Indikator Ekonomi Dalam Perdagangan Valas Pertemuan Trump & Abe Bikin Indeks Dolar Menguat

Peringkat broker opsi biner:

Indikator Ekonomi AS Bagus, Dolar Kembali Menguat

Jakarta, CNBC Indonesia – Indeks dolar kembali menguat awal perdagangan sesi Amerika Serikat (AS) Kamis (16/5/19), terdorong serangkaian data-data indikator ekonomi yang lebih bagus dari prediksi. Eskalasi perang dagang AS – China masih tetap menjadi headline pada hari ini.

Pada pukul 20:37 WIB, indeks dolar berada di kisaran 97,70 atau menguat 0,14%, melansir data dari Refinitiv. Dari enam mata uang yang membentuk indeks dolar, tiga lawan beratnya yakni euro turun 0,13%, poundsterling dan yen masing-masing melemah 0,4% dan 0,24%.

Federal Reserve Philadelphia melaporkan indeks aktivitas manufktur bulan Mei naik menjadi 16,6 dari bulan sebelumnya 8,5. Angka tersebut lebih tinggi dari prediksi di Forex Factory 10,0. Angka indeks Mei sekaligus menjadi yang tertinggi dalam empat bulan terakhir.

Sementara itu Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan jumlah klaim tunjangan pengangguran pada pekan lalu turun menjadi 212.000 orang, lebih rendah dari pekan sebelumnya 228.000, dan lebih rendah dari prediksi 220.000 orang.

Sementara dari sektor perumahan data ijin membangun bulan April naik menjadi 1,3 juta, lebih tinggi dari prediksi 1,29 juta. Begitu juga dengan jumlah rumah dan konstruksi yang mulai dikerjakan naik menjadi 1,24 juta lebih tinggi dari prediksi 1,21 juta.

Serangkaian data tersebut menjadi sentimen positif di tengah memanasnya perang dagang AS – China. Presiden Trump sudah mendeklarasikan keadaan darurat nasional terhadap ancaman yang dihadapi sektor teknologi.

Presiden Trump sudah mengeluarkan perintah eksekutif yang memberikan wewenang bagi Menteri Perdagangan AS Wilbur Ross untuk memblokir transaksi yang melibatkan transfer informasi atau teknologi yang dapat mengancam keamanan dalam negeri, melansir CNBC International.

Peringkat broker opsi biner:

Langkah diambil membidik perusahaan-perusahaan China yang selama ini dituduh melakukan pencurian teknologi.

Selain itu rencana Trump untuk menunda kenaikan bea impor sektor otomotif juga masih belum pasti. Gedung Putih memiliki tenggat waktu hingga Sabtu (18/5/2020) mendatang untuk memutuskan apakah akan mengenakan bea masuk terhadap impor mobil dan suku cadangnya dengan alasan keamanan nasional.

Uni Eropa telah menyiapkan daftar panjang tarif impor balasan yang akan dijatuhkan kepada produk-produk AS bila Trump benar-benar menjadikan otomotif sebagai sasaran perang dagang terbarunya, dan perang dagang akan semakin meluas.

TIM RISET CNBC INDONESIA

(pap/pap)

Data Ekonomi Impresif, Dolar AS Melesat Naik

Jakarta, CNBC Indonesia – Dolar Amerika Serikat (AS) menguat terhadap mata uang utama jelang dibukanya perdagangan sesi pagi pada Kamis (11/4/19), pasca rilis data ekonomi yang impresif.

Indeks dolar terpantau menguat 0,14% ke level 97,08 pada pukul 19:33 WIB, hanya berselang tiga menit dari rilis data-data ekonomi AS. Dolar kini terpantau berbalik menguat terhadap euro, dan poundsterling, sementara terhadap yen mata uang Paman Sam ini telah menguat sejak pagi tadi.

Departemen Tenaga Kerja AS pada pukul 19:30 WIB melaporkan inflasi di sektor produsen atau indeks harga produsen naik sebesar 0,6% pada bulan Maret dari bulan sebelumnya yang naik 0,1%. Mengutip data Forex Factory, kenaikan tersebut jauh lebih tinggi dari prediksi sebesar 0,3%.

Inflasi produsen inti yang tidak memasukkan sektor energi dan makan, dilaporkan naik 0,3% juga lebih tinggi dari prediksi 0,2%.

Rilis data ini meredakan kecemasan pelaku pasar akan tekanan inflasi yang semakin lemah di AS. Tingginya inflasi di sektor produsen ke depannya akan berdampak pada peningkatan inflasi sektor konsumen atau indeks harga konsumen (IHK).

Tidak hanya itu, di saat yang sama juga dilaporkan jumlah klaim tunjangan pengangguran pekan lalu sebanyak 196.000, lebih rendah dari prediksi 210.000. Jumlah klaim di pekan lalu tersebut merupakan yang terendah dalam 49 tahun terakhir, tepatnya sejak Oktober 1969.

Data tenaga kerja dan data inflasi termasuk dalam indikator yang digunakan Federal Reserve/The Fed untuk menaikkan suku bunga.

Rilis risalah rapat kebijakan moneter The Fed dini hari tadi menunjukkan Bank Sentral AS tersebut masih membuka peluang untuk menaikkan suku bunga di tahun ini, dengan syarat kondisi ekonomi terus membaik. Meski untuk saat ini, mayoritas anggota komite pembuat kebijakan (FOMC) sepakat suku bunga tidak akan dinaikkan hingga akhir tahun.

Jika data tenaga kerja dan inflasi dirilis apik secara berkelanjutan, peluang suku bunga dinaikkan satu kali di tahun ini pun akan semakin terbuka. Ini, pada akhirnya akan membuka potensi penguatan dolar AS melibas mata uang negara mitra dagangnya, termasuk rupiah.

TIM RISET CNBC INDONESIA

(pap/pap)

Yield Obligasi AS Kembali Inversi, Indeks Dolar Masih Stabil

Jakarta, CNBC Indonesia – Meningkatnya kecemasan akan pelambatan ekonomi global membuat yield obligasi (Treasury) Amerika Serikat (AS) kembali mengalami inversi.

Meski demikian dolar AS masih cukup stabil pada perdagangan Rabu (29/5/19), terlihat dari indeksnya yang naik tipis 0,04% ke level 97,99 pada pukul 20:05 WIB.

Inversi merupakan kondisi yield obligasi AS tenor 3 bulan lebih tinggi dibandingkan tenor 10 tahun, dan dijadikan indikator kemungkinan terjadinya resesi.
Melansir CNBC International, inversi yang terjadi kali ini merupakan yang terdalam sejak krisis finansial di AS. Yield obligasi tenor 3 bulan AS sebesar 2,36%, sementara tenor 10 tahun lebih rendah yakni sebesar 2,229%.

Serangkaian data ekonomi AS yang mengecewakan pada pekan lalu, dan perang dagang dengan China yang semakin memanas menjadi pemicu kecemasan akan pelambatan ekonomi AS. Beberapa bank investasi ternama juga sudah menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Paman Sam.

Morgan Stanley memberikan proyeksi pertumbuhan ekonomi AS di kuartal-II sebesar 0,6% diturunkan dibandingkan proyeksi sebelumnya sebesar 1,0%. Begitu juga dengan JPMorgan yang menurunkan prediksi menjadi 1,0% dari sebelumnya 2,25%.

Masih stabilnya indeks dolar tidak lepas dari buruknya performa euro, kontributor terbesar dalam membentuk indeks dolar. Memanasnya tensi politik Italia dengan Uni Eropa membuat kurs euro melemah 0,09% melawan dolar.

Euro berkontribusi sebesar 57,6% dalam membentuk indeks dolar, disusul poundsterling 11,9%. Mata uang lainnya yang membentuk yakni yen (13,6%), dolar Kanada (9,1%), krona Swedia (4,2%) dan franc Swiss (3,6%).

Melawan poundsterling, dolar AS masih cenderung flat, namun dengan mata uang lainnya the greenback mengalami pelemahan. Melawan yen dan franc yang sama-sama menyandang status safe haven, dolar melemah 0,03% dan 0,06%. Terhadap krona dolar juga melemah 0,04%, sementara melawan dolar Kanada naik 0,9%.

Isu pelambatan ekonomi menjadi headline utama pada hari ini, selain juga masalah politik di Eropa, namun pergerakan pasar forex masih cenderung stabil, belum ada pergerakan besar hingga memasuki perdagangan sesi AS.

TIM RISET CNBC INDONESIA

(pap/dru)

Peringkat broker opsi biner:
Tempat berinvestasi
Tinggalkan Balasan

;-) :| :x :twisted: :smile: :shock: :sad: :roll: :razz: :oops: :o :mrgreen: :lol: :idea: :grin: :evil: :cry: :cool: :arrow: :???: :?: :!: