Etf Sistem Perdagangan Titik Kritis

Peringkat broker opsi biner:

Asimtot’s Blog

Keberadaan Maksimum dan Minimum dan Titik Kritis

Suatu hal yang sudah umum pada suatu persamaan kuadrat. Ketika dulu masih SMA kelas 10 diberikan rumus untuk mencari nilai maksimum dan nilai minimum suatu fungsi kuadrat. rumus yang berhubungan dengan persamaan kuadrat. tentunya sekarang akan diberikan rumus yang lebih komplit. Karena bukan hanya pada persamaan kuadrat, bahkan cara ini juga bisa digunakan untuk persamaan dengan pangkat berapapun. Yaitu dengan menggunakan turunan.

Pada suatu kurva di dalam suatu selang tertutup, maka di sana akan terdapat nilai maksimum atau nilai minimum.

Jika f kontinu pada selang tutup maka f mencapai nilai maksimum dan minimum di sana

Keberadaan minimum dan maksimum pasti ada pada suatu selang tertutup. Ini sangatlah jelas, apalagi kurva yang ada di dalamnya adalah kurva naik atau kurva turun. Untuk kurva yang datar, di semua titik adalah maksimum dan minimum. Suatu hal yang baru untuk kita.

Titik Kritis. Adalah titik dimana pada titik tersebut sangat membantu untuk membatasi suatu turunan. Andaikan f terdiferensiasikan pada selang I yang memuat titik c. Jika adalah nilai ekstrim, maka c haruslah berupa suatu titik kritis, yakni c berupa salah satu

1.Titik ujung dari

2.Titik stasioner dari

3.Titik singular dari tidak ada

Peringkat broker opsi biner:

Contoh : Carilah titik-titk kritis dari pada

Penyelesaian : Titik-titik ujung adalah dan Untuk mencari titik stasioner kita selesaikan untuk x, diperoleh 0 dan 1. Tidak ada titik-titik singular. Jadi, titik-titik kritis adalah

Commodity Analysis Training Tebu

Latar Belakang
Peluang bisnis perkebunan tebu di Indonesia masih sangat besar untuk dapat dikembangkan, mulai dari hulu (perkebunan) hingga hilir (pengolahan gula). Pusat Data dan Informasi Pertanian (Pusdatin) memproyeksikan pertumbuhan produksi gula Indonesia pada periode tahun 2020-2021 sebesar 0,14% dengan rata-rata produksi sebesar 2,46 juta ton.

Sedangkan proyeksi pertumbuhan konsumsi sebesar 0,93% dengan rata-rata konsumsi mencapai 5,15 juta ton. Peningkatan konsumsi gula yang lebih tinggi dari produksi menyebabkan terjadinya impor untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Untuk mendorong perkembangan perkebunan tebu dan produksi gula, diperlukan dukungan pembiayaan dari perbankan atau lembaga keuangan lainnya. Oleh karena itu diperlukan keterampilan dan wawasan mendalam tentang identifikasi, penilaian dan mitigasi risiko utama pada berbagai titik kritis proses pembiayaan bisnis tebu.

Tujuan
Tujuan pelaksanaan pelatihan ini adalah meningkatkan pengetahuan dan pemahaman peserta terhadap :

  1. Memahami profil bisnis, prospek dan tantangan dalam mengembangkan perkebunan tebu dan pabrik gula.
  2. Memahami karakteristik dan model bisnis perkebunan tebu dan pabrik gula.
  3. Memahami titik kritis pengelolaan dan pembiayaan perkebunan tebu dan pabrik gula.
  4. Memahami risiko dan mitigasi risiko pembiayaan perkebunan tebu dan pabrik gula.
  5. Tips dan trik pembiayaan berkebunan tebu dan pabrik gula.
No Materi Pokok Bahasan
1 Overview Bisnis a. Perkembangan industri
b. Pohon industri tebu
c. Peta penyebaran industri
d. Peluang pembiayaan dan prospek bisnis
e. Lesson learned
2 Kebijakan a. Perdagangan
b. Investasi
c. Perijinan
d. Pengawasan mutu
e. Lingkungan
3 Perkebunan Tebu (On Farm) a. Proses bisnis
b. Model bisnis
c. Standar teknis
d. Pengadaan bahan baku dan kerjasama kemitraan
4 Pengolahan Hasil a. Proses pengolahan tebu
b. Standar mutu gula
c. Manajemen operasional
d. Titik kritis pengolahan hasil
e. Risiko dan mitigasi risiko of farm
5 Pasar dan Pemasaran a. Peluang dan proyeksi pasar
b. Produksi dan konsumsi
c. Perkembangan harga
d. Sistem distribusi
6 Aspek Finansial a. Biaya investasi
b. Biaya modal kerja
c. Analisis keuangan
d. Analisis sensitivitas usaha
7 Model Pembiayaan a. Jumlah kredit yang disarankan
b. Jangka waktu kredit
c. Sistem pembayaran
d. Pola penarikan kredit
e. Pola monitoring kredit
8 Studi Lapang a. Pengenalan tanaman
b. Aktivitas dan kinerja budidaya
c. Menghitung potensi hasil produksi
d. Pengenalan pabrik
e. Pembahasan hasil kunjungan lapang

Metode
Pelatihan disampaikan dalam bentuk pemberian materi oleh instruktur dan diskusi topik (67%), serta kunjungan lapang (33%).

Peserta
Peserta merupakan account officer, analis kredit, risk management, auditor, atau yang menangani perkreditan di perbankan dan lembaga keuangan lainnya.

Pelaksanaan
Pelatihan dilaksanakan secara reguler di Bandung, Yogyakarta dan Malang.

Dr. Ir. Purwono, MS

Bidang Keahlian:

  1. Budidaya tebu, kelapa sawit dan karet
  2. Manajemen produksi tanaman
  3. Analisis risiko on farm kelapa sawit, tebu dan karet

Ir. Triyanto, MM.

Bidang Keahlian:

  1. Sosial Ekonomi Perkebunan
  2. Pendampingan dan Monitoring Perkebunan khususnya Tebu, Kelapa Sawit dan Karet
  3. Petani Kelapa Sawit Swadaya|
  4. Praktisi perkebunan kelapa sawit

TITIK KRITIS KEHALALAN PRODUK ROTI BOLU YANG BANYAK BEREDAR DI PASARAN

TITIK KRITIS KEHALALAN PRODUK ROTI BOLU
YANG BANYAK BEREDAR DI PASARAN

Atika Masrihanah, Niswatul Azizah, dan Uzlifatul Jamilah
Mahasiswa Jurusan Kimia Fakultas Sains dan Teknologi
UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

ABSTRAK
Telah dilakukan penelitian untuk mengetahui titik kritis kehalalan suatu produk roti bolu. Sampel roti dalam penelitian ini adalah roti bolu yang banyak beredar di pasar – pasar tradisional. Metode penelitian kali ini menggunakan metode non-eksperimental dengan model studi analisis dan analisis dilakukan dengan metode deskriptif. dari hasil pengkajian diperoleh cara pembuatan roti bolu adalah Telur dan gula pasir dikocok hingga mengembang. Lalu tepung terigu dimasukkan sambil terus diaduk, susu kental manis dan mentega juga dimasukkan. Terakhir, vanili dimasukkan dalam adonan sambil terus diaduk. Adonan dimasukkan ke cetakan kue bolu, dua sendok makan adonan disisakan kemudian dicampur dengan cokelat. sisa adonan yang sudah dicampur cokelat ditambahkan di bagian atas adonan, dengan cara dibagi ke sekeliling cetakan lalu adonan dipanggang diatas oven selama 30 menit.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat bahan – bahan tertentu yang merupakan titik kritis kehalalan roti bolu yang banyak beredar di pasaran.

PENDAHULUAN
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia membutuhkan berbagai jenis makanan dan minuman guna mempertahankan hidupnya. Seperti yang kita ketahui bersama bahwa jenis makanan dan minuman sekarang semakin beragam, mulai yang terbuat dari bahan nabati maupun bahan hewani. Banyak rumah makan yang menjual produk kuliner, mulai dari jenis makanan tradisional maupun makanan jenis baru hasil inovasi manusia. Munculnya inovasi baru pengembangan makanan banyak dipengaruhi oleh selera konsumen yang semakin beragam dan menginginkan inovasi yang terus menerus.
Disamping memenuhi kebutuhan konsumen yang menginginkan inovasi dalam hal kuliner, inovasi untuk mendapatkan kuliner secara instan dan dengan cara yang mudah tentu merupakan hal yang utama bagi konsumen karena kesibukan konsumen yang semakin meningkat. Hal ini tentu mendorong para produsen untuk terus melakukan inovasi.
Tuntutan pasar yang terus meningkat tentu menjadi ladang usaha bagi para pengusaha untuk memperoleh keuntungan yang sebesar-besarnya. Namun dengan adanya kesempatan ini, selalu saja terdapat oknum-oknum yang kurang bertanggung jawab dalam memanfaatkan kesempatan. Sebagai contohnya adalah seorang produsen yang memproduksi sebuah produk tertentu, namun produk itu dicampur dengan bahan–bahan yang kurang baik atau bisa jadi masuk kategori halal, atau proses pembuatan produk itu tidak memenuhi kaidah-kaidah yang dibenarkan oleh syariat Islam.
Hal ini tentu mendzolimi para konsumen khususnya bagi umat muslim, karena kehalalan suatu produk yang mereka konsumsi masih diragukan. Sebab bahan dan proses pembuatan yang digunakan dalam proses produksi tidak diketahui secara benar, bahkan banyak juga oknum-oknum yang memproduksi suatu produk secara sembunyi-sembunyi.
Dengan adanya kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi dikemudian hari, maka diperlukan sebuah sistem yang dapat melindungi konsumen dari produk yang tidak halal dan melindungi produsen dari anggapan bahwa produk yang mereka produksi tidak baik untuk dikonsumsi. Oleh karena itu, badan Majelis Ulama Indonesia (MUI) menerbitkan sistem sertifkasi halal yang digunakan sebagai standart untuk sebuah produk halal dan baik untuk dikonsumsi.
Sertifikat halal merupakan fatwa tertulis Majelis Ulama Indonesia yang menyatakan kehalalan suatu produk. Sertifikat halal selain sebagai perlindungan konsumen dari berbagai macam makanan yang dianggap tidak layak sesuai syari’at Islam khususnya Indonesia yang mayoritas beragama Islam, juga mendorong kompetisi dan menjadi keunggulan. Sertifikat halal saat ini menjadi salah satu poin untuk daya saing di perdagangan Internasional.
Untuk mendapatkan sertifikat halal dari Majelis Ulama Indonesia tentu produsen perlu melalui berbagai prosedur sesuai dengan pengarahan Majelis Ulama Indonesia. Sebelum mendapatkan sertifikat halal, segala hal mengenai sebuah produk harus diuji secara teliti dan mendalam. Baik dari segi bahan dasar, bahan tambahan, maupun proses produksi suatu prosuk tertentu. Salah satu tolak ukur yang menjadi pertimbangan kehalalan suatu produk adalah titik kritis kehalalan produk.
Menurut Sopa, titik kritis kehalalan adalah menelusuri asal-usul bahan dan proses pembuatannya kemudian dikonsultasikan dengan kaidah-kaidah hukum Islam yang berkaitan dengan kehalalan pangan. Apabila bersesuaian, berarti halal, bila tidak berarti diragukan. Lalu dilakukan verifikasi terhadap hal yang diragukan tersebut. Penentuan titik kritis dalam proses sertifikasi produk halal berfungsi mencegah terjadinya kesalahan dan penyimpangan dalam proses produksi halal. Titik kritis ini mengacu pada pedoman halal yang telah dibuat, yang mencakup bahan-bahan yang digunakan untuk produksi, serta tahapan proses yang mungkin berpengaruh terhadap keharaman produk. Untuk menentukan titik-titik kendali kritis, harus dibuat dan diverifikasi bagan alur bahan, yang selanjutnya diikuti dengan analisa terhadap tahapan yang berpeluang untuk terkena kontaminasi bahan yang menyebabkan haram.
Dengan banyaknya problem yang muncul terutama dalam hal halal dan haram suatu produk makanan dan minuman yang diproduksi dengan bahan atau cara produksi yang tidak sesuai kaidah kehalalan suatu produk, maka dengan ini kami selaku mahasiswa berupaya untuk melakukan penelitian dengan menerapkan kaidah titik kritis kehalalan produk dan pada kesempatan ini kami menggunakan roti bolu sebagai sampel. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui titik kritis kehalalan produk bolu pasar.

METODE PENDEKATAN
Penelitian kali ini dilakukan dengan metode non-eksperimental dengan model studi analisis dan dianalisis dengan metode analisis deskriptif. Dan berikut ini akan dijelaskan bahan-bahan dan cara pembuatan roti bolu sebagai berikut :
a. Bahan:
Adapun bahan – bahan yang diperlukan pada pembuatan roti bolu adalah sebagai berikut :
1) Telur ayam 7 butir
2) Tepung terigu 2 ons
3) Gula pasir kasar 2 ons
4) Mentega 2 sdm
5) Susu kental manis 3 sdm
6) Vanili secukupnya
7) Cokelat 2 sdms

b. Cara membuat:
Adapun cara pembuatan roti bolu adalah sebagai berikut :
1) Telur dan gula pasir dikocok hingga mengembang.
2) Tepung terigu dimasukkan sambil terus diaduk.
3) Susu kental manis dan mentega juga dimasukkan.
4) Terakhir, vanili dimasukkan dalam adonan, sambil terus diaduk.
5) Adonan dimasukkan ke cetakan kue bolu, dan dua sendok makan adonan disisakan kemudian dicampur dengan cokelat.
6) Setelah adonan dimasukkan semua ke dalam cetakan, sisa adonan yang sudah dicampur cokelat ditambahkan di bagian atas adonan, dengan cara dibagi ke sekeliling cetakan.
7) Adonan dipanggang diatas oven selama 30 menit.
8) Kue bolu siap dihidangkan. (Muhlisah,2000: 36)

PEMBAHASAN
Roti bolu merupakan salah satu roti yang banyak digemari oleh masyarakat umum, baik dari kalangan anak-anak, remaja, maupun orang tua. Orang kalangan bawah, kalangan menengah, maupun kalangan atas. Hal ini dikarenakan jenis-jenis bolu yang semakin banyak dan banyak mengalami inovasi. Terutama jenis – jenis toppingnya yang semakin beragam dan tentunya semakin menarik minat para konsumen. Meskipun bolu termasuk salah satu makanan yang digemari, namun roti bolu juga memiliki beberapa bahan yang memiliki titik kritis kehalalan. Dan berikut ini akan dijelaskan bahan – bahan yang merupakan titik kritis kehalalan bahan baku roti bolu :
1. Tepung Terigu
Tepung terihu merupakan salah satu bahan utama produk bakery dan kue. Secara garis besar, ada dua jenis tepung gandum yaitu tepung gandum keras (strong flour) dan tepung gandum lunak (soft flour). Tepung gandum keras biasanya digunakan untuk membuat roti dan produk-produk yang dibuat dengan melibatkan proses fermentasi serta puff pastry. Tepung terigu lunak biasanya digunakan untuk membuat biskuit dan kue.
Salah satu bahan aditif/tambahan pada pembuatan tepung gandum yaitu L-sistein. Fungsinya sebagai improving agent (meningkatkan sifat-sifat tepung gandum yang diinginkan). Ia dapat melembutkan gluten (protein utama gandum yang berperan dalam pengembangan adonan yang dibuat dari tepung gandum), sehingga adonan tepung lebih lembut, sistein juga mengembangkan adonan. L-sistein murah yang banyak tersedia di pasaran adalah L-sistein yang dibuat dari rambut manusia, khususnya produk dari Cina. Dan MUI telah memutuskan, bahan semacam ini haram hukumnya bagi umat Islam. L-sistein dari bulu unggas pun masih dipertanyakan kehalalannya. Jika diperoleh pada waktu hewan masih hidup, maka bisa jadi tidak diperbolehkan. Jika diperoleh dari hewan mati, tentu proses penyembelihannya pun masih dipertanyakan.
Untungnya sekarang sudah ada L-sistein yang diproduksi secara fermentasi dan boleh digunakan. Memang, harganya lebih mahal (tidak ekonomis). Namun, hampir semua tepung terigu lokal telah mendapatkan sertifikat halal. Ada pula bahan aditif tepung terigu dengan maksud untuk memperkaya nilai gizinya, biasanya mineral dan vitamin. Agar vitamin A mudah larut dalam produk pangan berair (aqueous) dan tidak mudah rusak selama penyimpanan, biasanya ditambahkan penyalut yaitu gelatin.
2. Gelatin
Umumnya, gelatin dipakai sebagai gelling agent (bahan pengental), bahan penegar (penguat), atau untuk topping kue atau es krim. Gelatin pasti berasal dari produk hewani (sapi atau babi). Jika berasal dari babi, maka status hukumnya haram. Sebagai pengganti, bahan lain yang dapat dipakai sebagai pengental adalah : rumput laut (agar-agar), karagenan, pati yang dimodifikasi, gom arab, dan lain-lain.
3. Mentega
Bahan utama pembuatan mentega adalah krim yang memiliki kadar lemak antara 25 – 45%. Krim diperoleh dari susu sapi dengan menggunakan alat separator. Tahap pertama pembuatan mentega adalah standarisasi komposisi krim yang dilanjutkan dengan proses pasteurisasi krim (pasteurisasi adalah proses membunuh mikroorganisme patogen dan sebagian mikroorganisme perusak dengan menggunakan pemanasan). Setelah dipasteurisasi maka krim didinginkan, setelah itu tergantung pada jenis mentega yang akan dibuat, akan ada tiga jalur proses. Proses pertama yaitu fermentasi krim dengan cara menumbuhkan bakteri asam laktat (diantaranya Lactococcus lactis subsp. lactis, Lactococcus lactis subsp. cremoris, Lactococcus lactis subsp. diacetylactis, dan Lactococcus lactis subsp. cremoris bv. citrovorum) pada krim.
Pada jalur kedua krim tidak difermentasi. Baik krim yang sudah difermentasi maupun tidak kemudian dikocok dengan teknik tertentu secara mekanis dalam wadah tertentu sampai terbentuk butiran-butiran lemak mentega dengan diameter sekitar 2 mm. Proses pengocokan ini disebut dengan churning. Dari proses churning selain dihasilkan butiran lemak mentega dengan kadar air sekitar 30% juga susu mentega (buttermilk) yang berupa cairan. Proses churning kemudian dilanjutkan sampai terbentuk mentega dengan kadar air antara 15 – 19% dan kadar lemak 81 – 85%. Setelah itu, mentega yang diperoleh diuleni (kneading) dengan cara diaduk aduk dengan menggunakan suatu alat (lebih baik jika dilakukan dalam keadaan vakum untuk menghindari terperangkapnya udara kedalam mentega), hal ini dilakukan agar terjadi penyeragaman komposisi dan tekstur (kelembutan) mentega yang baik. Selama proses pengulenan ini bisa ditambahkan garam dan pewarna (biasanya annato atau karoten). Setelah mentega jadi kemudian mentega dicetak dan dibungkus atau langsung ditempatkan pada kemasan yang sesuai.
Pada jalur ketiga prosesnya seperti proses jalur kedua akan tetapi setelah butiran mentega jadi (dengan kadar air 13.5 – 14.5%) kemudian ada proses tambahan yaitu fermentasi butiran mentega dimana dalam hal ini sebanyak 3-4% starter (berisi bakteri asam laktat) ditambahkan kedalam butiran mentega. Variasi dari proses ini yaitu menumbuhkan starter pada media yang cocok seperti whey (hasil samping pembuatan keju) atau susu skim, setelah cukup menghasilkan aroma yang diinginkan dilakukan pemisahan dan pemekatan kemudian pekatan aroma ditambahkan kedalam butiran mentega. Proses selanjutnya sama dengan proses pada jalur satu dan dua.
Fermentasi krim maupun mentega dengan menggunakan bakteri asam laktat dimaksudkan untuk menghasilkan mentega dengan aroma yang enak, tercium wangi dan gurih. Mentega yang di pasaran dikenal dengan nama roombotter diduga dibuat dengan melibatkan proses fermentasi. Nama room (rum) disitu tidak ada sangkut pautnya dengan minuman keras rum, nama ini berasal dari bahasa Belanda. Dilihat dari baunya yang wangi dan tajam, mentega Wijsman kemungkinan besar juga dibuat melalui jalur satu atau tiga yang melibatkan fermentasi.
Masalahnya, kehalalan mentega yang dibuat dengan melibatkan proses fermentasi ini diragukan mengingat media tumbuh bakteri asam laktat rawan kehalalannya dan media ini bisa tercampur kedalam mentega. Jika mentega dibuat melalui proses jalur kedua yang tanpa fermentasi maka kehalalannya tidak bermasalah, kecuali jika ditambahkan pewarna karoten karena pewarna karoten biasanya berada dalam suatu carrier (penyalut), salah satu bahan yang bisa digunakan sebagai carrier adalah gelatin (bisa terbuat dari babi, sapi atau ikan).

4. Cokelat
Dalam proses pembuatan cokelat batangan dari buah cokelat segar kadang dibutuhkan emulsifier. Emulsifier dapat berasal dari lesitin nabati (dari biji kedelai, bunga matahari, jagung, dll.) maupun dari produk hewani. Adakalanya lesitin hewani dibuat secara enzimatis menggunakan enzim Phospholipase A2 yang bisa berasal dari pankreas babi.

5. Emulsifier
Emulsifier adalah bahan yang dipakai agar bahan-bahan yang berkadar lemak tinggi dapat bercampur dengan air ketika dibuat adonan. Beberapa macam emulsifier juga dapat dipakai sebagai stabilizer (penstabil) adonan roti. Ada beberapa jenis emulsifier yang lazim dipakai di pasaran, seperti : lesitin, lesitin kedelai (soya/soy lechitine), dan emulsifier lain yang menggunakan kode E-number. Lesitin bersifat syubhat karena bisa berasal dari bahan nabati maupun hewani (sapi, babi, dll). Lesitin kedelai halal karena berasal dari bahan nabati. Hati-hati dengan E-number, karena beberapa emulsifier (seperti : E471, E472, dll.) ada yang menggunakan bahan dari babi.

KESIMPULAN
Dari penelitian yang telah dilakukan melalui metode studi analisis, diperoleh kesimpulan bahwa roti bolu dapat dibuat dari beberapa bahan baku yang memiliki titik kritis kehalalan seperti
1. Tepung terigu
Bahan aditif atau tambahan dalam proses pembuatan tepung terigu yaitu L-sistein. Dan titik kritis dari penggunaan L-sistein adalah adanya L-sistein yang dibuat dari rambut manusia dan bahan ini banyak diprosuksi oleh Cina.
2. Gelatin
Gelatin dapat diproduksi dari produk hewani seperti sapi atau babi. Dan titik kritis dari gelatin adalah apabila dibuat dari babi.
3. Mentega
Proses pembuatan mentega melalui proses fermentasi menggunakan bakteri asam laktat. Titik kritis dari mentega adalah media tumbuh bakteri yang rawan kehalalannya.

4. Coklat
Pembuatan coklat membutuhkan emulsifier yang dapat berasal dari lesitin. Titik kritis coklat adalah lesitin hewani dibuat secara enzimatis menggunakan enzim Phospholipase A2 yang bisa berasal dari pankreas babi.
5. Emulsifier
Emulsifier adalah bahan yang dipakai agar bahan-bahan yang berkadar lemak tinggi dapat bercampur dengan air ketika dibuat adonan. Titik kritis emulsifier adalah beberapa diantaranya meggunakan bahan dari babi.

Hasan, KN. Sofyan, “Kepastian Hukum Sertifikasi dan Lebelisasi Halal Produk Pangan,
Jurnal Dinamika Hukum”, Vol. 12 No. 2 Mei 2020, hlm. 228-235.

Peringkat broker opsi biner:
Tempat berinvestasi
Tinggalkan Balasan

;-) :| :x :twisted: :smile: :shock: :sad: :roll: :razz: :oops: :o :mrgreen: :lol: :idea: :grin: :evil: :cry: :cool: :arrow: :???: :?: :!: