Forex Klasik Mudah Indikator Teknikal Bikin Anda Pusing Gunakan cara ini!

Peringkat broker opsi biner:

Cara Mulai Belajar Trading Forex

Dibaca Normal 10 menit

Banyak trader yang salah saat memasuki dunia forex karena langsung terjun tanpa belajar trading forex dengan benar. Lalu, bagaimana cara mulai dengan benar?

Forex atau valas adalah suatu jenis perdagangan atau transaksi yang memperdagangkan jenis mata uang suatu negara terhadap mata uang negara lainnya. Proses perdagangan Forex berjalan selama 24 jam. Di dalam pasar Forex, orang-orang membeli atau menjual mata uang. Prinsip perdagangan cukup mirip dengan pasar lain pada umumnya, yaitu beli di harga rendah dan jual di harga tinggi. Cukup sederhana, bukan?

Tujuan dari perdagangan Forex adalah memperkirakan arah perubahan harga, sehingga Anda bisa memperoleh keuntungan dari selisih nilai jual dan beli. Namun, belajar trading forex tidaklah semudah yang dibayangkan. Hal ini terbukti dari kebanyakan orang yang baru belajar forex akan cepat sekali mengalami kebangkrutan. Oleh karena itu, artikel ini akan memberikan beberapa cara mulai belajar trading yang bisa dikuasai dalam waktu singkat dan benar. Silakan perhatikan langkah-langkahnya:

1. Cara Mulai Belajar Trading Dengan Membuat Akun Demo

Dengan akun demo, para newbie atau trader pemula akan bisa berlatih melakukan trading forex dalam kondisi pasar yang sesungguhnya. Cara mulai belajar trading dengan akun demo sangat direkomendasikan. Tentunya karena dengan memakai akun demo, Anda tidak perlu mengeluarkan uang sepeser pun. Anda juga tidak perlu takut kehilangan uang atau modal.

Pada penerapannya, akun demo bisa menjadi sarana efektif untuk menguji sistem trading yang Anda gunakan. Lagipula, Anda juga tidak rugi kalau melakukan kesalahan. Cara membuat akun demo sangat mudah. Anda hanya tinggal melakukan registrasi di broker forex yang tersedia untuk membuka akun demo.

2. Download Metatrader

Setelah mendaftar akun demo, cara mulai belajar trading berikutnya adalah mendownload platform trading. Metatrader merupakan platform yang memungkinkan Anda untuk bertrading forex secara online. Semua broker forex menyediakan MetaTrader yang bisa diunduh dan di-install secara praktis. Dengan menggunakan MetaTrader, maka trading forex akan bisa dilakukan dengan lebih mudah dan cepat. Software ini juga dilengkapi dengan sejumlah tools dan fasilitas yang canggih untuk mempermudah trader melakukan analisa.

Ada 2 cara mendapatkan Metatrader, yakni:

  1. Melalui broker forex.
  2. Melalui provider-nya, yakni MetaQuotes.

Untuk jenis Metatrader yang bisa Anda gunakan ada dua, yakni Metatrader 4 dan Metatrader 5. Keduanya sebenarnya memiliki tampilan antarmuka yang hampir mirip, tapi MT5 memiliki fitur-fitur dan indikator yang lebih lengkap serta fungsional dibandingkan MT4.

Beberapa broker forex yang menyediakan platform MT4 maupun MT5 antara lain: Broker FBS, Broker XM, Exness, dan lain sebagainya.

Peringkat broker opsi biner:

3. Mengetahui Waktu Bertrading Forex

Anda tidak perlu khawatir kesulitan masuk dalam trading di malam hari atau pagi hari. Pasalnya perdagangan forex bisa dilakukan 24 jam sehari, selama 5 hari dalam seminggu. Ini berarti, peluang untuk mendapatkan keuntungan bisa didapatkan kapan saja, tanpa perlu cemas bertabrakan dengan jam kerja kantor atau waktu bersama keluarga. Namun, di sini yang perlu Anda perhatikan adalah waktu trading forex terbagi menjadi beberapa sesi, yakni Sesi Sydney (Australia), Sesi Tokyo (Asia), Sesi London (Eropa), Sesi New York (Amerika).

Pertanyaanya, kapan waktu yang terbaik untuk masuk atau bertrading forex? Ada 3 cara yang bisa Anda lakukan.

  • Pertama, Anda bisa menentukannya melalui gaya trading yang digunakan. Jika bergaya agresif, Anda bisa masuk di trading sesi Overlap Eropa dan Amerika. Kenapa? Karena sesi ini memiliki tingkat volatilitas dan likuiditas yang tinggi, sehingga profitbisa didapatkan lebih cepat. Sementara jika bertipe konservatif (suka main aman), Anda bisa memilih masuk di sesi Asia yang volatilitas dan likuiditasnya lebih rendah. Cara ini bisa diterapkan oleh Full Time Trader yang mendedikasikan waktunya secara penuh untuk trading setiap harinya.
  • Kedua, Anda juga bisa menentukan waktu masuk trading yang disesuaikan dengan kesibukan Anda sehari-hari. Bagi Part Time Trader, atau orang yang memiliki kesibukan lain selain trading (karena bekerja di kantor), Anda bisa masuk pada jam-jam tertentu setelah pulang bekerja. Misal, jika Anda pulang bekerja pada sore hari, Anda bisa masuk trading antara pukul 19:00 s/d 22:00.
  • Ketiga, waktu terbaik untuk trading bisa Anda pilih berdasarkan peluang trading. Di sini, Anda bisa masuk di sesi apapun, bergantung pada pergerakan harga terkini. Misalnya, jika Anda sedang menemukan peluang pada pair EUR/USD dengan situasi fundamental yang mendukung pair tersebut di sesi Eropa, maka Anda bisa masuk ke sesi Eropa. Sebaliknya, jika yang sedang memancarkan sinyal adalah pair lain di sesi Asia, maka Anda juga bisa masuk di sesi tersebut. Karena itu, cara ini lebih cocok bagi Anda yang berkomitmen menjadi Full Time Trader.

Penjelasan di atas bisa Anda pahami dengan lebih cepat dalam infografi berikut:

4. Belajar Memakai Indikator Teknikal

Cara mulai belajar trading selanjutnya adalah mempelajari indikator teknikal. Indikator ini adalah sebuah instrumen penting yang bisa memudahkan Anda untuk melakukan perhitungan matematis terkait harga, volume dan minat pasar dalam trading. Indikator teknikal juga banyak dipakai trader guna memetakan kondisi pasar saat ini dan memprediksi arah pergerakan harga selanjutnya. Dalam penerapannya, indikator ini juga bisa dipakai oleh semua trader, karena dapat diterapkan di semua time frame dan cocok untuk menganalisa semua pair.

Pilihan indikator teknikal yang bisa digunakan ada dua, yaitu tipe Overlay (grafik) dan tipe Oscillator (osilasi). Untuk bisa menggunakan indikator, ada 3 hal yang bisa dilakukan.

  • Pertama, Anda bisa menyesuaikan saja setting indikator teknikal yang sudah tersedia di platform trading. Misal Anda memakai Metatrader, Anda bisa mengacu pada settingan default-nya. Sebaliknya, Anda juga bisa mengubah parameter indikator teknikal tersebut secara manual.
  • Kedua, Anda juga bisa mengkombinasikan beberapa indikator teknikal untuk digunakan. Tapi satu hal yang pasti, Anda harus berhati-hati dalam menumpuk indikator tersebut. Jangan sampai terlalu banyak indikator dipakai, sehingga berimbas pada pergerakan harga tidak bisa dibaca dengan jelas.
  • Ketiga, jangan menerapkan indikator teknikal pada akun riil jika Anda belum paham betul cara kegunaanya. Alangkah baiknya jika Anda memakai pada akun demo sehingga memungkinkan Anda untuk melakukan trial and error atau percobaan kapan saja.

5. Belajar Memakai Indikator Fundamental

Selain Indikator Teknikal, cara mulai belajar trading melalui indikator fundamental juga tidak boleh Anda lupakan. Pada penerapannya, analisa fundamental merupakan cara trader menganalisa pergerakan harga berdasarkan data ekonomi, maupun berita-berita yang menjadi pusat perhatian pelaku pasar.

Beda dengan analisa teknikal yang memantau grafik atau pola candlestick, pada analisa fundamental, trader akan lebih mengamati data-data ekonomi, contohnya jumlah pengangguran, inflasi, dan baik buruknya prospek ekonomi suatu negara. Secara sederhana, jika prospek ekonomi suatu negara bagus, hal tersebut bisa memicu penguatan nilai tukar mata uang negara tersebut. Sebaliknya, jika prospek ekonominya memburuk, maka nilai tukar mata uang negara tersebut akan melemah.

Namun, penafsiran mengenai prospek ekonomi yang berdampak pada mata uang tetap tidak bisa dilakukan se-simple itu. Anda harus memahami bahwa ada banyak faktor yang bermain dalam pergerakan mata uang. Selain itu, rilis data tidak serta merta bisa menggerakkan suatu mata uang, karena pasar juga memperhatikan gambaran besar dari situasi fundamental mata uang yang bersangkutan. Untuk mendapatkan tips trading dengan analisa fundamental, Anda bisa berkunjung ke artikel Cara Benar Menganalisis Fundamental.

6. Belajar Menganalisa Candlestick

Cara mulai belajar trading yang tak kalah pentingnya yakni belajar menganalisa candlestick. Banyak pemula yang masih bingung dalam menerapkan analisa candlestick ini, dan apa dampaknya terhadap pengambilan keputusan trading. Candlestick sendiri merupakan salah satu jenis grafik harga (chart) berbentuk menyerupai lilin, yang dipakai untuk membaca pergerakan harga di pasar forex.

Tubuh candlestick terdiri atas dua bagian, yakni bagian tengah berbentuk persegi panjang (body) dan garis tipis yang membentang di atas dan bawahnya (shadow). Salah satu hal yang perlu diperhatikan saat menganalisa candlestick adalah melihat body dari candlestick tersebut. Jika body-nya berwarna merah, maka itu mengindikasikan bearish. Sementara, jika body-nya berwarna hijau, berarti mengindikasikan bullish. Dari sini bisa dilihat bagaimana sebuah candlestick bisa memberikan informasi penting yang dapat dipakai untuk menganalisa pasar.

7. Lakukan Transaksi Buy Dan Sell Yang Anda Yakini Bisa Profit

Kesalahan dalam melakukan open posisi (buy atau sell) bisa berimbas bahaya pada akun trading kita. Dengan pemahaman yang baik tentang buy dan sell, maka keputusan yang diambil dalam trading akan bisa lebih terarah. Ada beberapa metode yang bisa diterapkan untuk melakukan open posisi, salah satunya adalah follow the trend, trend is your friend (ikutilah trend, karena trend adalah temanmu). Di sini yang bisa Anda lakukan adalah mengidentifikasi trend yang sedang berlangsung, baik itu secara fundamental atau teknikal. Kemudian tentukan apakah Anda akan meng-hold posisi dalam jangka panjang atau sebaliknya.

Sebagai informasi tambahan, berbagai indikator seperti Parabolic SAR dan Moving Average juga bisa Anda pakai untuk mengidentifikasi trend yang sedang berlangsung.

8. Mampu Menerapkan Manajemen Risiko Dengan Baik

Tidak bisa dipungkiri bahwa trading merupakan jenis investasi yang bersifat high risk, high return. Anda bisa mendapatkan keuntungan yang besar, tapi juga bisa memperoleh kerugian besar. Oleh karena itu, cara memulai belajar trading dengan melakukan manajemen risiko adalah hal yang sangat penting. Seorang trader harus bisa memperhitungkan kerugian potensial yang bisa terjadi, dan mengaturnya untuk mendapat keuntungan.

Dengan adanya penerapan risk management yang baik, akun Anda akan bisa terselamatkan dari Margin Call, bahkan Loss/Drawdown yang fatal. Artinya, manajemen risiko merupakan elemen yang terpenting dalam trading untuk menghindarkan akun Anda dari kehancuran.

Pada penerapannya, risk management bisa Anda lakukan dengan cara menentukan batas persentase risiko yang tepat per trading. Batas toleransi risiko itu pun bermacam-macam. Ada trader yang menetapkan toleransi risiko 2%-5%. Tapi ada juga yang hanya 1% saja per trading. Semakin besar toleransi risiko yang Anda pasang, maka Anda memerlukan persentase profit yang lebih besar pula untuk bisa kembali ke kondisi semula atau breakeven. Karena itulah, banyak trader berpengalaman yang merekomendasikan agar risiko per trade tidak lebih dari 2% Balance akun Anda saat ini.

Kesimpulan

Itulah cara mulai belajar trading yang bisa Anda terapkan. Kesimpulannya, pelajari teorinya secara sedikit demi sedikit dan bertahap, kemudian perbanyak melakukan praktek dengan menggunakan akun demo. Setelah itu pelajari setiap detail hasil yang bisa Anda dapatkan. Seiring dengan trial and error yang dilakukan, pengalaman dan pembelajaran yang Anda peroleh akan semakin bertambah. Pada akhirnya strategi trading yang cocok dengan karakter Anda pun akan terbentuk dengan sendirinya.

Selain belajar memulai trading forex dengan cara di atas, Anda juga bisa belajar cara trading melalui trader forex profesional asal Jepang, Yukiko Ikebe. Selengkapnya bisa Anda baca melalui artikel Belajar Forex Dari Yukiko Ikebe, Trader IRT Legendaris Jepang.

Apa itu Analisis Teknikal Saham, dan Bagaimana Cara Melakukannya?

Selain analisis fundamental, ada juga analisis teknikal saham. Analisis ini juga digunakan untuk menjadi acuan kita dalam memilih saham.

Secara umum, analisis teknikal gak cuma berlaku untuk saham melainkan instrumen lain. Sebut saja seperti forex atau komoditas.

Jika analisis fundamental titik beratnya ada di kondisi ekonomi (makro mikro), siklus industri dan keuangan perusahaan, serta persaingan usaha, maka data dari analisis teknikal benar-benar jauh berbeda. Ingin tahu lebih lanjut? Mari kita bahas.

Apa itu analisis teknikal saham?

Secara sederhana, analisis teknikal adalah teknis analisis yang ditujukan untuk mengamati pola-pola seperti data pasar, harga saham, dan volume transaksi saham. Artinya, bukan melihat hal-hal yang berkaitan dengan kondisi ekonomi, kesehatan keuangan perusahaan, serta prospek bisnis ke depan.

Apakah analisis ini bersifat spekulatif? Tentu saja tidak. Spekulasi adalah tebak-tebakan, namun analisis teknikal tentu ada datanya.

Tujuan dari analisis teknikal itu sendiri berbeda dengan analisis fundamental. Biar lebih jelasnya kita akan cek bahasannya di bawah ini.

Apa beda analisis fundamental dan teknikal?

Terdapat beberapa perbedaan antara analisis fundamental dan teknikal yang wajib diketahui investor atau mereka yang baru ingin terjun ke investasi saham. Untuk lebih mudahnya silahkan lihat dalam tabel berikut ini.

Analisis fundamental saham Analisis teknikal saham
Data yang dibutuhkan Data kondisi dan pertumbuhan ekonomi, perkembangan industri, dan data umum perusahaan Harga saham, volume transaksi, pergerakan indeks saham, indikator teknikal lainnya
Tujuan Menentukan apa saham yang harus dibeli Menentukan kapan kamu melakukan pembelian
Jangka waktu Menengah hingga jangka panjang Jangka waktu pendek

Sudah jelas kan beda analisis fundamental dan teknikal. Sejatinya, analisis teknikal lebih sering digunakan oleh para trader saham yang memandang saham layaknya sebuah komoditas.

Mereka akan membeli saham tersebut saat harganya mengalami koreksi dan menjualnya saat rebound. Jika harga saham itu turun lagi, maka mereka akan terus memantau hingga pada titik tertentu, mereka akan membeli saham itu kembali dan menjualnya.

Intinya, ambil untung dalam jangka waktu pendek saja atau hit and run.

Meski demikian, investor juga sering kok menggunakan analisis teknikal untuk memaksimalkan keuntungan mereka. Tertarik mempelajari analisis ini? Ketahui dulu beberapa asumsi yang mendasari dari analisis ini.

Asumsi dasar analisis teknikal saham

Sederhana saja, asumsi dasar dari analisis ini adalah apapun yang mempengaruhi pergerakan pasar sudah tercermin dalam riwayat pergerakan pasar sebelumnya. Beberapa asumsi yang mendasari analisis ini adalah.

Data pasar

Yang dimaksud data pasar adalah semua informasi yang didapat dari segala transaksi yang ada di BEI. Beberapa komponen yang ada di dalam data pasar ini tentunya adalah:

Harga saham

Tren pergerakan harga saham dari sebuah emiten dalam jangka waktu tertentu. Misalkan, harga saham BBRI pada tanggal 16 April 2020 adalah 2750, harga ini bisa bergerak naik turun sesuai dengan posisi demand dan supply yang ada di pasar.

Volume transaksi

Data ini akan menyebutkan berapa jumlah lembar saham pada harga tertentu dan pada hari tertentu. Misalkan, telah terjadi transaksi sebanyak 2 juta lembar atas saham BNLI (PT Bank Permata Tbk) di harga Rp 1.200 per lembar (Senin, 13 April 2020).

Asumsi yang satu ini menjelaskan bahwa pergerakan harga saham tidak asal naik turun. Melainkan ada pola atau tren yang akan berlangsung sampai akhirnya berbalik arah.

Arah tren itu sendiri dibagi tiga. Ada tren naik, tren turun, dan ada juga sideways (gak naik dan gak turun karena masih mencari pergerakan harga baru).

Dari pergerakan ini, akan muncul beberapa keputusan. Apakah itu buy (beli), sell (jual), atau wait and see (tunggu).

Dalam buku berjudul The Dow Theory yang dijelaskan oleh Charles H. Dow, tren justru dikelompokkan menjadi tiga yaitu:

Primary Trend : Pergerakan harga dalam jangka waktu lama

Secondary Trend : Pergerakan harga “yang terjadi selama pergerakan harga primary trend.”

Minor trend : fluktuasi harga setiap hari

Nah istilah bull dan bear market itu sendiri bisa digunakan untuk menggambarkan primary trend.

Sejarah akan terulang

Nah, ini bukan sebatas asumsi lho. Ini sudah pernah terjadi! Para pengabdi analisis teknikal saham yakin bahwa pola atau tren harga saham itu akan terulang lagi dari masa ke masa.

Meski harga sahamnya sudah naik atau sebaliknya, tapi polanya fluktuasi yang sama bisa terjadi. Itu sebabnya, mereka yang sering menggunakan analisis ini sering mengeluarkan prediksi-prediksi soal kenaikan atau penurunan harga di masa yang akan datang.

Sekali lagi, prediksi ini bukan tebak-tebakan melainkan ada datanya.

Yang harus dipahami dalam analisis teknikal

Selain tren, maka ada dua hal utama yang wajib kamu ketahui dan pahami baik-baik dalam analisis teknikal. Apa saja kah itu?

Chart atau grafik

Jangan keder, pusing, atau langsung menyerah ketika dihadapkan dengan chart atau grafik ini. Buat investor awam, terutama yang gak pernah belajar statistik waktu kuliah, tentu saja grafik ini bisa bikin kepala pusing.

Untungnya grafik harga saham itu sendiri sudah tersedia di berbagai situs. Dua situs yang kerap digunakan investor untuk memantau grafik adalah RTI atau Yahoo Finance, atau bisa juga di aplikasi tradingmu.

Support dan resistance

Istilah ini seringkali dibahas oleh para analis, apa sih garis support dan resistance itu? Gampangnya, ini adalah level di mana saham bakal memantul. Biar lebih mudah silahkan lihat gambar grafik di atas ya.

Support adalah titik terendah harga saham pada suatu masa. Jika harga saham sudah memasuki titik support maka ada kemungkinan besar dia akan memantul ke atas dan kembali naik.

Tapi bisa juga ambyar (makin turun) menembus garis support , hingga menemukan titik support baru.

Sementara itu resistance adalah kebalikan dari support . Ketika mencapai titik resistance , saham umumnya bakal terkoreksi (mantul ke bawah), tapi jika harganya terus naik maka dia akan mengalami breakout hingga menemukan titik resistance selanjutnya.

Biar lebih gampangnya, coba saja cek harga sebuah saham dalam tiga bulan. Setelah itu cari harga terendah dalam periode terdekat dan harga tertingginya.

Harga terendah akan menjadi support pertama, dan yang tertinggi menjadi resistance pertama.

Indikator analisis teknikal

Indikator bisa dikatakan sebagai formula yang bisa kamu gunakan untuk memberikan sinyal beli, jual, atau tahan dari saham yang kamu pegang atau amati. Sejatinya, indikator di analisis teknikal ini luar biasa banyak.

Namun kita akan bahas tiga indikator yang umum digunakan oleh para analis. Tiga indikator ini terbilang mudah dimengerti buat para pemula.

Moving average

Moving average alias MA adalah sebuah indikator teknikal yang digunakan untuk menganalisis pergerakan harga rata-rata sebuah saham (saat penutupan perdagangan), dalam hitungan beberapa periode sebelumnya.

Rumus menghitung moving average itu cukup sederhana. Misalkan:

Harga saham PT ABC pada tanggal 1 hingga 1, 2, 3, 4, 5, 8, 9, 10, 11, 12 ditutup di harga 100, 102, 102, 100, 104, 106, 104, 108, 110, 106. Maka, berapa rata-rata harga saham PT ABC dalam rentang lima hari (MA5)?

MA5 pertama: (100 + 102 + 102 + 100 + 104) : 5 = 101,6

MA5 kedua : (102 + 100 + 104 + 106 + 104) : 5 = 103,2

Perhitungan ini sejatinya gak bakal terpakai saat kamu melakukan analisis lewat grafik, karena perhitungannya sudah tersedia. Hal yang patut kamu perhatikan adalah “garis MA-nya.”

MA 10, 30, 200

Dalam indikator analisis teknikal moving average , para pakar sering menggunakan teknik analisis ini karena sangat mudah, praktis, dan sederhana. Pada intinya, kita akan membandingkan pergerakan harga saham ini secara 10 hari, 30 hari, dan 200 hari.

Analisis grafik ini bisa digunakan untuk menentukan “apakah harga saham ini bakal naik, atau malah sebaliknya.”

Mau tahu gimana caranya? Mari lihat grafik harian harga saham TLKM di bawah ini.

Analisa MA 10, 30, 200 di saham TLKM. (Yahoo Finance)

Grafik harga: garis biru

MA10: garis ungu

MA30: garis kuning

MA200: garis merah

MA10 dan MA30 menunjukkan sebuah fluktuasi harga, sementara itu MA200 menunjukkan apakah saham ini bull atau bear .

Jika garis MA10 (ungu) berada di atas MA30 (kuning) maka peluang harga naik cukup besar. Ditambah lagi, gap antara MA10 dan MA200 juga masih jauh.

Dalam saham TLKM yang tertera di grafik atas, gap antara MA10 dan MA30 gak terlalu jauh. Jika MA10 menembus MA30 ke atas (pukul 1.53), maka akan terjadi golden cross di mana harga saham TLKM naik. Namun jika MA10 turun menembus MA30 seperti yang terjadi pada pukul 2:47, itu adalah fenomena dead cross yang menyebabkan saham turun.

Moving Average Convergence Divergence

Ini juga sebenarnya merupakan analisis pergerakan harga saham rata-rata yang pas buat trading jangka pendek. Indikator ini digunakan untuk mengetahui adanya sinyal beli atau jual dengan melihat hubungan MA jangka panjang dan pendek seperti yang tertera di atas.

Mari lihat grafik selanjutnya di bawah ini.

Perhatikan garis hitam dan merah di bawah (Yahoo Finance)

Coba kamu lihat adanya indikator kedua yang terletak di atas indikator jam, itulah indikator MACD. Garis MACD merupakan garis berwarna pink, sementara itu garis sinyal adalah yang berwarna hitam.

Ketika MACD menembus garis sinyal ke atas ( cross up ) maka akan muncul sinyal beli. Sementar itu jika menembus ke bawah ( cross down ) akan muncul sinyal jual. Perhatikan juga histogram yang berwarna merah dan hijau di bawah ya. Bar histogram juga bisa menjadi sinyal apakah harga saham ini bakal naik atau turun.

Gampangnya, makin pendek histogram maka gap antara MACD dan Sinyal makin dekat.

Stochastic

Selain dua indikator tadi, ada pula indikator stochastic. Mari lihat gambar grafiknya di bawah sini.

Perhatikan garis hitam dan merah di bawah (Yahoo Finance)

Perhatikan garis merah dan hitam yang saling beradu di bawah. Kedua garis itu akan terus bergerak sesuai dengan fluktuasi harga saham.

Terdapat pula angka 80 di bagian kanan. Area 80 ke atas menunjukkan saham ini sudah overbought, sementara itu angka 20 ke bawah (yang terututpi angka 9) adalah area oversold .

Ketika grafik sudah memasuki area oversold , maka itu diartikan saham ini sudah jenuh jual. Maka harganya kemungkinan bakal berbalik arah ke atas.

Sementara itu ketika memasuki overbought , maka harga cenderung akan menurun. Tentu aja paling seru kalau beli saat oversold, dan jualnya pas overbought.

Jika analisis ini digabung dengan analisa support dan resistance , maka hasilnya bisa lumayan powerful lho.

Tips analisis Teknial

Begitulah penjelasan singkat mengenai analisis teknikal saham. Intinya, analisis ini punya indikator yang luar biasa banyak, bahkan lebih banyak ketimbang analisis fundamental.

Tiga indikator di atas adalah indikator yang mudah dipahami buat pemula. Masih ada indikator lain seperti BollingerBand, Parabolic SAR, dan lain sebagainya.

Analisis yang satu ini memang terlihat cukup melelahkan. Tapi sejatinya, apapun di dunia ini masih bisa dipelajari kok asal ada kemauan. Berikut adalah tips analisis teknikal yang harus kamu terapkan.

1. Sering-sering coba mencari garis support dan resistance

Untuk membiasakan diri melakukan analisis ini, sering-sering deh mencari garis support dan resistance pergerakan saham. Kalau lagi iseng dan gak ada kerjaan, coba saja cari garis ini, setidaknya kamu bakal ada gambaran untuk harga saham yang paling murah, dan yang tertinggi.

Ketika kamu sudah terbiasa, maka analisis selanjutnya gak bakal sulit dilakukan kok.

2. Kuasai dua sampai tiga indikator dulu

Kuasailah dua atau tiga indikator dalam analisis teknikal terlebih dulu. Gak usah banyak-banyak, nanti pusing.

Ingat apa kata Bruce Lee, “Aku lebih takut pada orang yang melatih satu tendangan 1.000 kali ketimbang mereka yang melatih 1.000 tendangan tapi cuma satu kali.” Intinya belajar itu yang mudah-mudah dulu, setelah kamu pahami baik-baik barulah untuk mempelajari yang lain.

3. Jangan bosan

Sama seperti analisis fundamental, tips biar mudah memahami analisis ini adalah, jangan pernah bosan buat belajar. Sekali bosan atau menyerah, maka kamu gak akan bisa menguasai teknik ini.

Salah dalam belajar itu wajar, ulangi lagi sampai kamu bisa!

Belajar Analisa Teknikal

Analisa teknikal adalah cara menganalisa pergerakan harga aset di pasar finansial menggunakan perangkat statistik seperti grafik dan rumus matematis. Tujuan belajar analisa teknikal yaitu agar trader dapat menilai kondisi pasar saat ini berdasarkan histori harga di masa lampau, sekaligus memberikan gambaran atau prediksi tentang pergerakan pasar di masa depan.

Dahulu, trader melakukan perhitungan yang mengkombinasikan grafik (chart) dan rumus matematis secara manual, tetapi kini analisa teknikal bisa dilakukan dengan lebih mudah. Umumnya, platform trading online telah dilengkapi dengan fitur untuk menampilkan pergerakan harga dalam berbagai jenis grafik, sekaligus bermacam-macam indikator teknikal sebagai alat bantu analisa.

Prinsip Dasar Analisa Teknikal

Analisa teknikal termasuk dalam dua jenis analisa forex yang paling umum digunakan trader. Jenis analisa lainnya adalah analisa fundamental yang berupaya menganalisa nilai suatu mata uang berdasarkan kondisi ekonomi negara asalnya, situasi pasar finansial, atau berita dan rumor lainnya yang beredar. Berbeda dengan analisa fundamental, analisa teknikal didasarkan pada tiga prinsip:

  1. Market Price Discount Everything, artinya: harga yang terlihat pada grafik (chart) telah menggambarkan semua faktor yang mempengaruhi pasar.
  2. Price Moves in Trend, artinya: harga tidak bergerak secara acak, melainkan selalu membentuk suatu pola tertentu (trend) yang akan terus berlangsung sampai ada tanda-tanda bahwa pola pergerakan ini berhenti dan berganti.
  3. History Repeats Itself, artinya: ada kecenderungan kuat bahwa perilaku para pelaku pasar di masa kini akan memberikan reaksi yang sama dengan para pelaku pasar di masa lalu, dalam menyikapi berbagai informasi yang mempengaruhi pasar; sehingga motif pergerakan yang dahulu pernah terjadi, bisa terulang lagi.

Komponen Analisa Teknikal

Analisa teknikal mengandung sejumlah komponen penting. Komponen-komponen ini wajib diketahui oleh semua trader forex:

1. Grafik Harga (Chart)

Grafik harga menunjukkan nilai tukar dua mata uang dan terus bergerak dari waktu ke waktu. Ada tiga model grafik harga yang umum digunakan dalam analisa teknikal, yaitu grafik garis (Line Chart), grafik batang (Bar Chart), dan grafik lilin (Candlestick Chart). Diantara ketiganya, yang paling populer di Indonesia adalah grafik Candlestick seperti yang nampak pada gambar pergerakan harga GBP/USD (Pounds/Dolar AS) di bawah.

2. Indikator Teknikal

Agar pergerakan harga yang ditunjukkan oleh grafik di atas dapat dianalisa, maka dibutuhkan indikator teknikal. Indikator teknikal ini banyak sekali jenisnya, tetapi semua memiliki kesamaan, yaitu memungkinkan trader untuk memaknai pergerakan harga saat ini sehingga dapat memunculkan prediksi untuk pergerakan harga di masa depan.

Karena banyaknya indikator teknikal di dunia, bahkan hingga ratusan, maka setiap trader bisa menggunakan indikator yang berbeda. Namun, ada sejumlah indikator yang umum digunakan, antara lain Moving Average (MA) dan Relative Strenth Index (RSI). Contohnya pada gambar di bawah ini, grafik GBP/USD yang telah dipasang indikator teknikal berupa MA dan RSI.

Dari kondisi indikator teknikal tersebut, dapat dipahami bahwa harga pada GBP/USD sedang mengalami bearish (tren harga menurun) dan trader memiliki peluang untuk “Sell”. Bagaimana bisa menyimpulkan itu? Karena pergerakan harga berada di bawah garis MA; sedangkan RSI menurun, tetapi belum mencapai titik 30.0. Nantinya, jika RSI sudah mencapai 30.0, maka itu boleh jadi momen untuk “Buy” GBP/USD, karena menandai perubahan pergerakan di pasar.

Belajar analisa teknikal berarti harus memahami cara menggunakan indikator-indikator seperti Moving Average dan RSI. Akan tetapi, analisa teknikal dan indikator tidaklah 100% pasti tepat. Kondisi pasar bisa berubah-ubah sewaktu-waktu dan tak seorang pun di dunia dapat mengetahui apa yang terjadi di masa depan. Oleh karena itu, hasil analisa teknikal maupun analisa fundamental merupakan “perkiraan”, dan trader harus selalu siap untuk menghadapi kemungkinan salah prediksi.

3. Teknik Atau Metode Analisa Teknikal

Kombinasi antara MA dan RSI untuk menyusun keputusan trading forex seperti dalam contoh di atas, merupakan bagian dari teknik atau metode analisa teknikal. Jadi, dalam analisa teknikal, sekedar ada grafik dan indikator saja tidak cukup. Trader forex bisa membuat teknik atau metode analisa sendiri, berdasarkan satu jenis indikator, kombinasi banyak indikator, atau digabungkan dengan teknik-teknik khusus seperti Fibonacci, Retracement dan Reversal, Elliott Wave, dan lain sebagainya.

Perbedaan Analisa Teknikal Dan Analisa Fundamental

Sebagai fondasi dari analisa forex, teknikal dan fundamental memiliki perbedaan karakteristik.

Karakteristik analisa fundamental:

  1. Membutuhkan waktu untuk memperoleh informasi seperti data ekonomi atau rumor terbaru. Trader individual sulit untuk mendapatkan info seperti ini.
  2. Bersifat subyektif karena melibatkan pendapat banyak orang. Seorang trader boleh jadi menganggap data ekonomi tertentu itu baik, tetapi trader lainnya menilai buruk.
  3. Lebih cocok diterapkan untuk jangka menengah-panjang.

Karakteristik analisa teknikal:

  1. Membutuhkan banyak data untuk menunjang akurasi prediksi.
  2. Kehandalannya bergantung pada kemahiran trader untuk membaca grafik, menerapkan indikator, dan mempraktekkan teknik analisa.
  3. Cocok diterapkan pada trading jangka pendek maupun jangka panjang.

Adanya dua jenis analisa forex, yaitu analisa teknikal dan analisa fundamental, sering memunculkan pertanyaan mengenai lebih baik mana antara keduanya. Faktanya, kedua jenis analisa forex ini memiliki karakternya masing-masing dan sebaiknya digunakan bersamaan secara proporsional, bukan hanya salah satu saja.

Peringkat broker opsi biner:
Tempat berinvestasi
Tinggalkan Balasan

;-) :| :x :twisted: :smile: :shock: :sad: :roll: :razz: :oops: :o :mrgreen: :lol: :idea: :grin: :evil: :cry: :cool: :arrow: :???: :?: :!: