Pengertian Capital Lease Operating lease vs Capital lease ~ Sukses Belajar Akuntansi

Peringkat broker opsi biner:

Sukses Belajar Akuntansi

23 Jan 2020

Operating lease vs Capital lease

Leasing merupakan equipment Funding artinya pembiayaan peralatan barang modal untuk digunakan pada proses produksi baik secara langsung maupun tidak langsung. Seorang manajer dalam memperoleh jabatan baru akan cenderung akan menunjukkan keuntungan/performance laporan keuangan yang lebih baik dari periode sebelumnya. Laporan keuangan yang terlihat baik dapat dilakukan dengan metode dalam akuntansi salah satunya yakni menerapkan operating lease atau capital lease dalam kegiatan operasi perusahaan.
Operating lease merupakan kegiatan operasi tanpa melibatkan adanya asset atau modal dalam kegiatan operasi perusahaan sedangkan capital lease yakni mempergunakan asset dalam kegiatan operasi perusahaan sehingga memunculkan biaya modal yang lebih besar baik yang bersumber dari hutang maupun penerbitan saham baru. Biaya sewa yang lebih rendah pada operating lease akan menghasilkan profits yang lebih tinggi sehingga performa laporan keuangan terlihat mengalami peningkatan. Sedangkan apabila perusahaan menerapkan capital lease maka porsi hutang maupun porsi saham menjadi lebih besar dan efeknya akan memunculkan biaya depresiasi dan biaya bunga apabila sumber leasing berasal dari biaya modal.
Laporan keuangan akan terlihat lebih menarik di mata investor ketika perusahaan menerapkan operating leasing. Capital leasing dikomparasikan ke dalam rasio maka current asset nya menjadi lebih rendah atau tingkat Return on Asset atau Return on Equity juga menjadi tidak sebagus rasio nya ketika menerapkan operating leasing. Manajer dalam hal ini lebih mengutamakan laporan keuangan yang terlihat bagus dalam jangka pendek daripada harus mengeluarkan biaya modal untuk kegiatan operasi jangka panjang.
Penerapan capital leasing juga berdampak biaya expense yang lebih besar berupa biaya perawatan asset yang ada. Effect on Financial Statement Operating Leasing
a. Delay Expense recognitions; stable expense
b. Understate assets and current liability
c. better current assets ratio and current liability ratio
d. stable profits graph
e. understate operating cash flow and overstate Financing cash flow Capital Leasing

Effect on Financial Statement Capital Leasing
a. Recognize expense happened; Volatile graph expense
b. Overstate Long term Liability and Assets
c. Volatile profits graph
d. Overstate operating cash flow and financing operating cash flow

Adapun praktik window dressing perusahaan yakni, seorang manajer akan melakukan tambahan produksi dan memerlukan asset baru. Anggaran untuk membeli asset tidak ada sehingga jalan satu-satunya mengajukan kredit melalui leasing. Perusahaan leasing yang akan melunasi asset produksi sehingga perusahaan dapat mencatat pembiayaan tersebut sebagai biaya angsuran atau pun biaya sewa. Secara otomatis asset perusahaan bertambah namun jumlah hutang tidak ada maka rasio current asset menjadi baik.
Ada lagi saat long term liability untuk membeli asset dilunasi dan menjadi current liability sehingga return on Investment yang disajikan kepada investor akan terlihat baik. Hal ini merupakan praktik seorang manajer dalam menerapkan metode agar laporan keuangan terlihat baik. Sehingga sebagai seorang analis laporan keuangan maka hal yang menjadi fokus utama bukan hanya angka, data, dan judgment saja akan tetapi metode akuntansi yang diterapkan dikarenakan accounting analisis akan menjadi dasar dalam financial analisis dan prospektif analisis.

Thank you Mr. Boim Big chances to be your students. :)

Operational Leasing dan Financial Leasing

Definisi Sewa Guna Usaha (Leasing) menurut SKB Menkeu, Menperindag Nomor 122/MK/IV/2/1974, Nomor 32/M/SK/2/1974 dan Nomor 30/Kpb/I/1974, adalah setiap kegiatan pembiayaan perusahaan dalam bentuk penyediaan barang-barang modal untuk digunakan oleh suatu perusahaan, untuk suatu jangka waktu tertentu, berdasarkan pembayaran secara berkala disertai dengan hak pilih (opsi) bagi perusahaan tersebut untuk membeli barang-barang modal yang bersangkutan atau memperpanjang jangka waktu sewa guna berdasarkan nilai sisa yang telah disepakati bersama . Adapun pihak-pihak yang terlibat dalam sewa guna usaha ini adalah Lessor (pemilik barang yang bersangkutan), Lessee (yang memanfaatkan sewa guna usaha yang bersangkutan) dan Leveransir (yang menyediakan barang yang bersangkutan).

Sementara dalam prakteknya sewa guna usaha terbagi atas dua bentuk sewa guna, yakni :

Operational Leasing. Dalam perjanjian operational leasing ini, pihak lessee menyewa suatu jenis peralatan tertentu dengan tujuan untuk memperoleh manfaat atas barang tersebut dalam jangka waktu tertentu dan tidak ada keinginan atau kemungkinan untuk memiliki barang tersebut. Di sini lessor hanya mengenakan biaya sewa yang jumlahnya relatif tidak terlalu besar jika dibandingkan dengan harga barang yang disewa tersebut. Lessor biasanya melakukan perawatan serta penyediaan suku cadang bilamana diperlukan. Perjanjian dalam bentuk ini biasanya baru memperoleh keuntungan setelah peralatannya disewa beberapa kali oleh beberapa lessee.

Peringkat broker opsi biner:

Financial Leasing . Lain pula dengan financial leasing, dimana seseorang atau sebuah perusahaan yang ingin memperoleh suatu jenis barang modal akan mendatangi perusahaan sewa guna usaha. Apabila antara lessor dan lessee terdapat kesepakatan maka terbentuklah suatu perjanjian financial lease, dimana dengan membayar sejumlah cicilan tertentu dan dalam jangka waktu tertentu maka lessee dapat memanfaatkan barang yang disewanya untuk kepentingan usaha. Dalam hal ini besarnya cicilan dihitung berdasarkan besarnya pokok pinjaman, jangka waktu penyewaan, besarnya nilai sisa serta tingkat bunga yang telah disetujui bersama. Pada saat masa penyewaan berakhir masih terdapat nilai sisa dalam jumlah tertentu yang telah ditentukan sebelumnya. Berdasarkan nilai sisa ini lessee memiliki hak opsi, yaitu suatu hak untuk menentukan apakah akan membeli barang tersebut atau mengembalikannya kepada lessor. Financial leasing ini disebut juga direct finance lease karena lessor melakukan pembiayaan secara langsung untuk membeli barang tertentu yang kemungkinan dipergunakan oleh lessee. Manfaat dari direct finance lease ini adalah bahwa lessee tanpa harus memiliki sejumlah uang seharga barangnya maka lessee telah bisa menggunakan barang tersebut untuk keperluan produksinya. Dengan hasil dari produk, lessee dapat membayar cicilan sewa guna perbulannya.

PENGERTIAN LEASING

Leasing atau sewa guna usaha adalah setiap kegiatan pembiayaan perusahaan dalam bentuk penyediaan barang – barang modal untuk digunakan oleh suatu perusahaan untuk jangka waktu tertentu. Dengan melakukan leasing perusahaan dapat memperoleh barang modal dengan jalan sewa beli untuk dapat lansung digunakan berproduksi, yang dapat diangsur setiap bulan, triwulan atau enam bulan sekali kepada pihak lessor.

Munculnya lembaga leasing merupakan alternatif yang menarik bagi para pengusaha karena saat ini mereka cenderung menggunakan dana rupiah tunai untuk kegiatan operasional perusahaan. Melalui leasing mereka bisa memperoleh dan untuk membiayai pembelian barang – barang modal dengan jangka waktu pengembalian antara 3 -5 tahun atau lebih.
Pihak utama dalam leasing, menurut Ahmad Awari, ada beberapa pihak yang terlibat dala perjanjian lease, yaitu sebagai berikut :
1. Pihak perusahaan sewa guna usaha (Lessor) adalah perusahan atau pihak yang memberikan jasa pembiayaan kepada lessee dalam bentuk barang modal.
2. Perusahaan penyewa (Lesse) adalah perusahaan atau pihak yang memperoleh pembiayaan dalam bentuk barang modal dari lessor.
3. Supplier adalah perusahaan atau pihak yang mengadakan atau menyediakan barang untuk dijual kepada lesse dengan pembayaran secara tunai oleh lessor.

Ciri – ciri Leasing

JENIS – JENIS LEASING
1. Finance Leasing (sewa guna usaha pembiayaan)
Dalam sewa guna usaha ini, perusahaan sewa guna usaha (lessor) adalah pihak yang membiayai penyediaan barang modal. Penyewa guna usaha (lessee) biasanya memilih barang modal yang dibutuhkan dan atas nama perusahaan sewa guna usaha, sebagai pemilik barng modal tersebut, melakukan pemesanan, pemeriksaan dan pemeliharaan barang modal yang menjadi objek transaksi leasing.
Lessor akan mengeluarkan dananya untuk membayar barang tersebut kepada supplier dan kemudian barang tersebut diserahkan kepada lessee. Sebagai imblan atau jasa penggunaan barang tersebut lesse akan membayar secara berkala kepada lessor sejumlah uang yang beruba uang rental untuk jangka waktu tertentu yang telah disepakati bersama.
Jumlah rental ini secar keseluruhan akan meliputi harga barang yang dibayar oleh lessor ditambah fktor bunga serta keuntungan pihak lessor. Selanjutnya capital atau finance lease masih bias dibedakan menjadi 2, yaitu :
a. Direct finance lease
Transaksi ini terjadi jika lessee sebelumny belum pernah memilike barang yang dijadikan objek lease. Secara sederhana bisa dikatakan bahwa lessor membeli suatu barang atas permintaan lesse dan akan dipergunakan oleh lessee.
b. Sale and lease back
Dalam transaksi ini lesse menjual barang yang telah dimilikinya kepada lessor. Atas barang yang sama ini kemudian dilakukan uatu konrak leasing antara lesse dengan lessor. Dengan memperhatikan mekanisme ini, maka perjanjian ini memiliki tujuan yang berbeda dibandingkan direct finance lease. Di sini lesse memerlukan cash yng bisa dipergunakan untuk tambahan modal kerja atau untuk kepentingan lainnya. Bisa dikatakan bahwa dengan sistem saale and lease back memungkinkan lessor memberikan dana untuk keperluan pa saja kepada kliennya dan tentu saja dana yang dibutuhkana sesuai dengan nilai objek barang lease.
2. Operating lease (sewa menyewa biasa)
Dalam sewa guna usaha ini, perusahaan sewa guna usaha membeli barang modal dan selanjutnya disewagunakan kepada penyewa guna usaha. Berbeda dengan finance lease, jumlah seluruh pembayaran sewa guna usaha berkala dalam operating lease tidak mencakup jumlah biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh barang modal tersebut berikut dengan bunganya. Perbedaan ini disebabkan perusahaan sewa guna usaha mengharapkan keuntungan justru dari penjualan barang modal yang disewa guna usahakan atau melalui beberapa kontrak sewa guna usaha lainnya.
Perusahaan sewa guna usaha dalam operating lease biasanya bertanggung jawab atas biaya – biaya pelaksanaan sewa guna usaha seperti asuransi, pajak maupun pemeliharaan barang modal yang bersangkutan.
3. Sales – Typed Lease (sewa guna usaha penjualan)
Suatu transaksi sewa guna usaha, dimana produsen atau pabrikan juga berperan sebagai perusahaan sewa guna usaha sehingga jumlah traksaksi termasuk bagian laba sudah diperhitungkan oleh produsen atau pabrikan.
4. Leveraged Lease
Suatu transaksi sewa guna usaha, selain melibatkan lessor dan lessee juga melibatkan bank atau kreditor jangka panjang yang membiayai bagian terbesar transaksi.
5. Cross Border Lease
Transaksi pada jenis ini merupakan suatu transaksi leasing yang dilakukan dengan melewati batas suatu negara. Dengan demikian antara lessor dan lesse yang dilakukan dengan melewati batas suatu negara. Dengan demikian antara lessor dan lesse terletak pada dua negara berbeda.

Penggolongan Perusahaan Sewa Guna Usaha (Leasing)
1. Independent Leasing Company
Perusahaan sewa guna usaha merupakan suatu perusahaan yang berdiri sendiri, tidak terkait dengan suatu produsen barang modal sehingga dalam pembiayaan barang modal yang dilakukan oleh independent leasing company ini dapat beragam ( tidak terfokus kepada satu merek barang modal, tetapi dapat terdiri dari berbagai merek maupun jenisnya).
2. Non Independent Leasing Company
Perusahaan sewa guna usaha ini merupakan suatu perusahaan yang mempunyai hubungan langsung dengan produsen barang modal, dimana pendirian perusahaan sewa guna usaha untuk meningkatkan penjualan barang modal yang diproduksi oleh produsen yang bersangkutan.
3. Captive lessor
Sering juga disebut two party lessor yang melibat dua pihak.
4. Lease broker atau packager
Berfungsi mempertemukan calon lesse dengan pihak lessor yang membutuhkan suatu barang modal dengan cara leasing tetapi lease broker ini tidak memiliki barang atau peralatan untuk menangani transaksi leasing untuk atas namanya.

PROSEDUR MEKANISME LEASING
Dalam melakukan perjanjian leasing terdapat prosedur dan mekanisme yang harus dijalankan yang secara garis besar dapat diuraikan sebaga berikut :
1. Lesse bebas memilih dan menentukan peralatan yang dibutuhkan, mengadakan penawaran harga dan menunjuk supplier peralatan yang dimaksudkan.
2. Setelah lesse mengisi formulir permohonan lease, maka dikirimkan kepada lessor disertai dokumen lengkap.
3. Lessor mengevakuasi kelayakan kredit dan memutuskan untuk memberikan fasilitas lease dengan syarat dan kondisi yang disetujui lesse (lama kontrak pembayaran sew lease), setelah ini maka kontrak lease dapat ditandatangani.
4. Pada yang sama, lesse dapat menandatangani kontrak asuransi untuk peralatan yang dilease dengan perusahaan asuransi yang disetujui lessor, seperti yang tercantum dalam kontrak lease. Antara lessor dan perusahaan asuransi terjalin perjanjian kontrak utama. Kontrak pembelian peralatan akan ditandatangani lessor dengan supplier peralatan tersebut.
5. Supplier dapat mengirimkan peralatan yang dilease ke lokasi lesse. Untuk mempertahankan dan memelihara kondisi peralatan tersebut, supplier akan menandatangani perjanjian purna jual.
6. Lessee menandatangani tanda terima peralatan dan menyerahkan kepada supplier.
7. Supplier menyerahkan tanda terima (yang diterima dari lesse), bukti pemilikan dan pemindahan pemilikan kepada supplier.
8. Lessor membayar harga peralatan yang dilease kepada supplier.
9. Lesse membayar sewa lease secara periodik sesuai dengan jadwal pembayaran yang telah dditentukan dalam kontrak lease.
Perjanjian yang dibuat antara lessor dengan lessee disebut lease agrement, dimana didalam perjanjian tersebut memuat kontrak kerja bersyarat antara kedua belah pihak. Isi kontrak yang dibuat secara umum memuat antara lain:
1. Nama dan alamat lease
2. Jenis barang modal yang diinginkan
3. Jenis atau jumlah barang yang dileasekan
4. Syarat – syarat pembayaran
5. Syarat kepemilikan atau syarat lainnya
6. Biaya – biaya yang dikenakan
7. Sangsi – sangsi apabila lesse ingkar janji
Setiap fasilitas leasing yang diberikan oleh perusahaan leasing kepada pemohon (Lessee) akan dikenakan berbagai macam biaya yang dibebankan terhadap lesse tidaklah sama.

KEUNTUNGAN SEWA GUNA USAHA (LEASING)
Pembiayaan melalui leasing merupakan pembiayaan yang sangat sederhana dalam prosedur dan pelaksanaannya dan oleh karena itu leasing yang digunakan sebagai pembayaran alternatif tampak lebih menarik. Sebagai suatu alternatif sumber pembiayaan modal bagi perusahaan – perusahaan, maka leasing didukung oleh keuntungan – keuntungan sebagai berikut :
1. Fleksibel.
2. Tidak diperlukan jaminan.
3. Capital saving.
4. Cepat dalam pelayanan.
5. Pembayaran angsuran lease diperlakukan sebagai biaya operasional.
6. Sebagai pelindung terhadap inflasi.
7. Adanya hak opsi bagi lesse pada akhir mas lease.
8. Adanya kepastian hukum.
9. Terkadang leasing merupakan satu – satunya cara untuk mendapatkan aktiva bagi suatu perusahaan

Peringkat broker opsi biner:
Tempat berinvestasi
Tinggalkan Balasan

;-) :| :x :twisted: :smile: :shock: :sad: :roll: :razz: :oops: :o :mrgreen: :lol: :idea: :grin: :evil: :cry: :cool: :arrow: :???: :?: :!: