukung relatif dan perbandingan biaya tidak tetap tetapi selalu berubah. Perubahan ini ditentukan oleh sifat dan karakter spesialisasi internasional. Jika negara kaya (the North) didukung sumber daya modal, kemampuan wirausaha dan tenaga kerja terampil, maka secara intensif dapat menciptakan insentif ekonomi dan syarat yang diperlukan untuk pertumbuhan mereka. Sebaliknya, negara berkembang (the South) sering terjebak dalam situasi stagnan yang lama dimana keunggulan komparatif mereka dalam kegiatan yang tidak produktif dan tidak memerlukan keterampilan. Hal ini kemudian menghambat pertumbuhan modal domestik, kewirausahaan dan keterampilan teknis yang diperlukan.

Trade and Resource Growth : North-South Models of Unequal Trade (2)  Dalam beberapa tahun terakhir, beberapa ekonom

menantang model neoklasik statis denan model perdagangan dan pertumbuhan dinamis alternatif yang menekankan proses faktor akumulasi dan pembangunan tidak merata. Model ini disebut North-South trade models yang berfokus pada hubungan perdagangan antara negara kaya dan miskin.

Unemployment Resource Underutilization and the Vent-for Surplus Theory of International Trade

 Salah satu kesimpulan dari adanya pengangguran

yang meluas di negara berkembang adalah sumber daya kurang dimanfaatkan manusia untuk menciptakan kesempatan memperluas kapasitas produktif dan GNI dengan memproduksi produk pasar ekspor yang tidak diminta di tingkat domestik. Hal ini kemudian dikenal sebagai vent-for-surplus theory of international trade, yang dirumuskan oleh Adam Smith

Gambar 3 The Vent-for-Surplus Theory of Trade

2. Teknologi yang tersedia secara bebas dan kebebasan konsumen tetap  Asumsi selera dan preferensi konsumen dianggap tetap

di seluruh dunia tidak realistis. Tidak hanya modal dan teknologi produksi yang disebarluaskan ke seluruh perushaan multinasional, tetapi selera dan prefersensi konsumen sering dibuat dan diperkuat oleh kampanye iklan yang mendominasi pasar lokal. Dengan menciptakan permintaan untuk barang impor, pasar yang didominasi perusahaan internasional dapat meningkatkan profitabilitas. Hal ini sangat signifikan di negara sedang berkembang, dimana informasi terbatas dan tidak sempurna dalam produksi dan konsumsi akan menciptakan situasi pasar yang sangat tidak lengkap.

3. Faktor Mobilitas Internasional, Persaingan Sempurna dan Ketidakpastian  Realitas struktural di negara berkembang yang kaku

dan memiliki banyak keterbatasan.  Increasing return menyebabkan praktek monopoli di pasar dunia  Resiko dan ketidakpastian dalam pengaturan perdagangan internasional

4. Tidak adanya pemerintah nasional dalam hubungan perdagangan  Di

dalam perekonomian domestik, banyak ketidaksetaraan dapat dinetralkan dan diperbaiki oleh intervensi pemerintah negara. Tetapi, karena tidak ada pemerintah internasional yang efektif untuk memainkan peran yang sebanding di setiap negara, maka manfaat yang sangat tidak merata dari perdagangan dapat dengan mudah menjadi swadaya.

5. Perdagangan Seimbang dan Penyesuaian Harga Internasional  Rasio harga komoditas internasional disesuaikan

agar penawaran dan permintaan untuk produk ekspor dan impor suatu negara sama sehingga perdagangan selalu seimbang. Dengan perdagangan yang seimbang dan tidak ada perpindahan modal internasional, masalah neraca pembayaran tidak pernah muncul dalam teori perdagangan murni.

6. Manfaat Perdagangan yang diperoleh Warga Negara  Jika sektor ekspor (atau setiap sektor ekonomi)

adalah milik dan dioperasikan oleh pihak asing, maka GDP akan jauh lebih tinggi daripada GNI sehingga manfaat perdagangan bertambah untuk warga negara di negara yang sedang berkembang.  Dengan menjamurnya perusahaan multinasional dan peningkatan kepemilikan asing atas perusahaan di berbagai negara, manfaat utama dari perdagangan akan diterima oleh warga negara asing.

New Trade Theory : Paul Krugman

Biografi Nama Lahir Almamater Kontribusi

: Paul Robin Krugman : New York, 28 Februari 1953 : MIT, Universitas Yale : International Trade Theory, New Trade Theory, New Economic Geography : John Bates Clark Medal (1991) Principle de Asturias Prize (2004) Nobel Memorial Prize in Economics (2008)

New Trade Theory (1)  Teori

perdagangan sebelum Krugman menekankan perdagangan berdasarkan keunggulan komparatif negaranegara dengan karakteristik yang sangat berbeda.  Pada abad ke-20, perdagangan antar negara semakin berkembang dengan pangsa pasar yang semakin luas dan sulit untuk dijelaskan dengan teori keunggulan komparatif.  Penjelasan Krugman mengenai perdagangan antar negara dikemukakan dalam Journal of International Economics tahun 1979, dengan dua asumsi, yaitu konsumen lebih memilih beragam pilihan merek dan produksi yang economies of scale.

New Trade Theory (2)  Krugman mengemukakan ‘preference for diversity’ antara

mobil Volvo dan BMW. Karena economies of scale, maka menyebarkan produksi Volvo di seluruh dunia tidak menguntungkan, tetapi di beberapa pabrik saja di beberapa negara (atau mungkin hanya satu).  Contoh diatas menjelaskan bagaimana masing-masing negara dapat mengkhususkan diri dalam memproduksi beberapa merek dari setiap jenis produk tertentu, bukan mengkhususkan diri dalam berbagai jenis produk.  Krugman memodelkan ‘preference for diversity’ dengan mengasumsikan fungsi utilitas CES seperti dalam makalah Avinash Dixit dan Joseph Stiglitz pada tahun 1977.

New Trade Theory (3)  Banyak model perdagangan internasional sekarang mengikuti

jejak Krugman. Karya Krugman ini disebut New Trade Theory.

New Trade Theory (4)  Kesimpulan = Jika ada economies of scale dalam

produksi, maka negara bisa terkunci dalam pola perdagangan yang merugikan. Namun demikian, perdagangan tetap menguntungkan secara umum karena memungkinkan perusahaan untuk menghemat biaya dengan skala yang lebih besar dan efisien. Akibatnya, akan meningkatkan berbagai merek yang tersedia dan mempertajam persaingan antar perusahaan.

Strategi Perdagangan Tradisional untuk Pembangunan : Promosi Ekspor vs Substitusi Impor

1. Promosi Ekspor

Ekspansi Ekspor Komoditas Primer (1) 

Elastisitas permintaan atas pendapatan untuk bahan makanan pertanian dan bahan baku relatif rendah dibandingkan dengan bahan bakar, mineral tertentu dan manufaktur Tingkat pertumbuhan penduduk di negara maju sekarang mendekati zero-population growth, sehingga sedikit ekspansi yang dapat diharapkan dari sumber ini Elastisitas permintaan atas harga komoditas paling primer relatif rendah Faktor keempat dan kelima bekerja pada ekspansi jangka panjang LDC dalam pendapatan ekspor produk primer mungkin adalah yang terpenting

Ekspansi Ekspor Komoditas Primer (2)  Sisi Penawaran : Faktor terpenting adalah kekuatan

struktural pada beberapa sistem produksi pedesaan di negara berkembang  Promosi produk primer yang sukses di negaranegara berpenghasilan rendah tidak dapat terjadi kecuali ada reorganisasi struktur sosial dan ekonomi pedesaan untuk meningkatkan total produktivitas pertanian dan mendistribusikan manfaat yang lebih luas.

Ekspansi Ekspor Barang Manufaktur  Masalah permintaan LDC untuk ekspor barang

manufaktur, meskipun berbeda dalam konten ekonomi dasar dari produk primer, namun tetap sama. Meskipun elastisitas permintaan atas pendapatan dan harga internasional untuk barang manufaktur secara keseluruhan lebih tinggi daripada komoditas primer, mereka memberikan sedikit bantuan kepada beberapa negara berkembang untuk memperluas ekspor mereka.

2. Substitusi Impor

Tarif, Industri Kecil dan Teori Proteksi  Substitusi impor memerlukan upaya untuk menggantikan

komoditas yang diimpor dengan sumber penawaran dan produksi domestik. Strategi yang khas adalah membuat batasan tarif atau kuota impor komoditas tertentu kemudian mencoba untuk membuat sebuah industri likal untuk memproduksi barang tersebut.  Proteksi tarif terhadap komoditas impor dibutuhkan untuk membuat produsen domestik bisnis dan mencapai economies of scale dalam produksi. Dengan waktu dan proteksi yang cukup, industri kecil bisa tumbuh, secara langsung bersaing dengan produsen negara maju, dan tidak lagi membutuhkan proteksi ini.

Strategi Industrialisasi dan Hasil Substitusi Impor 1. 2.

Banyak industri substitusi impor tetap tidak efisien dan mahal untuk beroperasi Penerima manfaat utama dari proses substitusi impor adalah perusahaan asing yang mampu menemukan solusi di balik tembok tarif dan mengambil keuntungan dari pajak liberal dan insentif investasi Banyak substitusi impor yang sering disubsidi pemerintah, terutama barang modal dan produk setengah jadi oleh perusahaan asing dan domestik Dampak terhadap ekspor produk primer tradisional Substitusi impor yang disusun untuk merangsang pertumbuhan industri kecil dan industrialisasi mandiri dengan menciptakan hubungan ke depan dan ke belakang dengan seluruh perekonomian, sering menghambat industrialisasi tersebut

Nominal vs Effective Rate of Protection Nominal rate of protection

Effective rate of protection

Argumen dasar untuk proteksi tarif 1. Perdagangan merupakan sumber pendapatan utama

pemerintah di sebagian besar negara berkembang karena sistem perpajakan yang relatif mudah 2. Pembatasan impor merupakan tanggapan atas neraca pembayaran yang kronis dan masalah utang 3. Perlindungan terhadap impor merupakan sarana yang tepat untuk mengembangkan economies of scale, eksternalitas positif dan industri swadaya 4. Dengan menerapkan kebijakan pembatasan impor, negara-negara berkembang bisa mengawasi nasib ekonomi mereka dengan lebih baik

Pendekatan Strategi Industrialisasi untuk Kebijakan Ekspor  Pendekatan strategi industrialisasi berorientasi ke luar

dan optimis mengenai pengembangan ekspor, tetapi masih menantikan peran aktif pemerintah dalam mempengaruhi jenis dan urutan ekspor produk yang dihasilkan suatu negara supaya lebih maju dan menghasilkan nilai yang lebih tinggi.  Industrialisasi berorientasi ekspor penting bagi negaranegara kecil untuk memastikan ukuran pasar yang memadai.  Pasar ekspor dunia adalah arena dimana kinerjanya jelas, cepat dan diuji secara ketat sekaligus menjaga pemerintah, yang sumber daya dan kapasitas informasinya terbatas serta terfokus pada masalahmasalah terkait dan mudah dikelola.

Kebijakan Perdagangan Negara Maju : Kebutuhan untuk Reformasi  Perekonomian negara maju dan kebijakan komersialnya

sangat penting dari perspektif pendapatan kurs negara berkembang di masa depan dalam tiga bidang utama :  Hambatan tarif dan non-tarif terhadap ekspor negara berkembang  Bantuan penyesuaian untuk pekerja yang terlantar di industri negara maju akibat akses yang lebih bebas terhadap tenaga kerja padat karya, ekspor dari negara berkembang dengan biaya yang rendah  Dampak umum kebijakan ekonomi domestik negara kaya terhadap negara berkembang

Referensi  Todaro, Michael P., and Smith, Stephen C., (2009),

Economic Development, Tenth Edition. Harlow. Addison-Wesley.  Data dan artikel mengenai Paul Krugman diakses

Strategi perdagangan Indonesia hadapi tantangan global

Selasa, 3 Februari 2020 01:34 WIB

Menteri Perdagangan Rachmat Gobel (ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja)

Jakarta (ANTARA News) – Udara dingin yang bisa mencapai minus tujuh pada pagi hari di Davos, Swiss, tidak menyurutkan lebih dari seribu CEO perusahaan besar dari berbagai belahan dunia mengikuti pertemuan tahunan World Economic Forum yang berlangsung sejak 21-24 Januari 2020

Ajang tahunan WEF menjadi penting bagi mereka dalam mengambil keputusan bisnis ke depan karena dalam forum itu dibahas berbagai tren, tantangan, dan solusi dan peluang di tahun ini.

Tahun ini organisasi yang didirikan profesor di bidang bisnis dari Universitas Jenewa, Swiss, Klaus Schwab itu mengambil tema besar diskusi “The New Global Context” yang tidak hanya membahas masalah ekonomi, tapi juga politik, sosial, lingkungan, dan teknologi.

Namun sejak awal, Klaus Schwab menegaskan bahwa pertemuan tahunan yang tidak hanya dihadiri CEO, tapi juga akademisi, tokoh politik dan pemerintahan, serta lembaga swadaya masyarakat dan jurnalis itu, bukan hanya untuk menginventaris masalah, tapi juga mencari solusi.

“Kita datang di sini untuk menangani berbagai tantangan regional dan domestik,” katanya pada pembukaan forum tersebut.

Ia berharap dari interaksi para pemimpin perusahaan, tokoh, dan akademisi, serta LSM, dan jurnalis itu akan menghasilkan salah satunya kesepakatan dan upaya untuk mendorong pertumbuhan ekonomi inklusif berkelanjutan, di tengah tantangan global yang makin berat.

Tantangan tersebut antara lain berasal dari harga minyak mentah dunia yang cenderung menurun dan krisis di sejumlah negara yang belum berakhir, sehingga mempengaruhi perubahan bisnis dan pertumbuhan ekonomi global.

Dalam diskusi awal terkait ekonomi makro terungkap bahwa negara berkembang akan mendapat tantangan besar untuk menjaga pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.

Hal itu terkait dengan perlambatan ekonomi global, proses pemulihan ekonomi Amerika Serikat, krisis di Eropa yang bisa muncul sewaktu-waktu, penurunan harga minyak dunia, serta perlambatan laju pertumbuhan ekonomi China yang selama ini menjadi motor penggerak pertumbuhan global.

Pada diskusi dengan pembicara antara lain Co-founder and Managing Director The Carlyle Group David M. Rubenstein, Deputy Managing Director International Monetary Fund (IMF) Min Zhu, CEO SOHO China Zhang Xin, Vice-Chairman GE Hong Kong SAR John Rice, dan ekonom asal Jerman Axel Weber itu juga terkemuka tantangan lain di bidang ekonomi berupa risiko penggelembungan aset di beberapa beberapa negara, inflasi tak terkendali, kegagalan mekanisme sistem keuangan, dan krisis ekonomi pada sebagian negara utama di dunia.

Dari semua itu yang paling mengkhawatirkan adalah penurunan harga minyak mentah yang menyentuh angka di bawah 50 dolar AS/barel, serta keengganan AS memangkas produksi shale oil, yang bakal mempengaruhi pertumbuhan ekonomi dunia.

Salah satu negara yang diperkirakan akan “terpukul” oleh tantangan global yang masih berat itu adalah adalah Rusia. Perekonomian negeri Beruang Merah itu diperkirakan tumbuh di bawah proyeksi 4,8 persen pada tahun ini.

Ekonomi Domestik

Lalu bagaimana dampak ekonomi global tersebut terhadap Indonesia.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Sofyan Djalil yang juga hadir pada WEF nampak tidak khawatir dengan hal tersebut. Ia yakin kekuatan ekonomi domestik masih besar untuk menghadapi tantangan global yang bakal menghadang

Apalagi ia menilai pembicaraan mengenai Indonesia sangat positif di forum dunia itu. Pada sejumlah diskusi banyak pembicara yang mengapresiasi berbagai kebijakan pemerintah terutama di bidang reformasi birokrasi dan perbaikan iklim investasi. .

“Saya melihat pesan Presiden Joko Widodo tentang perbaikan iklim investasi di Indonesia sudah tersebar luas di sini (WEF),” ujar Sofyan.

Oleh karena itu ia tidak ragu investasi asing ke Indonesia bakal terus mengalir. Apalagi sejumlah negara maju melonggarkan likuiditas mereka.

Sofyan justru mengkhawatirkan penurunan pertumbuhan ekonomi Tiongkok karena negeri Tirai Bambu itu merupakan salah satu tujuan utama ekspor komoditas Indonesia.

Pada 2020, misalnya, ekspor Indonesia ke Tiongkok mencapai 22,6 miliar dolar AS dan pada Januari-Oktober 2020 nilai ekspor telah mencapai 14,6 miliar dolar AS.

Sofyan mengakui ada kecenderungan ekspor Indonesia menurun, tidak hanya karena perlambatan ekonomi Tiongkok, namun juga akibat pemerintah melarang ekspor bahan tambang dalam keadaan mentah (primer). Selama ini ekspor Indonesia ke Tiongkok didominasi produk bahan primer, termasuk tambang dan perkebunan.

Namun jangka menengah dan panjang, ia yakin dengan pelarangan ekspor bahan mentah, maka nilai ekspor Indonesia akan meningkat karena harga komoditas bakal naik setelah diolah terlebih dahulu di dalam negeri.

Hal senada dikemukakan Menteri Perdagangan (Mendag) Rachmat Gobel yang juga hadir di WEF. Ia menilai tantangan global yang semakin berat, merupakan peluang untuk menunjukkan kekuatan ekonomi dan pasar domestik.

“Pasar domestik kita yang besar adalah insentif dan bisa dimanfaatkan lebih maksimal di tengah tantangan global saat ini,” katanya di sela-sela pertemuan bilateral dengan sejumlah negara di Davos.

Untuk itu, ia akan mengoptimalkan semua perangkat yang ada di Kementerian Perdagangan untuk melindungi pasar dalam negeri, mendorong investasi, dan mendukung penguatan industri nasional.

Kendati demikian, Rachmat menegaskan pihaknya juga akan terus mencari peluang-peluang baru untuk menggenjot ekspor produk manufaktur bernilai tambah tinggi guna memenuhi target kenaikan ekspor tiga kali lipat dalam lima tahun ke depan.

Untuk itu, meski baru tiga bulan sejak pelantikan menjadi Menteri Perdagangan, ia langsung memanggil para pejabat perwakilan perdagangan di luar negeri — yang terdiri dari 24 atase perdagangan, 19 pejabat Indonesia Trade Promotion Centre (ITPC), konsul perdagangan di Hong Kong, dan kantor dagang dan ekonomi di Taiwan — guna membuat strategi ekspansi pasar ekspor.

“Pejabat perwakilan perdagangan di luar negeri harus berperan aktif dan inovatif meningkatkan ekspor di negara akreditasi masing-masing,” ujar Rachmat yang juga mantan anggota Komite Inovasi Nasional (KIN) itu.

Keseriusan itu juga terlihat ketika ia meminta secara khusus Atase Perdagangan Indonesia di Jenewa, Swiss, Nugraheni Prasetya Hastuti untuk mencari peluang baru ekspor produk manufaktur.

“Tolong cari peluang-peluang lain untuk meningkatkan ekspor kita ke Swiss,” pintanya ketika berada di Bandara Zurich sebelum kembali ke tanah air pascamenghadiri pertemuan WEF di Davos, beberapa waktu lalu.

Permintaan Rachmat itu terkait strategi jangka menengah Kementerian Perdagangan untuk mengubah struktur komoditas ekspor. Selama ini ekspor nonmigas Indonesia didominasi produk primer (bahan mentah) yang mencapai 63 persen, sedangkan produk manufaktur hanya 37 persen.

Ke depan struktur itu akan diubah menjadi 65 persen produk manufaktur dan 35 persen produk primer. “Untuk mencapai target itu, saya akan berkoordinasi dengan Menteri Perindustrian Saleh Husin,” kata Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Industri, Teknologi, dan Riset itu.

Sejauh ini pihaknya telah menginventarisasi 60 produk untuk mendukung perubahan struktur ekspor tersebut, antara lain berupa produk jasa, produk kreatif, produk kulit, elektronik, tekstil, kimia, kayu dan mebel, serta produk logam yang permintaannya masih tinggi di dunia, di samping mampu menyerap tenaga kerja yang besar.

Perubahan itu juga sejalan dengan prediksi Bank Dunia dalam “Commodity Price Forecast” yang menyebutkan indeks harga komoditas enegi akan turun dari 123,2 pada 2020 menjadi 121,9 pada 2020. Sedangkan indeks harga produk manufaktur naik dari 109 pada 2020 menjadi 115,4 pada 2020.

Oleh karena itu ia mengajak seluruh kekuatan terutama di jajaran Kementerian Perdagangan (Kemendag) untuk bekerja lebih keras dan tangkas, bahkan kalau perlu melewati rintangan yang berbahaya sekalipun agar target 300 persen kenaikan ekspor bisa tercapai.

“Seperti suatu ungkapan dalam Bahasa Itali yang pernah dipopulerkan Bung Karno, Vivere Pericoloso, yang berarti hiduplah secara berbahaya. Kemendag bercita-cita besar meningkatkan daya saing hingga dapat melipatgandakan ekspor nonmigas selama 2020,” ujarnya.

Oleh Oleh Risbiani Fardaniah
Editor: Kunto Wibisono
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Peringkat broker opsi biner:
Tempat berinvestasi
Tinggalkan Balasan

;-) :| :x :twisted: :smile: :shock: :sad: :roll: :razz: :oops: :o :mrgreen: :lol: :idea: :grin: :evil: :cry: :cool: :arrow: :???: :?: :!: