Strategi Komunikasi Mahasiswa

Peringkat broker opsi biner:

Strategi Komunikasi Mahasiswa

TOOLS for JOURNAL :

IN COORPORATION WITH (MOU):

Feliza Zubair
Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran
Indonesia

Retasari Dewi
Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran
Indonesia

Ade Kadarisman
Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran
Indonesia

Published by:
Program Studi Ilmu Komunikasi
Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Jl Marsda Adisucipto Yogyakarta 55281 Indonesia
Telp. 082136316001
email: [email protected]

LOGIN FOR AUTHOR

TEMPLATE ARTICLE FORM

INDEXED BY:

Peringkat broker opsi biner:

Strategi Komunikasi Publik Dalam Membangun Pemahaman Mahasiswa Terhadap Penerapan PTNBH

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi komunikasi publik yang dilakukan oleh Humas Institut Pertanian Bogor (IPB) dalam membangun pemahaman mahasiswa IPB terhadap penerapan PTNBH. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Wawancara mendalam dilakukan kepada Kabid Humas IPB dan Ketua Bem IPB, observasi dan studi pustaka .Teori yang digunakan adalah Kontruksi Atas Realitas, teori Stakeholder, teori Relationship Management dan konsep Komunikasi Publik. Hasil penelitian menunjukan bahwa pihak IPB mengkonstruksi esensi dari PTNBH yaitu otonomi, keleluasaan dalam penyelenggaraan rumah tangganya untuk menghasilkan pendidikan yang bermutu, ke dalam program-program yang dapat mendukung kemajuan mahasiswa. IPB dapat membangun hubungan menejerial yang alamiah dengan mahasiswa. Penelitian ini menunjukan bahwa strategi komunikasi publik yang dilakukan lembaga dapat membentuk kesepahaman dalam upaya menjaga relasi yang saling menguntungkan antara pengelola atau menejemen IPB/PTNBH dengan mahasiswa.

Kata kunci: PTNBH, Strategi, Komunikasi publik, Otonomi

The purpose of the research is to analyse the strategy of public communication implemented by Institut Pertanian Bogor (IPB) in developing comprehension of its students towards PTNBH implementation. Method used is qualitative with case study approach. Deep interview is done with Public Relations Head of IPB and Head of BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa or Students Executive Board). In addition, this research involves observation and literature study. Theories used in this research are social construct of reality, stakeholder theory, relationship management, and public communication. Result shows that IPB has constructed the PTNBHs essence of autonomy, freedom in managing its own administration of high quality education, programs in supporting students activities. IPB has the capabilities of developing a natural managerial connection with its students. The result also shows that public communication strategy implemented by institution would be able to create understanding and beneficial relationship between administrator/management of IPB and its students.

Keywords: PTNBH, Strategy, Public communication, Autonomy.

Keywords

Full Text:

References

Annisarizki. 2020. “Peran Humas PT. PLN (Persero) APJ Banten Utara Sebagai Proses Pemecahan Masalah.” Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Serang Raya.

Ardianto, Elvinaro. 2020. Metodologi Penelitian Untuk Public Relations. Bandung: Simbiosa.

Denzin, N.K. dan Linkoln Y.S. 2009. Handbook of Qualitative Research (Edisi Bahasa Indonesia). Jogyakarta: Puataka Pelajar.

Effendi, Onong Uchjana. 2008. Dinamika Komunikasi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Hadi, Nor. 2020. Corporate Social Responsibility. Yogyakarta: Graha.

Herdiana, Dedi, and Khoiruddin. 2020. “Peran Dan Strategi Humas Dalam Pembentukan Citra Perguruan Tinggi Islam.” ANIDA (Aktualisasi Nuansa Ilmu Dakwah) 15 (2): 317–38.

Https://news.detik.com/berita/3202035/ribuan-mahasiswa-ugm-masih-demo-hingga-sore-ini-polisi-berjaga-jaga. n.d. “No Titl.”

Https://siarpersma.id/2020/08/27/ptn-bh-perayaan-kemunduran-demokrasi/. n.d. “No Tit.”

Https://www.kompasiana.com/ratnapratiwi/perguruan-tinggi-negeri-badan-hukum-di-indonesia. n.d. “No.”

Ilmiati, Novi Rahma. 2020. “Peran PR Dalam Konstruksi Citra Perguruan Tinggi Muhammadiyah Di Yogyakarta.” Jurnal Ilmu Komunikasi 12 (12): 1–81.

Karman. n.d. Konstruksi Realitas Sosial, Sebagai Gerakan Pemikiran: Sebuah Telaah Teoretis Terhadap Konstruksi Dan Informatika. Volume 5 No 3 2020 Hal. 11-23.

Kriyantono, Rachmat. 2020. Teori-Teori Public Reltions Perspektif Barat Dan Lokal. Jakarta: Media Grup Kencana Prenada.

Kuswarno, Engkus. 2020. Metode Penelitian Komunikasi Fenomenologi. Jakarta: Widya Padjajaran.

Maudia, Fasya, Hanny Hafiar, Anwar Sani, Fakultas Ilmu Komunikasi, and Universitas Padjajaran. 2020. “Kontruksi Makna Reputasi Digital Melalui Perspektif Penyiar Radio.” Profetik Jurnal Komunikasi 11 (01): 54–70.

Rini, Kurnia Setiyo, Sugeng Rusmiwari, Herru Prasetya Widodo, Program Studi, Ilmu Komunikasi, and Universitas Tribhuwana Tunggadewi. 2020. “Peran Humas Dalam Meningkatkan Citra Universitas Tribhuwana Tunggadewi.” JISIP: Jurnal Ilmu Sosial Dan Politik 6 (1): 34–37.

Yin, R.K. 2020. Studi Kasus Desain Dan Metode. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Refbacks

  • There are currently no refbacks.

Strategi Komunikasi Mahasiswa Universitas SOUSSE Dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia

Oleh: Dedi Supriyanto; Widyaiswara Bahasa Arab PPPPTK Bahasa

Dedi Supriyanto bersama mahasiswa BIPA Universitas Sousse

Dalam pemelajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA), para pemelajar selalu berusaha berkomunikasi dengan baik sehingga dapat dimengerti oleh lawan bicara. Meskipun kenyataannya kemampuan bahasa Indonesia mereka yang terbatas dan masih pada tahap dasar membuat mereka sering menggunakan berbagai strategi komunikasi agar tujuan dari komunikasi mereka dapat tercapai. Tulisan ini bertujuan untuk menjelaskan bentuk strategi komunikasi yang digunakan mahasiswa level dasar (A1-A2) dalam pembelajaran BIPA di Universitas Sousse, Tunisia.

Strategi komunikasi merupakan paduan dari perencanaan komunikasi dan manajemen komunikasi untuk mencapai suatu tujuan. Tipologi dari Torone (1980) dalam Ghazali (2020: 141) menggunakan perspektif interaksional yaitu memandang bahwa strategi komunikasi berfungsi untuk menjembatani kesenjangan antara pengetahuan linguistik dari pemelajar bahasa kedua dengan lawan bicaranya dalam situasi komunikasi nyata. Untuk mengatasi masalah-masalah komunikasi, pemelajar bahasa kedua dapat menggunakan (a) strategi transfer dari bahasa pertamanya (seperti penerjemahan, beralih menggunakan bahasa pertama, menggunakan gerak tubuh), (b) strategi bahasa kedua yang artinya kira-kira sama dengan yang dimaksud, membuat kata baru atau menjelaskan dengan perumpamaan, atau (c) strategi reduksi, yaitu berhenti menjelaskan dan beralih ke masalah lain atau menghindari topik yang tidak dikuasai. Pemelajar asing menggunakan strategi komunikasi untuk menyiasati keterbatasannya dalam bahasa kedua. Dengan strategi komunikasi dapat ditempuh beberapa cara memakai komunikasi secara sadar untuk menciptakan perubahan pada diri dengan mudah dan cepat. Strategi komunikasi ini yang akan dicoba oleh penelliti untuk diteliti menyangkut perilaku verbal dan non-verbal mereka dalam berkomunikasi dan berinteraksi baik di dalam kelas maupun di luar kelas. Tentunya strategi komunikasi yang digunakan para pemelajar bahasa Indonesia ini banyak dipengaruhi oleh bahasa pertamanya, yakni bahasa Arab sehingga mereka terkadang mengenyampingkan kaidah-kaidah kebahasaan dari bahasa target yakni bahasa Indonesia. Menurut Purwoko (2020:85-90) terdapat sepuluh bentuk strategi komunikasi yang dilakukan penutur asing dalam mengemukakan maksudnya, yaitu: (1) topikalisasi, (2) cek pemahaman, (3) cek konfirmasi, (4) parafrase, (5) back-channel, (6) umpan balik, (7) dekomposisi, (8) strategi interpretatif, (9) frame/pembatas, dan (10) koreksi diri. Lebih lanjut Purwoko juga menjelaskan bahwa para penutur asing yang mempunyai keterbatasan kosakata dan pemahaman tata bahasa juga cederung membuat beberapa strategi untuk memperlancar komunikasi, seperti: (1) pendekatan, (2) pembentukan kata, (3) parafrasa, (4) peminjaman, (5) peragaan, (6) ganti topik, dan (7) menghindari topik. (201:15).

Dalam praktik sehari-hari, pemelajar mahasiswa Tunis menggunakan sepuluh jenis strategi komunikasi dalam menggunakan bahasa Indonesia. Sepuluh strategi tersebut yaitu.

Pelesapan yang dilakukan pemelajar bahasa Indonesia berbentuk pelesapan atau penghilangan kata depan dan subjek. Contoh pelesapan kata depan seperti kalimat berikut ini, “Saya mau kampus.” Maksudnya adalah “Saya mau ke kampus.” Contoh lainnya, “Mereka tengah malam.” Maksudnya adalah “Mereka di tengah malam.” Adapun contoh pelesapan subjek seperti kalimat, “Mau pergi.” Yang dimaksud kalimat tersebut adalah “Saya mau pergi.” Contoh lainnya “sudah tiba.” Maksudnya “Dia sudah tiba.” Dalam proses pembelajaran baik di dalam maupun di luar kelas, strategi komunikasi dalam bentuk pelesapan dapat ditemukan dalam komunikasi sehari-hari baik lisan maupun tulisan. Umumnya pemelajar melakukan pelesapan dalam menggunakan kata depan dan pelesapan unsur kalimat, seperti subjek.

2. Pengulangan tuturan

Pengulangan tuturan merupakan strategi mengulangi apa yang dituturkan oleh pengajar atau rekan yang diajak bicara baik secara keseluruhan maupun sebagian. Strategi ini sering dilakukan oleh pemelajar BIPA, seperti pertanyaan yang diajukan oleh pengajar, “Apa nama Ibu kota negara Indonesia?” Mereka mungkin belum paham dengan maksud dari pertanyaan itu sehingga mereka mengulangi pertanyaan tersebut untuk memastikan dan mendapatkan kesempatan menjawab pertanyaan tersebut dengan benar. Kemudian mereka mengulang sebagian pertanyaan di atas dengan pengulangan yang serupa, “Ibu kota?” Adapula contoh ketika pengajar bertanya kepada salah seorang pemelajar, “Siapa presiden Indonesia yang sekarang?” Kemudian pemelajar menjawab dengan mengulangi tuturan atau pertanyaan pengajar dengan mengatkan,“presiden?” Demikianlah beberapa contoh pengulangan tuturan yang dilakukan oleh pemelajar dalam berkomunikasi dan berinteraksi dalam bahasa Indonesia. Dalam proses pembelajaran di dalam maupun di luar kelas, ada pemelajar yang kerap menggunakan pengulangan tuturan dalam berkomunkasi. Mereka menggunakan strategi ini untuk mendapatkan pemahaman yang lebih jelas tentang hal yang belum mereka pahami atau ketahui dalam berkomunikasi.

3. Peminjaman istilah asing

Peminjaman istilah dari bahasa asing terutama dalam bahasa Inggris merupakan strategi yang juga membantu ketika mereka tidak tahu dengan kata-kata tertentu dalam bahasa Indonesia sehingga digunakanlah istilah asing (bahasa Inggris). Contohnya penggunaan istilah asing dari bahasa Inggrs pada kalimat “Saya love Indonesia.” Maksud dari kalimat itu adalah “Saya cinta Indonesia.” Contoh lainnya, “Saya ingin seeing Anda.” Maksudnya adalah “Saya ingin melihat Anda.” Peminjaman istilah asing seperti di atas juga sering dilakukan pemelajar dalam berkomunikasi baik di dalam maupun di luar kelas.

4. Penerjemahan dari bahasa Indonesia ke bahasa Arab

Penerjemahan ini terkadang dilakukan pemelajar secara harfiah sehingga kalimatnya kadang menjadi tercampur antara bahasa Indonesia dan bahasa Arab. Apalagi terkadang pemelajar menggunakan bahasa Arab amiyah (pasaran) dalam menerjemahkan. Contohnya kalimat ”labass.” Yang dimaksud adalah “Saya baik-baik saja.”Adapula yang menggunakan kalimat “kif-kif.” Maksudnya adalah “Sama saja.” Adapula pemelajar yang mengucapkan “Isyhnahwalak?” Maksdunya dia bertanya ke kawannya “Apakah kabarmu?” Penerjemahan dari bahasa Arab ke bahasa Indonesia dalam strategi komunikasi juga sering dilakukan oleh pemelajar ketika berkomunikasi baik secara secara lisan maupun tulisan.

5. Penggunaan benda-benda di sekitar

Penggunaan benda-benda yang ada di sekitar digunakan untuk membantu pemelajar dalam menjelaskan sesuatu kepada pengajar maupun teman-temannya. Contohnya pemelajar memegang kertas kuis untuk menjelaskan alat yang akan digunakan untuk tanya jawab menggunakan bahasa Indoensia dalam kelompok. Adapula pemelajar yang memegang dan mengangkat pulpen untuk menjelaskan bahwa temannya sebaiknya menulis dengan menggunakan pulpen. Penggunaan benda-benda di sekitar dalam strategi komunikasi juga sering dilakukan oleh pemelajar ketika berkomunikasi baik secara secara lisan maupun tulisan.

6. Pengucapan dan penulisan huruf yang sering terjadi

Pengucapan dan penulisan huruf e menjadi i, pada kalimat: “Saya mau pergi ki Indonesia.” Seharusnya “Saya mau pergi ke Indonesia”. Kemudian “Pak Didi.” Seharusnya “Pak Dedi.” Kesalahan pengucapan dan penulisan huruf /e/ menjadi /i/ sering terjadi dalam komunikasi baik lisan mauun lisan karena dalam bahasa Arab tidak terdapat pengucapan dan penulisan huruf /e/, sehingga ketika pemelajar melakukan pengucapan atau penulisan huruf /e/ dalam bahasa Indonesia justru mereka menggunakan huruf vokal /ي / dalam bahasa Arab yang pengucapannya mirip huruf /i/ dalam bahasa Indonesia.

7. Peragaan

Pemelajar juga ada yang menggunakan peragaan atau gerak tubuh untuk menunjukkan sesuatu yang dimaksud, seperti ketika ingin menunjukkan “Saya…..” (sambil dia menunjuk dirinya dan menunjuk ke depan menggunakan tangannya), artinya bahwa pemelajar itu ingin maju dan tampil ke depan atau dia akan mengatakan“Saya mau maju ke depan.” Ada pula yang menyatakan Indonesia adalah negara yang luas dengan cara mengatakan “Indonesa…” lalu ia mengangkat tangan dan membentangkannya, maksudnya adalah “Indonesia adalah negara yang sangat luas.” Peragaan dalam strategi komunikasi dilakukan oleh pemelajar ketika berkomunikasi baik secara secara lisan maupun tulisan.

8. Penggunaan suara mulut

Strategi ini dilakukan untuk membantu pemelajar dalam berkomunikasiterutama secara lisan.Ini dilakukan sebagai jeda untuk berpikir dalam mengungkapkan kata-kata berikutnya yang akan diucapkan. Ada pemelajar yang mengatakan, “Saya Pak, Oh….saya bisa”. Adapula yang mengatakan, “Saya kuliah di Universitas Sousse, eh…..saya senang belajar bahasa Indonesia.” Suara mulut tersebut merupakan bagian dari strategi komunikasi yang digunakan pula oleh pemelajar saat berkomunikasi sehari-hari. Strategi ini dilakukan agar komunikasi tetap berjalan lancar dan sesuai tema pembicaraan.

9. Parafrasa

Parafrasa adalah menjelasakan suatu hal yang sama dengan jalan yang berbeda. Contoh, pemelajar ingin menjelaskan bahwa Indonesia adalah negara kepulauan, kemudian ditulis menggunakan parafrase “Indonesia memiliki banyak pulau berjumlah 17.000 pulau dari Sabang sampai Merauke” adapula yang ingin mengatakan bahwa ia akan lulus tahun depan kemudian menggunakan parafrase “ Saya setelah tiga tahun belajar di sini, akan selesai belajar tahun depan, jadi belajar tiga tahun di sini.”

10. Ganti topik

Ganti topik merupakan strategi untuk berganti atau beralih ke pembicaraan atau topik lain dalam komunikasi yang sedang berlangsung. Contoh, ada pemelajar yang diminta oleh kawannya untuk menjelaskan tentang hobi tapi pemelajar tersebut lebih memilih untuk bercerita tentang diri sendiri dan keluarga. Adapula pemelajar yang ditanya oleh kawannya, “Kapan kamu mau menikah” lalu ia menjawab dengan mnegalhkan topik pembicaraan dengan menjawab “terima kasih, terima kasih”.

Semua strategi komunikasi di atas dipergunakan oleh para pemelajar pada setiap kesempatan berkomunikasi baik secara lisan maupun tulis sehingga pada saat yang bersamaan dapat terjadi beberapa strategi yang sama atau berbeda yang digunakan oleh pemelajar saat menggunakan bahasa Indonesia. Semua itu dilakukan agar mereka dapat berkomunikasi dengan baik satu sama lain baik di dalam maupun di luar kelas.

Victoria Concordia Crescit

Victory Comes Through Harmony

Recent Posts

Recent Comments

Categories

Arsenal

Universitas Gunadarma

Strategi Komunikasi Dalam Organisasi

UNIVERSITAS GUNADARMA

FAKULTAS ILMU KOMPUTER & TEKNOLOGI INFORMASI

Strategi Komunikasi Dalam Organisasi

Faris Ghosy Armada 13113252 2KA25

Filar Rozi 1A113735 2KA25

Lokito Romdhon 1A113857 2KA25

Universitas Gunadarma

2020

BAB I

Pendahuluan

  • Latar Belakang

Manusia merupakan makhluk sosial yang sangat membutuhkan komunikasi. Hal ini tidak lepas juga dari sebuah organisasi. Organisasi yang baik adalah organisasi yang mampu menjalankan komunikasi antar anggotanya dengan baik.

Organisasi merupakan suatu kumpulan atau sistem individual yang melalui suatu hierarki/jenjang dan pembagian kerja, berupaya mencapai tujuan yang ditetapkan. Manusia di dalam kehidupannya harus berkomunikasi artinya memerlukan orang lain dan membutuhkan kelompok atau masyarakat untuk saling berinteraksi. Di antara kedua belah pihak harus ada two-way-communications atau komunikasi timbal balik, untuk mencapai cita-cita, baik cita-cita pribadi, maupun kelompok, untuk mencapai tujuan suatu organisasi.

  • Tujuan
  1. Mengembangkan kemampuan mahasiswa dalam Organisasi terutama dalam Komunikasi.
  2. Memenuhi salah satu tugas mata kuliah Teori Organisasi Umum II.
  • Rumusan Masalah
  1. Apakah pengertian dan arti komunikasi?
  2. Apakah komunikasi dalam organisasi?
  3. Apa saja jenis dan proses Komunikasi?
  4. Menyelesaikan studi kasus Komunikasi di dalam Organisasi.
    • Suatu perusahaan dengan karyawan sejumlah 200 orang sedang memiliki masalah keuangan dalam hal asuransi, yaitu adanya perubahan kebijakan asuransi kesehatan karyawan yang tadinya merupakan asuransi Managed Care, berubah menjadi asuransi Indemnity.

Bagaimana strategi untuk mengkomunikasikan kebijakan baru tersebut dengan karyawan?

BAB II

Landasan Teori

2.1 Pengertian Komunikasi

Komunikasi adalah alat pengalihan informasi dari akumunikator kepada komunikasi agar antara mereka dapat interaksi (Hasibuan, 2002:81). Komunikasi adalah satu usaha praktek dalam mempersatukan pendapat-pendapat, ide-ide, persamaan pengertian dan persatuan kelompok. Sedangkan menurut Ribbins dan Coulter (2004) mengatakan pengertian komunikasi adalah penyampaian dan pemahaman suatu maksud.

Komunikasi atau communicaton berasal dari bahasa Latin communis yang berarti ‘sama’. Communico, communicatio atau communicare yang berarti membuat sama (make to common). Secara sederhana komunikasi dapat terjadi apabila ada kesamaan antara penyampaian pesan dan orang yang menerima pesan. Oleh sebab itu, komunikasi bergantung pada kemampuan kita untuk dapat memahami satu dengan yang lainnya (communication depends on our ability to understand one another). Pada awalnya, komunikasi digunakan untuk mengungkapkan kebutuhan organis. Sinyal-sinyal kimiawi pada organisme awal digunakan untuk reproduksi. Seiring dengan evolusi kehidupan, maka sinyal-sinyal kimiawi primitif yang digunakan dalam berkomunikasi juga ikut berevolusi dan membuka peluang terjadinya perilaku yang lebih rumit seperti tarian kawin pada ikan. Manusia berkomunikasi untuk membagi pengetahuan dan pengalaman. Bentuk umum komunikasi manusia termasuk bahasa sinyal, bicara, tulisan, gerakan, dan penyiaran. Komunikasi dapat berupa interaktif, komunikasi transaktif, komunikasi bertujuan, atau komunikasi tak bertujuan. Melalui komunikasi, sikap dan perasaan seseorang atau sekelompok orang dapat dipahami oleh pihak lain. Akan tetapi, komunikasi hanya akan efektif apabila pesan yang disampaikan dapat ditafsirkan sama oleh penerima pesan tersebut.

Walaupun komunikasi sudah dipelajari sejak lama dan termasuk barang antik, topik ini menjadi penting khususnya pada abad 20 karena pertumbuhan komunikasi digambarkan sebagai penemuan yang revolusioner, hal ini dikarenakan peningkatan teknologi komunikasi yang pesat seperti radio. Televisi, telepon, satelit dan jaringan komuter seiring dengan industrialisasi bidang usaha yang besar dan politik yang mendunia. Komunikasi dalam tingkat akademi mungkin telah memiliki departemen sendiri dimana komunikasi dibagi-bagi menjadi komunikasi masa, komunikasi bagi pembawa acara, humas dan lainnya, namun subyeknya akan tetap. Pekerjaan dalam komunikasi mencerminkan keberagaman komunikasi itu sendiri.

Aktifitas komunikasi memiliki ruang lingkup yang sangat luas. Apabila kajian komunikasi dihubungkan dengan organisasi timbul suatu kajian tentang komunikasi organisasi. Organisasi merupakan salah satu konteks penting dalam komunikasi.

2.2 Komunikasi Organisasi

Komunikasi organisasi adalah pengiriman dan penerimaan berbagai pesan organisasi di dalam kelompok formal maupun informal dari suatu organisasi (Wiryanto dalam Iqbal, 2005). Komunikasi formal adalah komunikasi yang disetujui oleh organisasi itu sendiri dan sifatnya berorientasi kepentingan organisasi. Orientasi nya bukan pada organisasi tapi lebih kepada anggotanya secara individual.

Komunikasi dalam organisasi adalah juga dapat diartikan sebagai komunikasi suatu organisasi yang dilakukan pimpinan, baik dengan para karyawan maupun dengan khalayak yang ada kaitannya dengan organisasi, dalam rangka pembinaan kera sama yang serasi untuk mencapai tujuan dan sasaran organisasi (effendi dalam Iqbal). Price mendefinisikan komunikasi organisasi sebagai derajat atau tingkat informasi tentang pekerjaan yang dikirimkan organisasi untuk anggota dan diantara anggota organisasi.

Korelasi antara ilmu komunikasi dengan organisasi terletak pada peninjauannya yang terfokus kepada manusia-manusia yang terlibat dalam mencapai tujuan organisasi itu. Ilmu komunikasi mempertanyakan bentuk komunikasi apa yang berlangsung dalam organisasi, metode dan teknik apa yang dipergunakan, media apa yang dipakai, bagaimana prosesnya, faktor-faktor apa yang menjadi penghambat, dan sebagainya.

2.3 Jenis Komunikasi

Untuk mengetahui komunikasi antara pimpinan perusahaan dengan karyawan komunikasi dibedakan menjadi tiga menurut jenisnya: (Soejono Trimo, Analisis Kepemimpinan Angkasa Bandung. 1986)

1. Downward Communication

Koordinasi melalui rencana yang telah dibuat (by plan) yang dapat dikatakan koordinasi itu mencapai bentuk komunikasi yang akhirnya berjalan kebawah. Komunikasi ini bersifat satu arah dari pemimpin kepada bawahanya. Informasi yang disampaikan meliputi antara lain, kebijaksanaan pemimpin, peraturan, ketentuan yang harus diikuti oleh pekerja. jadwal kegiatan atau program dan alokasi sumber-sumber.

Makin jelas atau pasti suatu kegiatan atau pekerjaan makin kurang bimbingan atau pemrosesaninformasi yang diperlukan, sehingga pemimpin cukup mengkoordinasikan pekerjaan bawahan melalui rencanakerja yang telah disiapkan.

2. Upward Communication

Koordinasi melalui umpan balik (feedback), berarti komunikasi teratur keatas, dari bawahan kepimpinan terutama dalam melaksanakan pekerjaan-pekerjaan yang bersifat teknis, pemimpin atau manajer sangat memerlukan input informasi yang berupa laporan, saran dari bawahan untuk dapat mengkoordinasikan seluruh kegiatan itu.

3. Komunikasi Horizontal atau Diagonal

Koordinasi melalui interaksi lateral sebenarnya merupakan satu alur komunikasi atau informasi yang sifatnya horizontal atau diagonal antar departemen/unit-unit dalam organisasi.

2.4 Proses Komunikasi

Proses komunikasi adalah bagaimana komunikator menyampaikan pesan kepada komunikannya, sehingga dapat menciptakan suatu persamaan makna antara komunikan dengan komunikatornya. Proses komunikasi ini bertujuan untuk menciptakan komunikasi yang efektif (sesuai dengan tujuan komunikasi pada umumnya). Proses komunikasi termasuk juga suatu proses penyampaian informasi dari satu pihak ke pihak lain dimana seseorang atau beberapa orang, kelompok, organisasi dan masyarakat menciptakan dan menggunakan informasi agar terhubung dengan lingkungan dan orang lain. Komunikasi berasal dari bahasa latin communis yang berarti sama. Communico, communicatio atau communicare yang berarti membuat sama. Secara sederhana komunikasi dapat terjadi apabila ada kesamaan antara penyampaian pesan dan orang yang menerima pesan.

Pada umumnya komunikasi dilakukan secara lisan atau verbal yang dapat dimengerti oleh kedua belah pihak. Apabila tidak ada bahasa verbal yang dapat dimengerti oleh keduanya, komunikasi masih dapat dilakukan dengan menggunakan gerak-gerik badan, dan menunjukkan sikap tertentu seperti tersenyum, mengangkat bahu dan sebagainya. Komunikasi ini disebut komunikasi nonverbal. Proses komunikasi bertujuan untuk menciptakan komunikasi yang efektif (sesuai dengan tujuan komunikasi pada umumnya). Proses komunikasi dapat terjadi apabila ada interaksi antar manusia dan ada penyampaian pesan untuk mewujudkan motif komunikasi. Melalui komunikasi sikap dan perasaan seseorang atau sekelompok orang dapat dipahami oleh pihak lain.

2.5 Fungsi Komunikasi

Komunikasi menjalankan empat fungsi utama dalam organisasi atau perusahaan yaitu (Robbins, 2006:392) :

Fungsi komunikasi ini untuk mengendalikan perilaku anggota dengan beberapa cara. Setiap organisasi mempunyai wewenang dan garis panduan formal yang harus dipatuhi oleh pegawai.

Bila pegawai, misalnya, diminta untuk terlebih dahulu mengkomunikasikan setiap keluhan yang berkaitan dengan pekerjaan ke atasan langsungnya, sesuai dengan uraian tugasnya, atau sesuai dengan kebijakan perusahaan, komunikasi itu menjalankan fungsi pengendalian. Namun komunikasi informal juga mengendalikan perilaku.

Komunikasi memperkuat motivasi dengan menjelaskan ke para pegawai apa yang harus dilakukannya.

Seberapa baik mereka bekerja, dan apa yang dapat dikerjakan untuk memperbaiki kinerja yang dibawah standar.

3. Pengungkapan emosi

Komunikasi yang terjadi di dalam kelompok atau organisasi merupakan mekanisme fundamental dimana para anggota menunjukkan kekecewaan dan kepuasan. Oleh karena itu, komunikasi memfasilitasi pelepasan ungkapan emosi perasaan dan pemenuhan kebutuhan sosial.

Komunikasi memberikan informasi yang diperlukan dan kelompok untuk mengambil keputusan melalui penyampaian data guna mengenali dan mengevaluasi pilihan-pilihan alternatif.

2.6 Asuransi

Asuransi adalah istilah yang digunakan untuk merujuk pada tindakan, sistem, atau bisnis di mana perlindungan finansial (atau ganti rugi secara finansial) untuk jiwa, properti, kesehatan dan lain sebagainya mendapatkan penggantian dari kejadian-kejadian yang tidak dapat diduga yang dapat terjadi seperti kematian, kehilangan, kerusakan atau sakit, di mana melibatkan pembayaran premi secara teratur dalam jangka waktu tertentu sebagai ganti polis yang menjamin perlindungan tersebut.

Asuransi dalam Undang-Undang No. 2 Th 1992 tentang usaha perasuransian adalah perjanjian antara dua pihak atau lebih, dengan mana pihak penanggung mengikatkan diri kepada tertanggung, dengan menerima premi asuransi, untuk memberikan penggantian kepada tertanggung karena kerugian, kerusakan atau kehilangan keuntungan yang diharapkan atau tanggung jawab hukum pihak ke tiga yang mungkin akan diderita tertanggung, yang timbul dari suatu peristiwa yang tidak pasti, atau memberikan suatu pembayaran yang didasarkan atas meninggal atau hidupnya seseorang yang dipertanggungkan. Badan yang menyalurkan risiko disebut tertanggung, dan badan yang menerima risiko disebut penanggung. Perjanjian antara kedua badan ini disebut kebijakan: ini adalah sebuah kontrak legal yang menjelaskan setiap istilah dan kondisi yang dilindungi. Biaya yang dibayar oleh tertanggung kepada penanggung untuk risiko yang ditanggung disebut premi. Ini biasanya ditentukan oleh penanggung untuk dana yang bisa diklaim di masa depan, biaya administratif, dan keuntungan.

2.7 Asuransi Managed Care

Asuransi dengan sistem managed care akan menyediakan layanan menyeluruh sesuai kebutuhan medis, pola rujukan terstruktur dan berjenjang oleh provider (Pemberi Pelayanan Kesehatan/PPK) yang terseleksi. Keduanya tentu mengintegrasikan sistem pelayanan kesehatan dan sistem pembiayaan.

2.8 Asuransi Indemnity

Asuransi pihak asuransi memberikan kebebasan kepada peserta untuk mendapatkan pelayanan kesehatan di provider (dokter, klinik, rumah sakit) manapun, tanpa memberikan perhatian lebih kepada kualitas pelayanan yang diberikan oleh provider. Selanjutnya, setelah mendapatkan pelayanan, peserta akan melakukan klaim kepada perusahaan Asuransi, untuk mendapatkan nilai ganti. Namun peserta akan mendapatkan beberapa pembatasan, misalnya setiap tahun perusahaan Asuransi hanya mengganti biaya akomodasi rawat inap hanya untuk 90 hari. Penggantian biaya untuk tindakan diberikan plafon maksimal. Peserta masih dikenakan deduktibel, ataupun co-payment.

2.8 Perbedaan Asuransi Managed Care dengan Asuransi Indemnity

Menurut Kepala Divisi Pelayanan Kesehatan Askes Sosial PT Askes (Persero), dr. Taufik Hidayat, Perbedaan asuransi kesehatan managed care, indeminity lebih mengacu kepada sistem pembiayaannya, bukan kepada sistem pelayanannya. Misalnya, peserta dapat berobat ke provider mana saja, tetapi penggantian biayanya tidak boleh melebihi ketentuan. Misal penggantian biaya rawat inap tidak lebih dari satu juta sehari, namun dalam satu tahun tidak boleh lebih dari 90 hari. Untuk sakit ringan hal itu memang tidak ada masalah, akan tetapi berbeda dengan sakit berat.

Kemudian, salah satu yang diatur dalam managed care adalah pola tarif, bagaimana pola tarif yang baik sehingga mampu menjadi alat kendali biaya pelayanan kesehatan, namun pelayanan yang diberikan kepada peserta tetap berkualitas.

BAB III

Analisa Studi Kasus

Suatu perusahaan dengan karyawan sejumlah 200 orang sedang memiliki masalah keuangan dalam hal asuransi, yaitu adanya perubahan kebijakan asuransi kesehatan karyawan yang tadinya merupakan asuransi Managed Care, berubah menjadi asuransi Indemnity.

Bagaimana strategi untuk mengkomunikasikan kebijakan baru tersebut dengan karyawan?

Masalah keuangan bukanlah hal yang jarang dirasakan oleh sebuah perusahaan, seiring berjalannya waktu kebijakan diperusahaan juga akan diperbarui mengikuti situasi dan keadaan dari perusahaan tersebut. Untuk menerapkan kebijakan baru, perusahaan perlu menginformasikan hal tersebut ke seluruh pegawai yang bersangkutan. Kebijakan tidak langsung diinformasikan dari pihak High Management ke Low Management, tetapi mengikuti alur dan struktur organisasi yang ada. Itulah salah satu alasan kenapa suatu perusahaan harus memiliki struktur organisasi, agar setiap anggota perusahaan mengetahui posisi dan arah komunikasinya.

Untuk contoh studi kasus ini secara garis besar bisa dilihat alur komunikasi kebijakan baru bisa dilakukan sebagai berikut.

  1. Finance Manager memberikan laporan keuangan dan menginformasikan bahwa perlu dilakukan perubahan kebijakan dalam hal asuransi yang bisa didapatkan oleh pegawai ke CEO & CFO untuk mengatasi masalah keuangan perusahaan.
  2. CEO & CFO yang memutuskan apakah perlu dilakukan perubahan kebijakan, jika iya maka CEO & CFO memerintahkan kepada HR Manager dan Other Manager mengenai kebijakan baru.
  3. HR Manager selaku penanggung jawab atas sumber daya manusia yang ada di perusahaan dan Manager lainnya agar bisa menginformasikan kebijakan tersebut ke masing-masing bawahannya, tapi pada umumnya informasi seperti itu dilakukan atau diinformasikan secara satu pintu oleh pihak HR Department.

Oleh karena itu HR Department harus paham strategi komunikasi dan planning yang baik kepada pegawai. Menurut Onong Uchjana Effendi dalam buku berjudul “Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek” (2003:301) menyatakan bahwa Strategi komunikasi pada hakikatnya adalah perencanaan (planning) dan manajemen (management) untuk mencapai satu tujuan. Strategi komunikasi merupakan paduan dari perencanaan komunikasi dan manajemen komunikasi untuk mencapai suatu tujuan. Strategi komunikasi harus didukung oleh teori karena teori merupakan pengetahuan berdasarkan pengalaman (empiris) yang sudah diuji kebenarannya.

Jenis komunikasi yang digunakan untuk kasus ini adalah Downward Communication, komunikasi satu arah dari pemimpin ke bawahannya.

BAB IV

Kesimpulan

Dalam sebuah organisasi sangat dibutuhkan dan diperlukan komunikasi yang efektif dan baik demi tercapainya suatu tujuan bersama, tidak terlepas dari karwayan maupun atasan. Pimpinan di dalam organisasi harus dapat memfasilitasi tumbuhnya suasana keterbukaan dalam komunikasi dengan karyawan, dapat berempati, memiliki sikap yang dapat memberikan dukungan kepada karyawan, dapat bersikap positif baik terhadap diri sendiri maupun karyawan serta mampu menciptakan suasana setara, dalam arti ada pengakuan bahwa kedua belah pihak dalam hal ini pimpinan dan karyawan sama-sama bernilai dan berharga. Komunikasi karyawan yang efektif akan menghasilkan kepuasan dan produktivitas karyawan, perbaikan pencapaian hasil karya dan tujuan perusahaan. Tidak hanya itu, hubungan antar karyawan yang dibangun berdasarkan iklim dan kepercayaan atau suasana perusahaan yang positif turut memberi andil dalam menciptakan iklim komunikasi efektif.

Daftar Pustaka

  • Robbin, Stephen D. 2006.Perilaku Organisasi. Jilid Kesatu. Prenhalindo Persada. Jakarta
  • Mulyana, Deddy Prof. 2007. Imu Komunikasi Suatu Pengantar. PT Remaja Rosdakarya.
  • Murti Bhisma., 2000, Dasar-dasar Asuransi Kesehatan, Penerbit Kanisius, Yogyakarta
  • Effendy,Onong Uchjana. 2003. Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek. Cetakan kesembilanbelas. Bandung. PT Remaja Rosdakarya.
Peringkat broker opsi biner:
Tempat berinvestasi
Tinggalkan Balasan

;-) :| :x :twisted: :smile: :shock: :sad: :roll: :razz: :oops: :o :mrgreen: :lol: :idea: :grin: :evil: :cry: :cool: :arrow: :???: :?: :!: