Pilihan Perdagangan Komoditas Indonesia – Duh! Harga Komoditas RI Makin Suram, CPO-Batu Bara Parah

Peringkat broker opsi biner:

Duh! Harga Komoditas RI Makin Suram, CPO-Batu Bara Parah

Jakarta, CNBC Indonesia – Pasar komoditas global masih negatif. Hal ini membuat indeks harga komoditas ekspor RI suram.

Laporan Bank Indonesia (BI) yang dikutip Senin (28/10/2020) mengungkapkan ketegangan hubungan dagang AS dan China yang masih berlangsung menurunkan volume perdagangan dunia serta menekan harga komoditas.

Rilis data terbaru menunjukkan World Trade Volume (WTV) mengalami kontraksi yang lebih dalam yakni sebesar -0,6% (yoy) dibandingkan dengan rilis sebelumnya sebesar -0,4% (yoy).

Penurunan volume perdagangan terutama bersumber dari kinerja perdagangan emerging market Asia.

“Seiring dengan penurunan volume perdagangan, kegiatan produksi di berbagai negara juga menunjukkan penurunan. Prospek perdagangan global yang terus memburuk menyebabkan IMF kembali mengoreksi ke bawah proyeksi pertumbuhan WTV (goods and services) tahun 2020 dan 2020,” demikian tulis Laporan BI.

Indonesia sendiri mengalaminya. Sebagian besar komoditas ekspor Indonesia mengalami penurunan harga.

“Penurunan harga batu bara berpotensi lebih dalam akibat penurunan permintaan khususnya dari India dan Tiongkok, di tengah tingginya inventory dari produksi Tiongkok.”

Penurunan permintaan India terjadi seiring dengan perlambatan ekonomi dan rencana penurunan impor India atas batu bara low calorie karena isu lingkungan.

Peringkat broker opsi biner:

Harga CPO juga berpotensi turun lebih dalam karena perbaikan permintaan yang tidak setinggi perkiraan meski pasokan menurun seiring dengan kekeringan sejumlah wilayah karena El Nino. Harga logam, kecuali nikel juga berpotensi menurun lebih dalam karena pelemahan permintaan.

“Sebaliknya, harga nikel diprakirakan meningkat karena pelarangan ekspor biji nikel Indonesia pada Januari 2020.”

Sementara, harga minyak masih cenderung menurun. Permintaan minyak lebih rendah dari perkiraan semula seiring dengan pelemahan ekonomi global. Hal tersebut juga menyebabkan rendahnya permintaan investor untuk membeli minyak sebagai investasi.

Faktor sentimen dan perilaku risk off pelaku pasar turut menurunkan permintaan minyak sebagai aset. Potensi konflik yang terjadi di Selat Hormuz diprakirakan mampu menahan penurunan harga minyak lebih lanjut.

Ramalan Soal Batu Bara Ini Bisa Bikin Jantungan, Suram!

Jakarta, CNBC Indonesia – Pasar komoditas global masih negatif. Hal ini membuat indeks harga komoditas ekspor RI suram.

Laporan Bank Indonesia (BI) yang dikutip Senin (28/10/2020) mengungkapkan harga komoditas andalan ekspor RI yakni batu bara bisa terjungkal lebih dalam.

Hal ini didasari adanya ketegangan hubungan dagang AS dan China yang masih berlangsung. Ketegangan tersebut menurunkan volume perdagangan dunia serta menekan harga komoditas.

Rilis data terbaru menunjukkan World Trade Volume (WTV) mengalami kontraksi yang lebih dalam yakni sebesar -0,6% (yoy) dibandingkan dengan rilis sebelumnya sebesar -0,4% (yoy).

Penurunan volume perdagangan terutama bersumber dari kinerja perdagangan emerging market Asia.

“Seiring dengan penurunan volume perdagangan, kegiatan produksi di berbagai negara juga menunjukkan penurunan. Prospek perdagangan global yang terus memburuk menyebabkan IMF kembali mengoreksi ke bawah proyeksi pertumbuhan WTV (goods and services) tahun 2020 dan 2020,” demikian tulis Laporan BI.

“Penurunan harga batu bara berpotensi lebih dalam akibat penurunan permintaan khususnya dari India dan Tiongkok, di tengah tingginya inventory dari produksi Tiongkok.”

Penurunan permintaan India terjadi seiring dengan perlambatan ekonomi dan rencana penurunan impor India atas batu bara low calorie karena isu lingkungan.

Harga CPO juga berpotensi turun lebih dalam karena perbaikan permintaan yang tidak setinggi perkiraan meski pasokan menurun seiring dengan kekeringan sejumlah wilayah karena El Nino. Harga logam, kecuali nikel juga berpotensi menurun lebih dalam karena pelemahan permintaan.

“Sebaliknya, harga nikel diprakirakan meningkat karena pelarangan ekspor biji nikel Indonesia pada Januari 2020.”

Sementara, harga minyak masih cenderung menurun. Permintaan minyak lebih rendah dari perkiraan semula seiring dengan pelemahan ekonomi global. Hal tersebut juga menyebabkan rendahnya permintaan investor untuk membeli minyak sebagai investasi.

Faktor sentimen dan perilaku risk off pelaku pasar turut menurunkan permintaan minyak sebagai aset. Potensi konflik yang terjadi di Selat Hormuz diprakirakan mampu menahan penurunan harga minyak lebih lanjut.

Duh! Harga Komoditas RI Makin Suram, CPO-Batu Bara Parah

Berita Terkait

  • Efek Corona, Pengusaha Minta Harga BBM, Listrik dan Gas Turun 0 30 Mei 2020
  • Jokowi Terus Kejar Harga Gula, Pedagang Heran Kok Masih Mahal 0 13 Mei 2020
  • Biasa Dijual Rp100.000 per Ekor, Ayam Kampung Turun Harga hingga Rp45.000 0 13 Mei 2020
  • KPPU Klaim Harga BBM Harusnya Turun Sejak Maret 2020 0 08 Mei 2020
  • Mendag Mana Mendag! Jokowi Kecewa Harga Gula & Beras Naik 0 21 April 2020
  • Disperindag Riau Terus Pantau Harga Sembako dan Ketersedian Gas Elpiji 3 Kg 0 18 April 2020
  • Corona & Dolar Picu Masalah Baru: Lonjakan Harga Pangan! 0 24 Maret 2020
  • Pertamina Buka Ruang Penurunan Harga BBM Bulan Ini 0 23 Maret 2020

(REUTERS/Jason Lee) Foto: Batu Bara

JAKARTA – Pasar komoditas global masih negatif. Hal ini membuat indeks harga komoditas ekspor RI suram.

Laporan Bank Indonesia (BI) yang dikutip Senin (28/10/2020) mengungkapkan ketegangan hubungan dagang AS dan China yang masih berlangsung menurunkan volume perdagangan dunia serta menekan harga komoditas.

Rilis data terbaru menunjukkan World Trade Volume (WTV) mengalami kontraksi yang lebih dalam yakni sebesar -0,6% (yoy) dibandingkan dengan rilis sebelumnya sebesar -0,4% (yoy).

Penurunan volume perdagangan terutama bersumber dari kinerja perdagangan emerging market Asia.

“Seiring dengan penurunan volume perdagangan, kegiatan produksi di berbagai negara juga menunjukkan penurunan. Prospek perdagangan global yang terus memburuk menyebabkan IMF kembali mengoreksi ke bawah proyeksi pertumbuhan WTV (goods and services) tahun 2020 dan 2020,” demikian tulis Laporan BI.

Bagaimana dengan komoditas ekspor Indonesia?

Peringkat broker opsi biner:
Tempat berinvestasi
Tinggalkan Balasan

;-) :| :x :twisted: :smile: :shock: :sad: :roll: :razz: :oops: :o :mrgreen: :lol: :idea: :grin: :evil: :cry: :cool: :arrow: :???: :?: :!: