Strategi Perdagangan Aktif Dan Pasif, Beberapa Jenis Aset Aktif yang Bisa Mendatangkan Pendapatan

Peringkat broker opsi biner:

Beberapa Jenis Aset Aktif yang Bisa Mendatangkan Pendapatan Pasif

Banyak dari kita yang sekarang ini giat dan aktif bekerja demi memenuhi kebutuhan hidup. Saat kita mendapatkan uang dan imbalan atas hasil kerja kita, maka itu disebut sebagai pendapatan aktif.

Nah, kalau ada “aktif”, tentu ada pasif. Yes, memang ada pendapatan pasif, yaitu pendapatan yang kita dapatkan tidak dengan bekerja secara aktif, tetapi mengandalkan aset aktif.

Aset aktif merupakan aset yang dipunyai oleh seseorang–oleh kita–yang dapat mendatangkan penghasilan, tanpa kita harus bekerja secara aktif. Singkatnya, aset aktif adalah aset yang bisa ngasih kita duit bahkan ketika kita sedang tidur.

Sementara kita bisa bekerja secara aktif seperti sekarang ini, akan ada baiknya juga jika kita mulai mempersiapkan aset aktif demi mendapatkan passive income, atau pendapatan pasif.

Supaya tetap survive di masa pensiun. Itu dia salah satu alasannya.

Memangnya sampai kapan kita bisa terus aktif bekerja keras bagai quda kayak sekarang? Memangnya energi kita bisa full terus? Enggak capek apa, cari duit mulu? Kenapa nggak sekali-sekali memikirkan agar duit yang mencari kita?

Yes, itulah saat pensiun tiba. Minimal, kalaupun masih produktif, ya kita sudah enggak terlalu money-oriented lagi. Sudah lebih ke “happiness-oriented”, melakukan apa pun yang bikin hati senang, tanpa mikirin bakalan dapat duit sebagai imbalannya atau enggak.

Yep, salah satu manfaat aset aktif ini akan bisa dirasakan banget di masa pensiun. Ingat, jangan cuma mengandalkan uang pensiun dari kantor lo, apalagi kalau kantor cuma ikutan BPJS Ketenagakerjaan doang. Nggak cukup! Cuma bisa ngasih sekitar 38% dari gaji terakhir sebelum pensiun!

Peringkat broker opsi biner:

Duh, apa kabar jalan-jalan keliling dunia? Biar sudah tua, masih maulah ya, keliling dunia pake kapal pesiar mewah gitu. Uwuwuw!

So, makanya, persiapkan aset aktif sejak sekarang, saat masih memungkinkan. Apa saja yang bisa kita siapkan? Berikut beberapa di antaranya.

4 Aset aktif yang bisa disiapkan sejak sekarang demi mendapatkan passive income di masa depan

1. Properti

Properti sebagai aset aktif di sini bukan berarti jual beli properti–beli tanah, dibangun rumah, lalu dijual lagi. Bukan, kalau itu sih nanti masuknya ke ranah bisnis.

Properti sebagai aset aktif ini berarti adalah penyewaan properti. Misalnya saja, punya rumah kedua lalu dikontrakkan. Punya sebidang lahan, lalu dibuat ruko, dan disewakan. Atau, bikin kos-kosan.

Dengan menyewakan properti, kita jadi bisa punya pemasukan rutin setiap bulan, atau tahun–tergantung term pembayaran para penyewa.

Beberapa alasan mengapa properti bisa banget menjadi aset aktif yang sangat menguntungkan:

  • Prospeknya akan ada terus, karena pertumbuhan dan perkembangan penduduk akan selalu ada
  • Jauh lebih stabil dibandingkan saham yang fluktuatif
  • Kecenderungan harga properti akan selalu naik, sesuai peningkatan ekonomi dan taraf hidup kita, juga inflasi

Nah, mau mencoba membangun aset aktif berupa properti? Bisa, tapi ada beberapa hal yang mesti diperhatikan sebelum memulainya:

  • Pertimbangkan lokasi. Memang sih, asal kita ada properti di mana saja, bisa saja langsung kita sewakan. Tapi, biasanya tetap ada kecenderungan kebutuhan tertentu di setiap karakter lokasi. Maksudnya begini. Misalnya, lokasinya ada di dekat kampus, maka properti yang mungkin cocok untuk dibangun adalah kos-kosan. Jika dekat dengan perkantoran, maka apartemen dan kos-kosan eksklusif bisa jadi pilihan. Kalau dekat dengan pusat niaga, ruko biasanya akan lebih besar kemungkinan untuk laku cepat.
  • Harga sewa. Tentu saja kita enggak bisa asal menentukan harga sewa. Setidaknya, harus selalu ingat bahwa ada harga, ada kualitas. Tapi, jika harganya terlalu jauh di atas kemampuan bayar target pasar, ya percuma juga. Jadi memang harus diseimbangkan.
  • Jangka waktu sewa, mau bulanan, tengah tahunan, tahunan, 2 tahunan, dan seterusnya.

2. Surat berharga

Surat berharga populer juga dengan sebutan sekuritas, berupa surat-surat yang bisa diperjualbelikan karena memiliki nilai uang yang diakui serta dilindungi secara hukum untuk kepentingan perdagangan, transaksional, serta alat pembayaran.

Surat berharga sebagai aset aktif bisa berwujud 2 jenis:

Saham

Saham adalah surat berharga yang paling populer dijadikan sebagai aset aktif untuk mendapatkan passive income. Dikeluarkan oleh perusahaan-perusahaan tertentu yang membuka kesempatan pada khalayak umum untuk ikut menyuntikkan modal, saham bisa menjadi bukti kepemilikan seseorang terhadap suatu perusahaan saat saham itu sudah dibeli.

Ada 2 keuntungan yang bisa diraup oleh investor, saat ia sudah membeli saham perusahaan tertentu:

  • Dividen, yaitu berupa keuntungan yang dihasilkan oleh perusahaan. Biasanya akan dibagi per lembar saham kepemilikan setiap tahunnya. Tapi selain berupa nominal uang, dividen juga bisa diberikan dalam bentuk saham juga. Jadi, kalau misal kita menerima dividen saham, berarti jumlah saham kita bertambah saat ada pembagian dividen itu.
  • Capital gain, yaitu keuntungan yang diperoleh dari hasil selisih penjualan saham. Jadi, misalnya saham A kita beli di harga Rp700/lembar. Beberapa tahun kemudian, harga sahamnya naik jadi Rp1.700/lembar. Maka, kita memperoleh keuntungan berupa capital gain sebanyak Rp1.000/lembar.

Ada keuntungan, ada risiko. Dan, saham memang terkenal berisiko tinggi. Di antaranya adalah:

  • Capital loss. Yes, ini adalah kebalikan dari capital gain ya, yaitu kerugian yang harus ditanggung lantaran ada selisih negatif dari hasil pembelian saat kita menjual saham. Misalnya, kita membeli saham B di harga Rp1.000/lembar. Ternyata harga menurun terus sejak kita beli, hingga kemudian saat menyentuh Rp700/lembar, kita memutuskan untuk menjualnya. Maka kita akan menderita capital loss sebanyak Rp300/lembar saham. Kalau kita beli 1 lot yang berarti 100 lembar, maka ya tinggal dikalikan saja kerugiannya ��
  • Likuidasi. Ini akan terjadi jika perusahaan yang sahamnya kita beli dinyatakan bangkrut atau pailit oleh pengadilan. Sebagai pemegang saham, kita akan menjadi prioritas terakhir mendapatkan “jatah” setelah seluruh kewajiban perusahaan yang bangkrut itu dipenuhi dari hasil penjualan asetnya.

So, kalau mau membangun aset aktif dengan saham, belajar dululah ya. Mendingan jangan ujug-ujug. Ntar jantungan.

Surat utang

Surat utang ini ada beberapa jenis lagi, yaitu obligasi (surat utang yang dikeluarkan oleh korporasi ataupun negara), surat utang negara (diterbitkan oleh negara, of course), dan sukuk (surat utang yang diterbitkan oleh negara dalam prinsip syariah).

Dibandingkan dengan saham, surat utang ini cenderung lebih aman. Apalagi yang diterbitkan oleh negara. Jadi, bolehlah kalau mau coba membangun aset aktif dari sini dulu. Cari-cari info kapan negara menawarkan surat utang, lalu beli sesuai ketentuan.

Bulan September ini kemarin pemerintah baru saja ngeluarin SBR 008. Udah pada beli belum?

Keuntungan investasi dengan surat utang juga bisa dalam 2 wujud:

  • Bunga, yang berupa kupon dari efek yang bersifat utang yang sudah dibeli. Pada akhir periode, kita akan mendapatkan akumulasi bunga ini beserta pokok utang yang dipinjamkan.
  • Capital gain, jika kita menjual surat utang tersebut di pasar sekunder.

Ada keuntungan, sudah pasti juga ada risiko. Risiko terbesar dari membangun aset aktif dengan surat utang ini adalah risiko gagal bayar.

3. Bisnis

Bisnis untuk aset aktif ini bisa bermacam-macam banget, dan luas banget cakupannya. Tapi, yang paling populer akhir-akhir ini–dan juga cocok dilakukan oleh para pemula–adalah bisnis waralaba. Terutama kuliner.

Kenapa? Ada beberapa alasan, di antaranya:

  • Enggak harus mulai dari 0 banget, karena kalau kita bisa memilih bisnis waralaba yang lagi ngehits–misalnya–kita sudah enggak perlu branding lagi sejak awal. Orang-orang sudah langsung mengenali, dan kita tinggal melanjutkan saja. Strategi marketingnya lebih mudah.
  • Sudah punya sistem yang jelas. Sistem penjualan, pemesanan, model bisnisnya sudah jelas, kita tinggal ngikutin aja. Bahkan kalau untuk kuliner, juga sudah ada resep patennya. Kita enggak perlu trial and error lagi. Pokoknya tinggal ngikut, terima pembeli aja.

Karena itu, bisnis waralaba ini cocok buat pemula kan? Kalau kita sudah “belajar” dari menjalankan bisnis waralaba ini, selanjutnya kita bisa dengan lebih mudah membangun bisnis sendiri. Dan kemudian diwaralabakan juga? Kenapa enggak?

4. Royalti

Kamu orang yang kreatif? Suka menulis, terutama bisa nulis buku? Bisa cipta lagu, dan suka nyanyi? Atau, suka bikin desain template web? Atau bikin aplikasi mobile?

Itu semua bisa kamu jadikan sebagai aset aktif juga lo!

Misalnya sebagai penulis buku. Setelah menyelesaikan buku, maka kamu akan “menjual” atau “menyewakan” hak cipta buku tersebut kepada penerbit. Kamu akan mendapatkan royalti selama buku tersebut dijual oleh penerbit tersebut.

Begitu juga kalau kamu bisa membuat lagu, dan dijadikan album rekaman. Tahu enggak sih, Taylor Swift meraup royalti sebesar Rp4 triliun hanya dari royalti pemutaran lagu di Spotify saja lo!

Yah, kamu enggak perlu jadi kayak Taylor Swift sih, tapi layaklah dicoba, karena aplikasi-aplikasi musik yang sekarang menjamur ini membuka kesempatan untuk penyanyi-penyanyi indie untuk ikut menjual karyanya lewat aplikasi mereka.

Kalau kamu punya skill untuk membuat aplikasi mobile–baik itu games, atau aplikasi productivity, atau aplikasi-aplikasi lain yang berfaedah–kamu juga bisa menjualnya melalui PlayStore atau AppStore, dan mendapatkan passive income yang lumayan lo!

Begitu juga dengan desain web, kamu bisa menjual karyamu di situs-situs semacam ThemeIsle, Gooyabi Templates, dan sebangsanya untuk kemudian mendapatkan pembayaran. Kamu yang suka fotografi, juga bisa menaruh foto-fotomu yang terbaik di Getty atau di Shutterstock, untuk dibeli orang.

So, jangan terlena dengan pekerjaan aktifmu saja. Yuk, bangun juga aset aktif agar mendapatkan passive income sehingga kamu pun bisa muda hidup hura-hura, tua juga hore-hore terus.

Strategi Investasi ; Strategi Pasif dan Strategi Aktif

Diposkan oleh Unknown

Ada dua macam strategi pasif yaitu sebagai berikut.
a. Strategi beli dan simpan maksudnya adalah investor melakukan pembelian sejumlah saham dan tetap memegangnya untuk beberapa waktu tertentu. Tujuan dilakukannya strategi ini adalah untuk menghindari biaya transaksi dan biaya tambahan lainnya yang biasanya terlalu tinggi.
b. Strategi mengikuti indeks merupakan strategi yang digambarkan sebagai pembelian instrumen reksadana atau dana pensiun oleh investor. Dalam hal ini investor berharap bahwa kinerja investasinya pada kumpulan saham dalam instrumen reksadana sudah merupakan duplikasi dari kinerja indeks pasar. Dengan kata lain investor berharap memperolah return yang sebanding dengan return pasar.

2. Strategi aktif
Merupakan tindakan investor secara aktif dalam melakukan pemilihan dan jual beli saham , mencari informasi, mengikuti waktu dan pergerakan harga saham serta berbagai mendapatkan return abnormal. Tujuan strategi aktif ini adalah mendapatkan return portofolio saham yang melebihi return portofolio saham yang diperoleh dari strategi pasif. Ada tiga strategi yang biasa dipakai investor dalam menjalankan strategi aktif portofolio saham.
a. Pemilihan saham maksudnya adalah para investor secara aktif melakukan analisis pemilihan saham-saham terbaik, yaitu saham yang memberikan hubungan tingkat return dan risiko yang terbaik dibandingkan dengan alternative lainnya. Analisis ini mendasarkan pada pendekatan analisis fundamental guna mengetahui prospek saham tersebut pada masa datang.
b. Rotasi sektor, maksudnya investor dapat melakukan strategi ini dengan dua cara, yaitu sebagai berikut.
(a) Melakukan investasi pada sahamsaham yang bergerak pada sector tertentu untuk mengantisipasi perubahan siklis ekonomi di kemudian hari.
(b) Melakukan modifikasi atau perubahan terhadap bobot portofolio saham-saham pada sektor industri yang berbeda-beda.
(c) Strategi momentum harga menyatakan bahwa pada waktuwaktu tertentu harga pasar saham akan merefleksikan pergerakan earning ataupun pertumbuhan perusahaan. Dalam hal ini investor akan mencari waktu yang tepat, pada saat perubahan harga yang terjadi bisa memberikan tingkat keuntungan bagi investor melalui tindakan menjual atau membeli saham. Cahyono (2002: 219) berpendapat bahwa dalam dunia nyata tidak ada pasar yang efisien sempurna. Salah satu sebabnya adalah karena adanya partisipasi pemodal ritel yang dalam berinvestasi sering melibatkan emosi, terpengaruh suasana, dan lain-lain.

Kata Aktif dan Pasif dalam Bahasa Indonesia

Bahasa Indonesia adalah salah satu bahasa yang bersifat aglutinasi. Oleh karena sifat itulah, bahasa Indonesia memiliki ciri perbedaan dengan bahasa-bahasa yang lainnya. Keunikan itu sendiri yang membawa ciri khas bahasa Indonesia yang seharusnya kita bangga dengan bahasa Indonesia. Kekayaan itu sungguh menjadi kekayaan bahasa yang sepatutnya untuk dicintai dan bahkan dipertahankan demi terjaganya keutuhan bahasa itu.

Kekayaan bahasa Indonesia tidak hanya terletak pada bentuk kalimat-kalimat yang begitu beragam. Selain itu, secara stuktur dan tatanan kalimatnya berbeda jelas dengan bentuk kalimat-kalimat bahsa lain. Namun, satu hal yang unik dan perlu kita pahami bersama bahwa bahasa Indonesia sangat kaya dalam penggunaan kata dan istilahnya. Kita daftarkan sejenak pembagian jenis kata dalam bahasa Indonesia seperti kata dasar, kata berimbuhan, kata majemuk/kompositum, kata ulang/reduplikasi, kata depan, kata sambung, kata sandang, kata seru, kata ganti, kata sapaan, kata populer, kata kajian. Sementara itu, istilah yang digunakan dalam bahasa Indonesia juga beragam seperti istilah dalam bidang moral, palang merah, kesehatan, pertanian, keamanan/keselamatan, lingkungan, dan istilah kelautan. Semuanya menandakan bahwa khazanah kata dalam bahasa Indonesia sangat banyak.

Akan tetapi, ada satu pembagian jenis kata yang sempat luput dari perhatianku selama ini. jenis kata yang dimaksud adalah jenis kata aktif dan pasif. Jenis kata aktif dan pasif sering kali disamakan dengan jenis kalimat aktif dan kalimat pasif yang menggunakan jenis kata-kata yang berimbuhan transitif dan intransitif. Awalnya saya menganggap bahwa kata-kata aktif dan pasif sama saja dengan kata-kata yang diberi imbuhan seperti Me(N), me-i, me-kan, ber-an untuk kalimat aktif dan imbuhan di-, ter-, ke-an untuk kalimat pasif.

Ada anggapan bahwa kata aktif dan pasif memuat muatan kata yang secara makna mengandung ada tidaknya suatu tindakan. Misalnya, kita ambil kata mendengar/menyimak. Kedua kata itu akan dianalogikan dengan aksi yang sedang dilakukan oleh seseorang. Oleh karena itu, kata-kata itu dianggap sebagai kata aktif. Sementara kata menunggu/terdiam dianggap sebagai kata pasif. Alasannya, orang yang sedang menunggu tidak tampak jelas tindakan yang ia lakukan. Padahal secara tidak langsung ia sudah melakukan tindakan/hal menunggu. Seperti halnya juga kata terdiam, dianggap muatan kata yang ada di dalmnya tidak melakukan tindakan apa-apa dari orangnya selain hanya diam saja. Dari contoh-contoh itu, sebenarnya perlu di batasi definisi-definisi kata-kata aktif dan pasif. Akhirnya, kita dapat mendaftarkan kata-kata yang termasuk kata aktif dan kata pasif.

Untuk bahasa Indonesia, pendaftaran kata-kata aktif dan pasif belum pernah dilakukan secara utuh. Kebakukan kata-kata aktif dan pasif belum sepenuhnya terdaftar dalam bentuk kamus bahasa Indonesia. Berbeda halnya dengan bahasa Inggris, bahasa itu sudah memiliki cara yang mampu diikuti penuturnya dan mengenali mana kata yang aktif dan mana kata pasif. Dari bentuk tenses bahasa Inggris, mereka langsung mampu mendaftarkan kata aktif dan pasif. Sebagai contoh, kata play dan played. Dengan penambahan –ed dalam bahasa Inggris menjadi salah satu mengategorikan kata itu menjadi kata pasif.

Untuk bahasa Indonesia sendiri, aturan-aturan itu belum ada. Beberapa ahli hanya memberi batasan-batasn tentang kata-kata aktif dan pasif. Misalnya, Menurut Keraf (2000: 80), ada kata-kata yang jarang digunakan dan ada kata-kata yang tidak pernah digunakan. Tetapi semua kata itu dikenal orang yang mendengarkan. Hal ini menimbulkan pengertian baru dalam bahasa yaitu ”penguasaan bahasa secara aktif, dan secara pasif”. Yang dimaksud dengan kata-kata aktif adalah kata-kata yang sering digunakan seseorang berbicara atau menulis, sedangkan kata-kata pasif adalah kata yang hampir tidak dapat digunakan oleh seseorang, tetapi akan menimbulkan reaksi bahasa bila didengar atau dibaca oleh seseorang. Kosakata aktif adalah kosakata yang sering dipakai dalam berbicara atau menulis, dan kosakata pasif adalah kosakata yang tidak pernah digunakan.

Selain itu, Soedjito, 1992: 1, kata-kata aktif mempunyai frekuensi tinggi, sedangkan kata-kata pasif mempunyai frekuensi rendah. Contoh-contoh yang berkaitan dengan batasan di atas seperti berikut:

Kosakata Aktif

Kosakata Pasif

Jika merujuk pada kedua batasan di atas, kita tidak selamanya setuju dengan batasan itu. Alasannya karena tingkat pengetahuan seseorang terhadap kata berbeda dan tingkat intensitas penggunaan kata tentunya berbeda. Ada orang yang sudah tidak asing dengan kata puspa seperti orang-orang yang berkecimpung dalam karya sastra. Tentunya sastrawan akan mengatakan kata puspa adalah kata aktif. Lantas orang yang berkecimpung di luar karya sastra akan menganggap secara langsung bahwa kata puspa adalah kata pasif. Kata surya misalnya, kita mengenalnya lewat perpaduan kata tata surya, sedangkan kata matahari lebih merujuk pada pusat tata surya kita.

Tentunya akan ada perbedaan yang signifikan terhadap pandangan atas batasan-batasan itu. Oleh karena itu, seyogianya pusat bahasa kiranya dapat membantu masyarakat awam meluruskan batasan-batasan ini. Namun, tugas ini bukan berarti hanya bertitik tumpu pada pusat bahasa saja, melainkan juga tugas dan tanggung jawab kita sebagai penutur bahasa Indonesia, khususnya para pengajar bahasa Indonesia. Tugas ini tidak mudah dan memerlukan waktu yang cukup lama sebab bahasa Indonesia selalu bersifat dinamis sesuai dengan perkembangan zaman. Jadi, tidak tertutup kemungkinan tadinya yang kata yang sudah didaftarkan menjadi kata aktif dan kata pasif, tahun berikutnya akan selalu berubah-ubah. Oleh sebab itu, perlu adanya aturan dan kebijakan untuk memutuskan kata-kata yang aktif dan kata pasif. Semoga saja nantinya, penutur bahasa Indonesia akan menyadarinya, mulai masyarakat awam sampai masyarakat akademik.

Semoga ada yang tertarik untuk menelitinya dan memberikan sedikit acuan mengenai kata aktif dan kata pasif. Jika pun pembaca tulisan ini sudah mengetahuinya, kita boleh berbagi informasi sekaitan kata yang dianggap kata aktif dan kata pasif dalam bahasa Indonesia. Marilah bangga menggunakan bahasa Indonesia sebab begitu kayanya kata-kata bahasa Indonesia. Hindari penggunaan kata-kata asing sebab kata Indonesia sudah dapat mewakilinya. Jayalah bahasa Indonesia.

Peringkat broker opsi biner:
Tempat berinvestasi
Tinggalkan Balasan

;-) :| :x :twisted: :smile: :shock: :sad: :roll: :razz: :oops: :o :mrgreen: :lol: :idea: :grin: :evil: :cry: :cool: :arrow: :???: :?: :!: