Bisnis Kinet – Qnet Diduga Jadi Investasi Bodong, Ini Penjelasan OJK

Peringkat broker opsi biner:

Qnet Diduga Jadi Investasi Bodong, Ini Penjelasan OJK

Liputan6.com, Jakarta Kantor QNet di Sona Topas Tower Lantai 15, Jakarta Selatan digeledah polisi, Selasa (29/10/2020). Penggeledahan ini dilakukan berkaitan dengan penanganan perkara PT Amoeba Internasional yang diduga melakukan penipuan berkedok bisinis multi level marketing (MLM).

Menanggapi hal ini, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui Satuan Tugas Waspada Investasi telah mengambil tindakan. Ketua Satgas Waspada Investasi Tongam Lumban Tobing menyatakan, pihaknya telah bertemu dan berdiskusi dengan PT QNet. Ada 3 poin yang disepakati dalam pertemuan tersebut:

“Pertama, QNET telah memiliki izin usaha untuk melakukan kegiatan usaha penjualan langsung (direct selling). Kedua, dalam prakteknya, terdapat member QNET, yaitu yang tergabung dalam PT Amoeba Internasional, yang melakukan penjualan produk QNET di luar SOP perusahaan,” ujarnya saat dihubungi Liputan6.com, Selasa (29/10/2020).

Dan yang ketiga, OJK meminta PT QN International Indonesia untuk mengurus permasalahan anggotnya agar mengikuti SOP yang sesuai dengan izin usaha yang dimiliki.

OJK juga meminta perusahaan memutus hubungan dengan PT Amoeba International Indonesia, dimana selanjutnya PT Amoeba Internasional Indonesia akan dihentikan kegiatannya sepenuhnya.

Sebelumnya, QNet diduga telah membujuk calon anggota dengan iming-iming bisnis seumur hidup yang dapat diturunkan ke anak cucu. Namun syaratnya, mereka harus membeli produk berupa cakhra dan amezcua geometri seharga Rp 10 juta.

Kemudian, calon anggota harus mencari anggota baru sebanyak 6 orang. Jika gagal terpenuhi, maka mereka tidak akan mendapatkan bonus.

* Dapatkan pulsa gratis senilai jutaan rupiah dengan download aplikasi terbaru Liputan6.com mulai 11-31 Oktober 2020 di tautan ini untuk Android dan di sini untuk iOS

Peringkat broker opsi biner:

Begini Jurus Ampuh Bentengi Diri dari Investasi Bodong

SVP Intermediary Business Schroder, Adrian Maulana memberikan sejumlah tips kepada generasi milenial agar tidak terjebak dalam perangkat investasi bodong. Milenial, kata dia, sudah sepatutnya perlu berhati-hati terhadap semua tawaran investasi yang datang.

Menurut dia, pola hidup yang akrab dengan gadget memang menjadikan milenial sebagai ‘sasaran tembak’ bagi para pelaku jasa keuangan ilegal.

“Tahun ini year to date lebih dari puluhan perusahaan fintech ilegal yang dicabut izin oleh OJK. Lebih dari 168 tahun 2020, fintech ilegal diberhentikan. Karena targetnya milenial. Orang-orang yang kemana-mana tangannya tidak bisa lepas dari gadget. Dengan teknologi tanpa kita cari informasi, informasi itu bisa datang. Termasuk yang berkedok investasi,” ungkap dia, di Perpustakaan Nasional, Jakarta, Jumat (3/5).

Hal pertama yang mesti dilakukan ketika mendapatkan tawaran produk investasi dari perusahaan tertentu, yakni melakukan research. Hal ini untuk memastikan milenial punya informasi cukup sebelum membuat keputusan.

“Cek dulu instrumen investasi nya. Lakukan research, tanya pada orang-orang yang lebih kompeten. Bisa ke teman-teman di perbankan, di pasar modal,” ujar dia.

Aspek legalitas suatu perusahaan juga harus diperiksa. Dia mengatakan dengan berkembangnya teknologi dan keterbukaan informasi dari lembaga pengawas jasa keuangan alias OJK, informasi terkait jasa keuangan legal dapat dengan mudah ditemukan.

“Cek aspek legalitasnya. Tanya ke OJK, telepon OJK, email OJK, ‘Saya dapat tawaran investasi perusahaan ini tercatat?’. Kalau tidak, masuk website OJK ada list and perusahaan yang baik pelaku jasa keuangan, baik fintech itu ada. Jangan langsung gegabah ambil keputusan karena brosurnya keren, website-nya keren, aplikasinya keran,” kata dia.

Hal yang tidak kalah penting, tambah Adrian, adalah jangan mudah percaya dan langsung berinvestasi lantaran tawaran imbal hasil (return) yang tinggi.

“Kalau ada yang memberikan imbal hasil jauh melebihi rata-rata yang teman-teman tahu di jasa keuangan, teman-teman harus hati-hati. 5 presen. Bukan setahun per bulan. So please be careful,” tegasnya.

Reporter: Wilfridus Setu Embu

Simak, Ini Ciri Investasi Bodong yang Harus Diwaspadai

Investasi abal-abal yang menjanjikan keuntungan berlimpah masih membuat sebagian orang tergoda, meski terlihat tidak masuk akal. Oleh karenanya, ciri-ciri investasi yang berpotensi menipu harus diwaspadai.

Ketua Umum Satuan Tugas (Satgas) Waspada Investasi Ilegal, Tongam Lumban Tobing, menyatakan bahwa ada banyak ciri-ciri investasi bodong, salah satunya menjanjikan untung yang cepat.

“Menjanjikan untung cepat dan besar. Misalnya investasi forex emas 7 hari dapat untung 30 persen, mana ada investasi yang begitu,” ujar Tongam seperti ditulis Sabtu (6/4/2020).

Selain itu, investasi abal-abal biasanya akan menyuruh korban untuk mencari member lain supaya dapat bonus, atau yang dikenal dengan MLM (Multi Level Marketing). Dari 47 investasi ilegal yang ditutup Satgas, sebagian besar di antaranya berskema MLM.

Sementara, ciri lainnya adalah legalitas lembaga tidak jelas dan investasi cenderung memanfaatkan tokoh publik untuk menarik perhatian.

“Mereka (pelaku investasi) memanfaatkan tokoh agama, tokoh masyarakat supaya orang-orang percaya dan berinvestasi di sana,” ujarnya.

Hati-Hati! Ini Daftar 73 Investasi Bodong yang Dilarang OJK

Liputan6.com, Jakarta – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengeluarkan daftar 73 kegiatan usaha yang diduga melakukan kegiatan usaha tanpa izin dari pihak berwenang dan berpotensi merugikan masyarakat.

Aktivitas 73 perusahaan investasi ilegal ini telah diberhentikan oleh tim Satuan Tugas Penanganan Dugaan Tindakan Melawan Hukum di Bidang Penghimpunan Dana Masyarakat dan Pengelolaan Investasi atau Satgas Waspada Investasi.

Ketua Satgas Waspada Investasi, Tongam L.Tobing mengimbau agar masyarakat untuk terus berhati-hati mengingat semakin banyaknya perusahaan investasi ilegal.

Adapun 73 perusahaan investasi ilegal yang telah Satgas Waspada Investasi hentikan terdiri dari beberapa jenis, berikut merupakan perinciannya:

• 64 Trading Forex tanpa izin

• 5 Investasi uang tanpa izin

• 2 Multi Level Marketing tanpa izin

• 1 Investasi Perkebunan

• 1 Investasi Cryptocurrency.

Mau tahu mana saja penyelenggara penawaran investasi ilegal tersebut? Berikut daftarnya dari keterangan tertulis OJK, Minggu (28/4/2020):

Namanya Ada di Daftar Investasi Bodong OJK, Ini Bantahan QNet

Liputan6.com, Jakarta Otoritas Jasa Keuangan merilis 80 perusahaan investasi bodong akhir bulan lalu. Salah satu nama dalam daftar adalah perusahaan QNet International. Menyikapi hal ini, PT QN International Indonesia yang lebih dikenal sebagai QNet Indonesia memohon klarifikasi dari OJK terkait rilis tersebut.

General Manager QNet Indonesia, bangun Simbolon mengatakan, pada 7 Februari 2020, OJK akhirnya mengeluarkan surat klarifikasi yang menyatakan bahwa nama QNet yang dicantumkan dalam rilis OJK bukan QNet Indonesia.

Dia mengatakan, QNet Indonesia adalah perusahaan direct selling di Indonesia memiliki izin dan legalitas resmi, salah satu yang terpenting adalah QNet di Indonesia mengantongi Surat Izin Usaha Penjualan Langsung (SIUPL) Nomor 3/1/SIUPLT/PMA/PERDAGANGAN/2020 dan sudah terdaftarnya QNet di Asosiasi Penjualan Langsung Indonesia (APLI) sejak tahun 2020 dengan nomor keanggotaan QNET 0167/06/15.

Ditegaskannya, sebagai perusahaan yang tidak bergerak di bidang investasi atau pengelolaan dana masyarakat, QNet di Indonesia yang berdomisili di Jakarta, Surabaya dan Bali memang tidak diwajibkan melapor ke OJK.

“Masyarakat harus memahami bahwa perusahaan penjualan langsung bukan perusahaan investasi. Para member atau Independen Representative (IR) mendapatkan komisi setiap adanya penjualan produk. Lagipula, produk-produk kesehatan yang dipasarkan oleh QNET pun terdaftar di BPOM serta Kementrian Kesehatan. Kami juga memiliki produk lain seperti produk gaya hidup, perhiasan, jam, liburan dan pendidikan,” kata Bangun dalam keterangannya.

Dia mengatakan, untuk mengedukasi masyarakat dalam membedakan perusahaan investasi bodong dan tidak, pada tanggal 3 Agustus 2020 lalu, QNET turut serta mendukung penandatanganan Perjanjian Kerjasama dengan Satuan Tugas Waspada Investasi (SWI) melalui Direktur PT QN International Indonesia, yaitu Ina H. Rachman.

Di acara tersebut, QNet memberikan informasi mengenai pentingnya mengetahui wawasan bagaimana mengetahui perusahaan yang berpraktik illegal dalam mendistribusikan barang. QNet memiliki misi yang sama dengan lembaga pemerintah dalam hal ini OJK untuk mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya berbisnis pada perusahaan yang resmi dan legal.

Seperti diketahui, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebut, ada 80 perusahaan investasi tanpa izin yang jelas alias bodong di seluruh Indonesia dalam empat tahun terakhir. Jumlah ini termasuk sekitar 40 perusahaan investasi ilegal di 2020.

Anggota Dewan Komisioner Bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen OJK, Kusumaningtuti S. Soetiono mengatakan, sebanyak 80 perusahaan sudah dipastikan merupakan perusahaan yang menghimpun dana atau investasi tanpa menggenggam izin yang jelas alias bodong. Investasi ilegal marak di daerah, tapi paling banyak di Jakarta.

“Ada 80 perusahaan yang benar-benar tidak jelas izinnya di periode 2020. ‎Ini daftarnya sudah kami upload di Investor Alert Portal (IAP) supaya memudahkan masyarakat,” jelas dia saat Konferensi Pers di Gedung Bank Indonesia (BI)

Peringkat broker opsi biner:
Tempat berinvestasi
Tinggalkan Balasan

;-) :| :x :twisted: :smile: :shock: :sad: :roll: :razz: :oops: :o :mrgreen: :lol: :idea: :grin: :evil: :cry: :cool: :arrow: :???: :?: :!: