Sistem Perdagangan Bola Salju – Cari Majalah Edisi

Peringkat broker opsi biner:

Bolasalju

Anda pasti sering dengar istilah bandarmologi. Kita bertanya-tanya, apakah benar fenomena bandarmologi itu terjadi. Tulisan ini akan mencoba mencari setitik jawaban atas rasa penasaran itu.

Arti Istilah Bandarmologi

Anda mungkin tahu istilah arti bandar. Kalau belum, inilah arti menurut Kamus Bahasa Indonesia:

[n] 1) pemain yg menjadi lawan pemain-pemain lain sekaligus (dl permainan dadu, rolet, dsb); 2) orang yg menyelenggarakan perjudian; bandar judi; 3) orang yg mengendalikan suatu aksi (gerakan) dng sembunyi-sembunyi; 4) orang yg membiayai suatu gerakan yg kurang baik; 5) orang yg bermodal di perdagangan dsb; tengkulak.

Jadi, kalau bandarmologi berarti segala sesuatu yang berhubungan dengan bandar. Mungkin begitu.

Tapi kita berbicara pasar saham, bukan meja judi. Kok, kesannya serem.

Apa Ada Bandar di Pasar Saham?

Menurut banyak orang, konon memang ada sosok bernama bandar—yang mirip dengan pengendali sebuah meja judi—di dunia pasar saham.

Bandar di pasar saham ini kesaktiannya tak kalah dibanding rekan sejawat di meja judi.

Bandar katanya bisa mejatuhkan harga saham sampai keok, menaikkan harga saham membumbung setinggi awan, atau membuat sebuah saham datar dan membosankan bertahun-tahun.

Bahkan konon ada yang bilang bandar ini bisa menggoyang indeks. Indeks saudara-saudara, seperti IHSG kita itu. Hebat juga ya. Kuat dan kejam. Bandar inilah yang suka dihubungkan dengan aksi goreng-menggoreng saham.

Peringkat broker opsi biner:

Realitas Bandarmologi

Di majalah Investor edisi September 2020 lalu. Ada wawancara dengan Hendrata Sadeli, direktur utama sebuah perusahaan brokerage besar. Saya terhenyak mengetahui jawabannya dalam sebuah wawancara tentang kinerja sekuritas Indonesia khususnya mengenai perang bea jasa (fee) yang makin rendah, berikut saya kutip sedikit: “Berdasarkan hasil studi dari UI, fee broker yang sekarang terlalu rendah. Akhirnya banyak broker yang bisa rugi karena fee. Bagaimana supaya bisa tetap berjalan, banyak broker melakukan trading sendiri. Kalau hidup hanya broker saja pasti rugi.” Broker melakukan transaksi sendiri untuk mencari tambahan pendapatan!

Kalau kita melakukan deduksi dari jawaban di atas, bila para broker melakukan transaksi sendiri, entah dengan modal mereka sendiri, atau aset titipan, atau hutang, atau apa pun, akhirnya bakal terjadilah fenomena bandarmologi itu. Broker, paling tidak, punya dana lebih banyak dari pemodal biasa, dengan dana itu maka dengan gampang bila mereka masuk pasar untuk mencari keuntungan operasional, maka bisa menggoyang sebuah saham di pasar.

Bagaimana kalau ini dilakukan oleh beberapa broker, atau beberapa oknum profesional di beberapa broker, atau beberapa orang yang secara akumulasi terkumpul dana cukup besar, atau broker “abal-abal” yang menjadi pelaksana kendaraan investasi kelompok usaha tertentu. Kegiatan seperti itu yang melibatkan dana cukup besar dan dilakukan secara cukup cermat tentu bisa menggoyang sebuah saham. Namun pembuktiannya cukup susah.

Jadi sangat mungkin sekumpulan orang atau dana bisa menggoyang sebuah saham, apalagi jika itu saham berkapitalisasi pasar kecil. Apakah bisa menggoyang indeks? Ya, mungkin saja. Jika semua pemain pasar panik. Hancur lah bursa sehari atau beberapa hari.

Pembuktian Transaksi Bandarmologi

Apakah kemungkinan bandarmologi bisa kita buktikan? Saya rasa bisa dengan mengangkat deduksi sederhana dari data yang ada.

Saya punya data sederhana yang bisa menjadi landasan dugaan ini. Di laporan majalah investor tersebut di halaman 96, ada tabel Data Pokok Anggota Bursa 2020. Saya terkesima melihat dua sekuritas pertama. Datanya kurang lebih bisa dipersingkat seperti ini:

Sekuritas AC:
Aset
Desember 2020: 1.125 M
Maret 2020: 203 M

Ekuitas
Desember 2020: 1.107 M
Maret 2020: 176 M

Pendapatan Usaha
Desember 2020: 510 M
Maret 2020: (646) M

Sekuritas AS:
Aset
Desember 2020: 1.178 M
Maret 2020: 230 M

Ekuitas
Desember 2020: 1.157 M
Maret 2020: 185 M

Pendapatan Usaha
Desember 2020: 443 M
Maret 2020: (727) M

Itu adalah data dua sekuritas, yang saya rasa cukup menjadi representasi dugaan kita untuk menjawab bandarmologi ini. Saya tidak langsung menuduh bahwa dua sekuritas ini adalah salah satu yang disebut bandar itu. Tapi lihatlah kerugian pendapatan mereka untuk periode hanya tiga bulan saja. Lihat pula keuntungan mereka dari tahun sebelumnya (data tidak saya tampilkan). Selisih dan jaraknya sangat besar.

Kebetulan dua sekuritas ini termasuk puluhan sekuritas yang menjadi salah satu acuan majalah Investor untuk mencari sekuritas terbaik tahun ini. Sekuritas-sekuritas lain yang tidak masuk, yang merugi parah, yang kinerjanya buruk, juga banyak. Bahkan mungkin data mereka harusnya yang menjadi sumber terbaik. Baiklah, dengan mengabaikan prasangka buruk, tapi ini telah terjadi dua sekuritas yang tidak terlalu populer. Penurunan pendapatan usaha dibanding aset mereka sungguh sangat fenomenal. Bisa saja penurunan terjadi karena alasan bisnis lain. Tapi kita tahu bisnis mereka di bidang sekuritas, dengan ijin utama perdagangan efek, apa lagi yang bisa menyebabkan kerugian dahsyat seperti itu? Kemungkinan besar adalah aksi spekulasi yang rugi, sehingga hasil keuntungan 2020 yang cukup lumayan bisa digerogoti sangat dalam. Kemungkinan lain cukup kecil saya rasa.

Lalu timbul pertanyaan, bagaimana ini bisa terjadi? Apakah pengawas bursa tidak melakukan telaah lebih lanjut dengan laporan anggota bursa yang mengkhawatirkan ini? Pertanyaan selanjutnya, bila ini terjadi di sekuritas yang kurang populer, seperti yang dikatakan Hendrata tadi bertransaksi sendiri untuk mencari keuntungan, lalu bagaimana kejadiannya di sekuritas populer dengan pelanggan mencapai lebih dari 10% jumlah investor Indonesia? Kita tahu, kadang-kadang ada sekuritas yang mengijinkan dana nasabah diolah oleh broker bukan? Secara ijin mungkin hal itu tidak boleh, tapi secara praktek bisa saja dilakukan, dalihnya nasabah sendiri yang melakukan transaksi. Itulah semua akar terjadi bandarmologi di bursa kita.

Apakah Investor Biasa Bisa Menang Lawan “Bandar”?

Baiklah, anggap saja bandarmologi ada, anggap saja ada mafia yang bersekongkol mengatur harga sebuah saham atau beberapa atau hingga indeks, pertanyaan kita selanjutnya bagaimana kita sebagai investor biasa yang bermodal cekak, letaknya jauh dari pusat bursa (saya di Jawa Tengah lho, bahkan jauh dari ibukota), bagaimana kita bisa menang atau beruntung bisa melawan mereka?

Untungnya Peter Lynch sang legendar manajer investasi itu membantu saya mencari jawabannya. Dia bilang investor biasa punya harapan sangat besar untuk mengalahkan profesional yang punya kapabilitas ahli di bidang pasar saham, asal kita menerapkan asas ketat konservatisme dan berinvestasi di saham perusahaan yang aman, punya potensi tumbuh, perusahaan yang dikelola oleh manajemen mumpuni dan berintegritas tinggi, serta harganya cukup menarik.

Tanpa punya hubungan keluarga, hubungan bisnis, atau informasi internal, tanpa mengenal salah satu sekuritas, tanpa memelototi layar transaksi tiap hari, kita bisa mengalahkan “bandar bursa” di meja permainan mereka, di pasar bursa.

Penutup

Istilah bandar yang dihubungkan dengan dunia investasi memang sangat populer di bursa kita. Ini adalah fenomena yang terjadi di bursa kita. Ya, anggap saja ada sosok seperti itu di pasar.

Harapan kita tentu saja regulator bisa memperbaiki iklim bursa sehingga peluang sekuritas melakukan transaksi sendiri sebagai spekulasi bisa diminimalisasi. Sekuritas tetap bisa bertransaksi tapi karena itu adalah pekerjaan mereka. Regulasi harus bisa mengatur kaitan hubungan, independensi sekuritas dari pemodal dan nasabah, sehingga transaksi yang terjadi murni karena nasabah bukan karena niatan sekuritas berspekulasi untuk mendapat keuntungan di tengah tipisnya peluang pendapatan dari biaya dan lainnya.

Dimuat pertama kali: 25 Oktober 2020
Dimutakhirkan: 19 Juni 2020

Cara Koboi Mengatur Tembakau

Kementerian Koordinator Perekonomian meminta pembatasan impor bahan baku rokok ditunda. Kementerian Perdagangan jalan terus.

Administrator

TERBIT pada November tahun lalu, polemik impor tembakau masih panas hingga berganti tahun. Kehebohan itu merembet sampai ke ruang rapat Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita. Pada akhir Januari, Enggar mengundang sejumlah asosiasi petani dan masyarakat pertembakauan.

Dalam rapat tersebut, Enggar menjelaskan isi pengaturan impor tembakau yang ia teken pada 2 November 2020. Rapat mulanya adem-ayem sampai kemudian Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Soeseno bicara. Dalam rekaman rapat yang diperoleh Tempo, Soeseno mengkritik habis kebijakan Enggar. “Apa Bapak bisa menjamin kesejahteraan petani naik setelah impor tembakau diatur? Kenapa tidak diatur kemitraannya dulu?” kata Soeseno kepada Enggar.

Ditentang habis, Enggar sempat naik pitam. “Bapak ini mewakili petani atau perusahaan?” Tidak mau memperpanjang perdebatan, Enggar buru-buru menutup rapat. Belakangan, ia sadar APTI sudah terbelah dua: yang dibina perusahaan rokok dan tidak. Di hadapan peserta rapat, dia bilang akan mengundang perwakilan APTI lainnya. “Ternyata saya salah mengundang.” Soeseno mengakui perdebatan dia dengan Enggar. “Menteri memang mengatakan seperti itu,” ujarnya.

Sejak terbit pada November tahun lalu, Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 84 Tahun 2020 tentang Ketentuan Impor Tembakau langsung memantik polemik. Industri rokok keberatan. Sebab, Kementerian Perdagangan mewajibkan perusahaan pengimpor tembakau-juga berlaku untuk importir umum-menyerap dulu tembakau petani lokal. Jenis tembakau impor yang diatur merupakan komponen pokok dalam sebatang rokok yang beredar di pasar: Virginia, Burley, dan Oriental. Jenis Virginia dan Burley sudah bisa ditanam di Indonesia, tapi produksinya belum mencukupi.

Aturan itu terbit setelah Kementerian Perdagangan melihat banyak hal ganjil dalam industri rokok nasional. Indonesia punya keunikan produk dalam bentuk sigaret kretek-Dewan Perwakilan Rakyat memasukannya sebagai warisan budaya dalam Rancangan Undang-Undang tentang Pertembakauan. Tapi kretek zaman sekarang banyak menggunakan tembakau impor. “Tren impor tembakau meningkat terus,” ucap Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita kepada Tempo, Kamis pekan lalu.

Tembakau Virginia mendominasi impor. Pada 2020, nilai impornya mencapai US$ 221,7 juta dengan volume 38.180 ton. Disusul jenis Oth sebanyak 12.300 ton dengan nilai US$ 90,2 juta, tembakau Oriental sebanyak 8.700 ton senilai US$ 61,3 juta, dan tembakau Burley 4.430 ton senilai US$ 26,512 juta.

Industri rokok keberatan dengan pengaturan itu. Dengan jalan memutar, mereka menolak melalui asosiasi-asosiasi. Di antaranya Gabungan Pengusaha Rokok Putih Indonesia (Gaprindo) dan Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (Gappri). Ketua Umum Gaprindo Muhaimin Moeftie mengakui asosiasinya menyurati Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution untuk meminta aturan itu ditunda. “Kami tembuskan ke Presiden,” kata Moeftie di kantornya, gedung Sucofindo, Jakarta Selatan, Kamis pekan lalu.

Disurati dari mana-mana, Darmin kemudian meminta Enggar menunda aturan impor tembakau tersebut. Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Oke Nurwan mengatakan surat Darmin itu masuk pada awal Januari. “Memang diminta menunda, tapi kami jalan terus,” kata Oke di kantornya, Selasa pekan lalu. Kementerian Perdagangan, menurut Oke, sudah melayangkan permohonan ke Direktorat Jenderal Bea dan Cukai agar Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 84 Tahun 2020 bisa segera diterapkan.

Asisten Deputi Peningkatan Ekspor dan Fasilitasi Perdagangan Internasional Kementerian Koordinator Perekonomian Sukma Ningrum mengatakan kementeriannya meminta penundaan tersebut bukan hanya karena desakan dari asosiasi. Terbitnya Peraturan Nomor 84 itu juga tanpa koordinasi dengan Kementerian Koordinator Perekonomian. “Padahal, sesuai dengan Instruksi Presiden Nomor 7 Tahun 2020, itu mesti dikoordinasikan dulu,” kata Ningrum, Kamis pekan lalu.

Instruksi presiden tersebut memang mengatur bahwa setiap kebijakan strategis dan berdampak luas yang akan dikeluarkan menteri harus dimintakan pertimbangan tertulis kepada menteri koordinator. Enggar mengakui koleganya di kabinet meminta Peraturan Nomor 84 ditunda. “Tapi sudah saya jelaskan ke Pak Darmin,” katanya.

Enggar menyebutkan kewajiban menyerap tembakau lokal itu akan melindungi petani. Ia berharap, dengan adanya kewajiban serap itu, perusahaan mau tak mau akan memperbanyak mitra petani agar bisa mendapat pasokan tembakau lokal sesuai dengan standar pabrikan.

Penolakan datang dari Senayan, tempat Dewan Perwakilan Rakyat berkantor. Ketua Panitia Khusus Rancangan Undang-Undang tentang Pertembakauan Firman Subagyo mengatakan Enggar mencolong start. “Enggar ini menyalip di tikungan, seolah-olah tampil jadi hero,” ucapnya. Menurut Firman, kewajiban serap dan pengaturan impor sebetulnya sudah dimasukkan oleh Pansus ke RUU Pertembakauan yang menjadi usulan DPR sejak 2020. Usulan DPR juga diklaim lebih komprehensif karena memperhatikan tembakau dari hulu sampai hilir.

NIAT Kementerian Perdagangan mengatur impor tembakau sudah bulat sejak awal tahun lalu. Seorang pejabat di Kementerian Perdagangan mengatakan mereka mendapat informasi bahwa Philip Morris, pemilik PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk (HMSP), mengoperasikan ribuan hektare lahan tembakau di luar negeri. Hasilnya kemudian diimpor oleh Indonesia.

Kementerian Perdagangan geram karena jenis tembakau yang dibudidayakan Philip Morris bisa ditanam di Indonesia. Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Oke Nurwan membenarkan memang ada praktik culas perusahaan rokok, dengan cara mengimpor tembakau yang mereka budi dayakan sendiri di luar negeri. Bahkan, menurut Oke, ada tembakau khas Indonesia yang ditanam di luar negeri. “Mereka memanfaatkan pasar kita yang besar karena di luar sana sudah diusir-usir,” ucapnya. “Tapi saya tidak mau sebutkan nama perusahaannya.”

Enggar enggan menanggapi dugaan bahwa Philip Morris mengimpor tembakau dari kebun sendiri di luar negeri. “Sebaiknya konfirmasi ke mereka,” ujarnya. Enggar mengatakan kebijakan perusahaan mempunyai kebun di luar negeri lalu mengimpornya ke Indonesia sebetulnya sah-sah saja. “Tapi izinkan kami mengatur impor mulai sekarang untuk melindungi petani lokal.”

Head of Fiscal Affairs & Communications Sampoerna Elvira Lianita membantah kabar bahwa perusahaannya memiliki perkebunan tembakau di luar negeri untuk memasok kebutuhan impor. “Perusahaan kami tidak pernah dan tidak memiliki perkebunan tembakau di Cina ataupun di negara lain, termasuk di Indonesia,” ujarnya dalam jawaban tertulis. Menurut Elvira, mayoritas pasokan tembakau Sampoerna berasal dari petani mitra melalui program sistem produksi terpadu. Elvira mengklaim perusahaannya sudah bermitra dengan 27.500 petani tembakau dengan luas lahan 24.500 hektare.

Munculnya nama Philip Morris-yang juga produsen Marlboro-sebagai alasan di balik penerbitan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 84 Tahun 2020 merebakkan isu persaingan pabrikan rokok. Pemilik saham Sampoerna itu tercatat sebagai penguasa pasar sigaret kretek mesin berkadar nikotin dan tar rendah-lebih dikenal dengan rokok mild. Ini adalah jenis rokok yang rakus tembakau impor karena ringan dan mudah terbakar.

General Affairs Pabrik Rokok Sukun, Agus Sardjono, mengatakan, di setiap batang rokok mild, ada 40 persen tembakau impor. “Maksimal segitu,” tuturnya, Rabu pekan lalu. Komposisi impornya lebih tinggi lagi di rokok putih. Tapi, menurut Agus, pengaturan impor tembakau tidak hanya memukul Philip Morris dan industri rokok putih. Pengaturan itu juga menembak industri rokok kretek, termasuk Sukun. Alasannya, ujar grader tembakau tersebut, sigaret kretek mesin jenis full flavor alias kretek filter pun rakus tembakau impor. “Komposisinya 30 persen impor,” kata Agus. “Jadi semua kena.”

Peneliti Lembaga Demografi Universitas Indonesia, Abdillah Ahsan, mengatakan meningkatnya impor tembakau dimulai setelah Philip Morris mengakuisisi Sampoerna pada 2005. Kenaikan impor juga seiring dengan naiknya pamor sigaret kretek mesin (SKM). Mengacu pada data Badan Kebijakan Fiskal, pangsa pasar kretek mesin mencapai 73 persen dari 438 miliar batang rokok yang diproduksi pada 2020. Kretek tangan hanya menggenggam 21 persen, sisanya 6 persen rokok putih. Total kenaikan pangsa pasar kretek mesin sebesar 10 persen mulai 2020 sampai 2020.

Pamor SKM makin naik karena keberhasilan industri membentuk selera konsumen. Pabrikan, kata Ahsan, juga lebih menyukai kretek mesin karena irit tenaga kerja, tidak boros buruh seperti kretek tangan. “Semua iklan rokok sekarang menyasar anak muda. Tidak ada yang menyasar konsumen kretek tangan,” ujar Ahsan. Efeknya berganda. Tenaga kerja makin sedikit, kebutuhan tembakau lokal makin sempit.

Saat ini, kata Ahsan, dari 73 persen pangsa sigaret kretek mesin, sebanyak 63 persen dikuasai perusahaan golongan I, yaitu dengan produksi di atas 3 miliar batang per tahun. Di spot inilah berkumpul 14 perusahaan jumbo, termasuk Philip Morris, Djarum, dan Gudang Garam. “Trennya sama saja sampai sekarang,” ujar Ahsan di kantornya, Selasa pekan lalu.

Ahsan, yang rajin meneliti industri rokok nasional, menyimpulkan, 14 perusahaan itulah yang menguasai pasokan tembakau. “Pasar input ini tidak bisa bersaing sempurna,” tuturnya. Dampaknya, posisi tawar petani tembakau kian rendah. Praktik jual-beli tembakau saat ini, menurut Ahsan, juga tidak menguntungkan petani. Sebab, kualitas tembakau ditentukan oleh selera grader dari pabrik.

Ahsan menyebutkan, itulah anomali industri rokok nasional. Yang menanam tembakau petani lokal, yang merokok konsumen nasional, tapi yang banyak dipakai tembakau internasional. “Tidak mungkin perusahaan rokok jadi sinterklas dengan membeli daun tembakau lokal yang lebih mahal,” ujarnya.

Pengaman dari Ruang Kendali

Tim mahasiswa Institut Teknologi Bandung membuat sistem pengaman tambahan untuk mengatasi keterbatasan ruang pandang operator ekskavator. Membantu menekan tingkat kecelakaan kerja.

Tempo

TIM mahasiswa Teknik Elektro Institut Teknologi Bandung membuat Excavator Visualization Assistant System untuk membantu tugas pengemudi ekskavator. Tim yang beranggotakan Dominique Jeffrey Alamaro Maximilianus, Tegar Satria Nurhuda, dan Reza Guleta Matra Hutama itu merancang sistem pengaman pengoperasian alat berat tersebut sejak tahun lalu. “Latar belakangnya adalah kekurangan visibilitas operator ekskavator di lapangan,” kata Dominique pada Rabu, 7 Agustus lalu.

Gangguan ruang pandang tersebut bisa berujung pada kecelakaan saat alat berat beroperasi, antara lain ekskavator menjangkau kabel listrik, menyabet benda sekitarnya, menggaruk pipa atau jaringan kabel bawah tanah, atau kendaraan terperosok. Berdasarkan jurnal yang dipelajari saat membuat sistem ini, menurut Reza, sebanyak 9 dari 10 kasus kecelakaan ekskavator terjadi karena masalah ruang pandang yang dialami pengemudi.

Excavator Visualization Assistant System (EVA System) turut dipamerkan bersama karya puluhan mahasiswa lain di Aula Timur ITB pada 5-7 Agustus lalu. Penggunaan sistem ini dapat membantu menekan potensi terjadinya kecelakaan kerja ekskavator di lapangan. “Perangkat ini bisa ditambahkan di ekskavator yang sudah jadi atau dipasang sejak pabrikasi,” ujar Reza.

Aplikasi EVA System dipasang di kabin kemudi untuk langsung digunakan operator ekskavator. Sistem ini bekerja dengan konsep membuat zona aman di sekeliling ekskavator, yang seperti memiliki batas vertikal dan horizontal.

Sebelum mengoperasikan ekskavator, pengemudi memasukkan jarak aman sisi kiri-kanan, depan-belakang, dan atas-bawah. Jika ada tembok, bangunan, kabel listrik, jaringan pipa, atau kabel bawah tanah, jarak alat berat ke obyek-obyek tersebut dihitung atau diperkirakan dulu, lalu angkanya dimasukkan ke aplikasi. “Penggunaannya enggak ribet, cuma isi jarak aman itu dulu,” kata Tegar.

Pengaman dari Ruang Kendali/TEMPO

Setelah itu, operator bisa bekerja seperti biasa. Seandainya lengan ekskavator melanggar batas jarak aman, sistem akan memberikan peringatan. Di layar monitor akan terlihat gambar bingkai merah berpendar berulang-ulang. Untuk sementara, peringatan bahaya yang dipasang baru mode visual. “Nanti bisa dipasang alarm suara,” ujar Tegar.

Sistem peringatan itu bekerja dengan bantuan empat sensor yang dipasang di badan, lengan, dan pengeruk ekskavator. “Untuk mengukur sudut ruas-ruas ekskavator,” kata Dominique. Data pergerakan kendaraan yang ditangkap empat sensor dikirim ke perangkat pengendali utama sistem.

Terminal yang mengatur lalu lintas data sensor melakukan penghitungan. Jika kalkulasi menunjukkan pelanggaran batas aman, peringatan langsung muncul di layar monitor yang tersambung dengan kabel. “Sistem ini tidak menggunakan server,” ujar Tegar.

Pengembangan EVA System ini menghabiskan dana sekitar Rp 10 juta, yang berasal dari kampus dan uang pribadi anggota tim. Tim itu berencana mengembangkan sistemnya untuk bisa mengambil alih kendali saat terjadi indikasi pelanggaran zona aman.

Harga jual sekaligus biaya pemasangan sistem pengaman ini Rp 50-100 juta. Mereka menargetkan sistem ini bisa dipasang di ekskavator dalam negeri lebih dulu. “Supaya tidak kalah fiturnya dengan produk impor,” kata Reza.

Peringkat broker opsi biner:
Tempat berinvestasi
Tinggalkan Balasan

;-) :| :x :twisted: :smile: :shock: :sad: :roll: :razz: :oops: :o :mrgreen: :lol: :idea: :grin: :evil: :cry: :cool: :arrow: :???: :?: :!: