Strategi Pilihan Disederhanakan Fed Hal-Hal Penting Akan Disederhanakan Untuk Beberapa Sinyal

Peringkat broker opsi biner:

Strategi Pilihan Disederhanakan Fed: Hal-Hal Penting Akan Disederhanakan Untuk Beberapa Sinyal Penting – TDS

Pengambilan keputusan (decision making) merupakan salah satu proses manajemen yang penting bagi setiap organisasi.

Manajemen lainya dilatar belakangi oleh adanya keputusan yang dibuat oleh manajer puncak, yang kemudian secara hirarkis dibuat oleh lini-lini manajemen ditingkat staf-staf yang dibutuhkan.

Pengambilan keputusan dapat diartikan sebagai suatu proses penilaian dan pemilihan dari berbagai alternatif sesuai dengan kepentingan–kepentingan tertentu dengan menetapkan suatu pilihan yang dianggap paling menguntungkan.

Mengindentifikasi masalah utama yang mempengaruhi tujuan, menyusun, menganalisis, dan memilih berbagai alternatif tersebut dan mengambil keputusan yang dianggap paling baik.

MACAM – MACAM KEPUTUSAN MANAJEMEN

Oleh Herbert Simon secara umum membedakan antara dua jenis keputusan, yaitu:

  1. Keputusan yang terprogram (programmed decision)
  2. Keputusan yang tidak terprogram (non-programmed decision).

1. Keputusan yang terprogram (programmed decision)

Keputusan yang terprogram adalah keputusan yang terstruktur atau yang muncul berulang – ulang,

Misalnya dalam memutuskan jumlah bahan baik yang harus tersedia digudang, tidak bisa terlepas dari proses perhitungan yang biasa digunakan.

Peringkat broker opsi biner:

2.Keputusan yang tidak terprogram (non-progrmmed decision)

Keputusan yang tidak terprogram apabila keputusan baru pertama kali muncul dan tidak tersusun (unstructured).

Keputusan semacam itu memerlukan penanganan khusus, untuk memecahkan masalah, karena belum ada pedoman khusus dalam menangani masalah tersebut.

Macam-macam keputusan dalam manajemen

B. KEPUTUSAN DAN JENJANG MANAJEMEN

Secara umum tingkatan manajemen dalam organisasi itu ada 3, yaitu:

  1. Manajemen puncak (top manager),
  2. Manajer menengah (middle manager), dan
  3. Manajer rendah (lower manager).

Untuk keputusan yang tidak terprogram, biasanya lebih banyak diambil oleh manajer pada tingkat tinggi (top manager).

• HUBUNGAN MACAM KEPUTUSAN DAN TINGKATAN MANAJEMEN.

C. TAHAP-TAHAP PENGAMBILAN KEPUTUSAN

Sebagai dalam proses pengambilan keputusan, model tersebut memuat tiga tahap pokok, yaitu sebagai berikut :

Ø Riset, yaitu mempelajari lingkungan atas kondisi yang memerlukan keputusan.

Ø Perancangan, yaitu mendaftar, mengembangkan, dan menganalisis arah tindakan yang mungkin.

Ø Pemilihan, yaitu menetapkan arah tindakan tertentu dari totalitas yang ada.

James L. Gibson, dkk.

Mengemukakan proses pengambilan keputusan seluruhnya terdiri atas enam tahapan.

Apabila ditetapkan kebijakan untuk menangani masalah yang identik, maka manajer tidak dituntut untuk mengembangkan dan mengevaluasi setiap munculnya masalah.

Indetifikasi dan definisi masalah

Tahap ini meliputi kegiatan pengambilan informasi, proses informasi, dan pertimbangan yang mendalam.

Organisasi dapat diukur dengan perbedaan antara tingkat hasil yang diharapkan pada perumusan tujuan dan sasaran dengan hasil yang dicapai sesungguhnya.

Beberapa indikator lain yang dapat membantu dalam melihat permasalahan organisasi adalah sebagai berikut ;

a. Penyimpangan kinerja

Indikator ini muncul apabila terjadi sebua perubahan secara tiba – tiba pada beberapa pola kinerja yang telah ditetapkan.

Contohnya, meningkatnya perputarn karyawan, tingkat absensi yang meningkat, penurunan tingkat penjualan, pengeluaran yang semakin meningkat, dan banyaknya produk yan rusak.

b. Kritikan orang lain

Berbagai tindakan orang diluar organisasi bisa menjadi pentujuk adanya masalah.

Pelanggan mungkin tidak puas dengan sebuah produk yang dikomsumsi, pemerintah memberikan tindakan hukum, dan serikat buruh yang mungkin memberikan keluhannya.

Lingkungan dapat memberi informasi masalah melalui berbagai cara.

Contoh jika pesaing sukses dalam meluncurkan produk baru yang menjadi pesaing produk organisasi, maka timbul suatu masalah.

Tipe – Tipe Masalah

a. Masalah terstruktur dan tidak terstruktur

Masalah–masalah terstruktur merupakan masalah pada umumnya, terus terang dan jelas dalam hal informasi yang membutuhkan untuk menyelesaikanya.

Sebagai contoh, masalah–masalah pribadi biasanya terjadi ketika pembuatan keputusan kenaikan gaji dan promosi permintaan liburan, tugas-tugas kepanitian, dan sebagainya.

Masalah tidak terstruktur (unstructured problems) merupakan masalah yang membingungkan dan memiliki informasi yang terbatas dalam situasi yang baru atau tidak terduga.

Contohnya, perusahaan dihadapi pada problem dimana unit bisnisnya terpaksa dijual karena hilangnya pelanggan.

b. Masalah menghadapi krisis

Suatu masalah krisis merupakan masalah yang tidak terduga dan dapat menghancurkan jika tidak tertangani dengan cepat dan tepat.

Para manajer menghadapi persoalan krisis multi dimensi dan mereka mengantisipasi krisis–krisis itu dengan berbagai cara, misalnya dengan membentuk sistem informasi krisis.

Mengembangkan alternatif pemecahan.

Pengembangan alternatif merupakan proses pencarian dimana lingkungan intern dan ekstern yang relavan dari organisasi diperiksa untuk memberikan informasi yang dapat dikembangkan menjadi alternatif yang mungkin.

Namun demikian, manajer harus ingat akan beberapa keterbatasan dalam setiap alternatif, misalnya keterbatasan dalam masalah hukum, etika, peraturan yang ada.

Evaluasi alternatif pemecahan

Pada situasi yang lain, manajemen lebih sering menghadapi situasi dengan kepastian yang tinggi. Dalam hal ini tidak mudah memperkirakan konsekuesin dari keputusan.

Situasi resiko dengan tidak pasti berada diantara dari ekstern tersebut.

Oleh karena itu hubungan antara alternatif keluaran didasarkan pada tiga kondisi tersebut adalah :

  1. Kodisi kepastian.
  2. Kondisi berisiko
  3. Kondisi ketidakpastian

Tahap ke empat merupakan tindakan terpenting yaitu memilih alternatif terbaik diantara alternatif – alternatif yang telah dinilai dan di evaluasi.

Tujuan pemilihan alternaif adalah memecahka masalah agar dapat mencapai tujuan dan sasaran yang telah ditentukan sebelumnya.

Walaupun manajer sebagai pengambil keputusan memilih alternatif dengan harapan mencapai sasaran, tetapi memilih tersebut seharus tidak dipandang sebagai suatu aktifitas yang mandiri.

Implementasi mencakup pencapaian keputusan itu kepada orang–orang yang terkait dan mendapatkan komitmen mereka pada keputusan tersebut.

Oleh karena itu pekerjaan manajer tidak hanya terbatas pada keterampilan memilih pemecahan yang baik, akan tetapi meliputi juga pengetahuan dan keterampilan yang perlu untuk melaksanakan pemecahan masalah tersebut menjadi perilaku dalam organisasi.

Evaluasi dan pengendalian

Tahap terakhir adalah monitor dan evaluasi. Tahap ini dilaksanakan untuk memastikan bahwa pelaksanaan keputusan yang diambil mengenai sasaran dan tujuan yang ingin dicapai.

Jika ternyata tujuan tidak tercapai, manajer dapat melakukan respon dengan cepat.

D. GAYA PENGAMBILAN KEPUTUSAN

Gaya Manajer dalam pengambilan keputusan akan banyak diwarnai oleh beberapa hal seperti latar belakang pengetahuan, perilak pengalaman, dan sejenisnya. Cara-cara manajer dala mendekati masalah tersebut antara lain :

Ø Pertama, penghindar masalah. Seorang penghindari masalah mengabaikan informasi yang menunujukkan kesebuah masalah. Para penghindari masalah ini tidak aktif dan tidak ingin menghadapi masalah.

Ø Kedua, penyelesian masalah. Seorang penyelesaian masalah mencoba menyelesaikan masalah-masalah apabila masalah-masalah itu muncul. Mereka bersikap reaktif menghadapi masalah-masalah yang timbul.

Ø Ketiga, Pencarian masalah. Seorang pencari masalah secara aktif mencari masalah-masalah guna diselesaikan atau mencari peluang-peluang baru untuk dikejar.

E. MODEL PENGAMBILAN KEPTUSAN

Teori manajemen mengenal perbedaan antara dua model utama dalam pembuatan keputuan. Kedua model tersebut adalah model klasik dan model perilaku.

1. Model Keputusan Klasik

Model keputusan klasik (classical dicision) berpandangan bahwa manager bertindak dalam kepastian. Pendekatan klasik ini merupakan model yang Sangat rasional utuk pembuatan keputusan manajerial.

2. Model keputusan Administratif

Menurut Herbrt Simon, manager dalam pengambilan keputusan menghadapi tiga kondisi :

(a) Informasi tidak sempurna dan tidak lengkap,

(b) Rasionalitas yang terbatas (bounded rasionality),

(c) Cepat puas (satisfice).

Adalah pengambilan keputusan yang disederhanakan dikarenakan kondisi dan situasi.

Tiga macam heuristik dipakai orang dalam mengambil keputusan yaitu:

  1. Ketersedian (availability heuristik),
  2. Perwakilan (representativeness ), dan
  3. Penyesuaian dan anchoring (anchoring and adjusment hueristik).

Ketersediaan ( Availabity heuristik)

Terjadi ketika orang menggunakan informasi yang telah tersedia sebagai basis penilaian situasi atau peristiwa yang sedang berlangsung.

Misalnya untuk tidak menanam modal ke dalam suatu produk baru berdasarkan hasil penjualan saat ini.

Terjadi bila orang menilai kemiripan sesuatu berdasarkan stereotip seperangkat peristiwa yang sama.

Biasa pontesialnya adalah stereotip representatif dapat terjebak kedalam pendiskriminasian factor–faktor unik yang relavan terhadap keputusan tersebut.

Anchoring and adjusment heuristik

Meliputi pembuatan keputusan berdasarkan penyesuaian terhadap nilai atau titik tolak yang telah ada.

Contohnya, nilai pasar seseorang secara subtansi mungkin lebih tinggi dari pada upah yang diterima.

F. PENGAMBILAN KEPUTUSAN INDIVIDU

Dalam keputusan individual, manager membuat pilihan tindakan yang disukai. Beberapa faktor perilaku hanya mempunyai aspek–aspek tertentu dari proses pengambilan keputusan.

Faktor tersebut adalah :

Ø Kepribadian nilai,

Ø Kencendrungan akan resiko, dan

Ø Kemungkinan ketidakcocokkan.

Satu penelitian telah berusaha pengaruh dari beberapa variable terpilih teradap proses pengambilan kepriadian, tetapi memasukan juga rangkaian variable lain yaitu :

Ø Variabel kepribadian.

Hal ini mencakup sikap, kepercayaan individu.

Ø Variabel situasional.

Menyinggung situasi ekstern, yang dapat diamati, yang dihadapi oleh orang – orang itu sendiri.

Ø Variabel interaksional.

Hal ini menyinggung keadaan pada saat itu dari orang-orang sebagai akibat dari interaksi situasi tertentu dengan ciri-ciri khas kepribadian orang.

Nilai itu diperoleh pada waktu orang masih muda sekali dan merupakan bagian dasar dari pikiran seseorang. Pengaruh itu dapat dilihat dari setiap proses pengambilan keputusan manajemen sebagai berikut ;

  1. Dalam menetapkan sasaran, pertimbangan nilai perlu sekali mengenai pemilihan kesepatan dan penentuan prioritas.
  1. Dalam mengembangkan alterntif, orang perlu mempertimbankan nilai berbagai macam kemungkinan.
  2. Apabila memilih alternatif, nilai dari orang yang mengambil kputusan memperngaruhi alternatif manakah yang akan dipilih.
  3. Apabila melaksanakan keputusan, pertimbangan nilai sangat perlu dalam memilih cara pelaksanaanya.
  4. Dalam fase evaluasi dan pengendalian, pertimbangan nilai tidak dapat dihindari apabila mengambil tindakan.

Kecenderungan Akan Resiko

Seseorang pengambil keputusan yang agak segan mengambil resiko akan menetapkan sasaran yang bebeda, mengavaluasi alternatif secara berbeda juga. Orang tersebut akan berusaha menetapkan pilihan dimana resiko atau ketidakpastian sangat rendah, atau diana kepastian akan hasilnya sangat tinggi.

Kemungkinan ketidak Cocokan

Apabila terjadi ketidak cocokan, maka tentu saja ketidak cocokan ini dapat dikurangi dengan mengakui bahwa telah terjadi kesalahan. Orang tesebut lebih memungkinkan menggunakan satu atau beberapa metode berikut ini untuk mengurangi ketidak cocokan mereka :

  1. Mencari informasi yang mendukung kebijaksanaan dari keputusa mereka.
  2. Secara selektif memahami (mengubah) informasi dengan suatu cara yang dapat mendukung keputusan mereka.
  3. Merubah siap mereka, sehingga mereka memiliki pandangan yang baik terhadap alternatif yang telah ditetapkan sebelumnya.
  4. Mengelakan pentingnya segi – segi postif dan mempertinggi unsur – unsur positif dari keputusanya.

G. PENGAMBILAN KEPUTUSAN KELOMPOK

Dalam mengunakan kelompok, manajer harus memperhatikan keuntungan dan kerugian dari kelompok tersebut.

  1. Informasi dan pengetahuan lebih banyak.
  2. Lebih banyak alternatif yang dapat dihasilkan.
  3. Penerimaan penilaian hasil akhir akan lebih besar.
  4. Komunikasi yang lebih baik akan muncul.
  1. Membutuhkan waktu yang lebih lama dan biaya yang lebih besar karena waktu yang hilang banyak.
  2. Menimbulkan kompromi
  3. Satu atau beberapa orang barang kali akan mendominasi kelompok.
  4. Tekanan kelompok akan muncul dan membatasi kreativitas individual.

CONTOH KASUS : MASALAH GROSIR

Salah satu permasalahan yang sering dihadapi grosir adalah bagaimana menentukan tingkat persediaan (stock) barang agar permintaan konsumen terpenuhi dan biaya gudang (tempat penyimpanan barang) tersebut tidak terlalu mahal. Hal ini selalu menjadi tujuan karena ketidakmampuan memberikan solusi yang optimal akan menghasilkan dua jenis kerugian dalam usaha grosir. Sebagai contoh khusus, diambil masalah grosir buah yang menjual buah strawbarry. Buah ini mempunyai masa (waktu) jual yang terbatas, dalam arti jika tidak terjual pada hari pengiriman, maka tidak akan laku dijual pada hari berikutnya. Jika diandaikan harga pengambilan satu keranjang strawberry adalah $20, dan grosir akan menjualnya dengan harga $50 satu keranjang. Berapa keranjangkah persediaan yang perlu diambil setiap hari oleh grosir agar mendapat resiko kerugian minimum, atau agar mendapat keuntungan maximum? Hal ini dapat diselesaikan dengan konsep peluang jika informasi tentang jumlah data penjualan

beberapa hari yang lalu ada dicatat. Untuk membahas kasus ini selanjutnya diandaikan data penjualan selama 100 hari yang lalu tercatat sebagai berikut:

Tabel 1. Data Penjualan

Jumlah Strawbary terjual Jumlah Hari (Dalam Satuan Keranjang) Penjualan
10 15
11 20
12 40
13 25
Jumlah 100

Analisis keputusan yang dimaksud disini adalah suatu rangkaian proses dalam membahas permasalahan yang dikemukakan di atas. Hal ini dapat dilakukan dengan memperkenalkan konsep jenis kerugian yang ditimbulkan, pemakaian konsep peluang, dan perhitungan ekspektasi kerugian.

Bila dalam membahas permasalahan di atas kita fokuskan terhadap minimisasi kerugian maka perlu didefinisikan dua jenis kerugian yang akan ditimbulkan dalam kasus tersebut. Jenis kerugian yang pertama dikenal dengan obsolescence looses. Jenis kerugian ini disebabkan oleh persediaan yang terlalu banyak sehingga harus dibuang pada hari berikutnya, (jenis ini hampir sama dengan biaya gudang akibat terlalu lama penyimpanan). Misalnya dari kasus tersebut di atas, jika jumlah strawberry yang disediakan oleh grosir adalah 12 keranjang namun permintaan pada hari itu hanya 10 keranjang, maka grosir akan mengalami kerugian sebesar $40 (yaitu dari harga pembelian 2 keranjang strawberry yang tidak terjual). Jenis kerugian yang kedua adalah opportunity looses. Jenis kerugian ini disebabkan oleh kurangnya persediaan sehingga ada pembeli yang tidak terlayani.

Dengan kata lain, kerugian ini timbul akibat keuntungan yang seharusnya diperoleh tetapi tidak jadi diperoleh karena kekurangan stock. Misalnya dari kasus di atas, jika jumlah strawberry yang disediakan oleh grosir adalah 10 keranjang sedangkan permintaan pada hari itu mencapai 12 keranjang, maka grosir akan mengalami kerugian sebesar $60 (yaitu keuntungan yang tidak diterima dari hasil penjualan 2 keranjang strawberry bila stock ada).

Tabel.2 Tabel Kerugian Bersyarat

Kemungkinan Jumlah Yang diminta (X) Kemungkinan Persediaan yang Dilakukan(X)
10 11 12 13
10 $0 $20 $40 $60
11 30 0 20 40
12 60 30 0 20
13 90 60 30 0

Adopsi Konsep Peluang

Konsep peluang yang sudah didefinisikan sebelumnya dapat diadopsi untuk data persoalan tersebut di atas. Jika tujuan grosir adalah untuk menentukan persediaan jumlah strawberry dalam satuan keranjang pada hari tersebut, dimisalkan dengan X, maka berdasarkan data di atas X adalah peubah acak diskrit yang dapat mengambil nilai 1O, 11, 12, dan 13. Dan distribusi Peluang X (jumlah keranjang strawberry) dapat dinyatakan sebagai berikut:

Tabel 3. Distribusi Peluang X

Jumlah Strawbary terjual Dalam Satuan Keranjang

(X)

Jumlah Hari Penjualan

(f)

Frekwensi Relatif (fr)

P(X=x)

10 15 0.15
11 20 0.20
12 40 0.40
13 25 0.25
Jumlah 100 1.00

Perhitungan Ekspektasi Kerugian

Mengingat tujuan utama dari analisis ini adalah untuk menentukan jumlah stock strawberry agar resiko (kerugian) minimum, maka analisis dilakukan dengan memperhitungkan ekspektasi kerugian. Analisis perhitungan ekspektasi ini akan disajikan dalam tabel, dengan memperhitungkan semua kemungkinan yang dapat terjadi, dimulai dari tabel ekspektasi kerugian bila persediaan 10 keranjang sampai dengan tabel ekspaktasi kerugian bila persediaan 13 keranjang.

Tabel 4. Ekspektasi kerugian dari Persediaan 10 Keranjang

Jumlah Kemungkinan Permintaan (X) Kerugian Bersyarat Peluang X P (X) Ekspektasi Kerugian X.P (X)
10 $0 0.15 $0.00
11 30 0.20 6.00
12 60 0.40 24.00
13 90 0.25 22.50
Jumlah 1.00 $52.50

Kolom kerugian bersyarat pada Tabel 4 di alas diambil, dari tabel 2 untuk kasus persediaan 10 keranjang. Kolom ke empat dari Tabel 4 menyatakan bahwa jika 10 keranjang disediakan setiap hari selama masa yang panjang (long period), maka kerugian secara rata-rata (ekspektasi kerugian) adalah $52.50. Tentu tidak ada jaminan bahwa jika besok diambil persediaan 10 keranjang maka sudah pasti akan rugi %52.50. Dengan cara yang sama tabel 5, 6, dan 7 dapat dibentuk dan diinterpretasikan.

Tabel 5. Ekspektasi Kerugian Dari Persediaan 11 Keranjang

Jumlah Kemungkinan Permintaan (X) Kerugian Bersyarat Peluang X P (X) Ekspektasi Kerugian X.P (X)
10 $20 0.15 $3.00
11 0 0.20 0.00
12 30 0.40 12.00
13 60 0.25 15.00
Jumlah 1.00 $30.00

Hasil analisis ekspektasi kerugian yang disajikan dalam tabel 4 sampai dengan 7 dapat digunakan untuk mengambit keputusan. Dapat dilihat bahwa minimum kerugian yang terjadi adalah $17.50. Hal ini terjadi pada tingkat persediaan 12 keranjang Strawberry. Ini berarti grosir lebih baik menyediakan 12 keranjang setiap harinya, untuk kasus tersebut di atas.

Seandainya untuk membahas permasalahan di atas dilakukan anatisis dengan mempertimbangkan keuntungan yang maksimum, maka hasilnya tidak akan berbeda yaitu dengan jumlah persediaan 12 keranjang perharinya.

Tabel 6. Ekspektasi Kerugian Dari Persediaan 12 Keranjang

Jumlah Kemungkinan Permintaan (X) Kerugian Bersyarat Peluang X P (X) Ekspektasi Kerugian X.P (X)
10 $40 0.15 $6.00
11 20 0.20 4.00
12 0 0.40 0.00
13 30 0.25 7.50
Jumlah 1.00 $17.50

Tabel 7. Ekspektasi Kerugian Dari Persediaan 13 Keranjang

Jumlah Kemungkinan Permintaan (X) Kerugian Bersyarat Peluang X P (X) Ekspektasi Kerugian X.P (X)
10 $60 0.15 $9.00
11 40 0.20 8.00
12 20 0.40 8.00
13 0 0.25 0.00
Jumlah 1.00 $52.50

KESIMPULAN DARI KASUS DI ATAS

Pemakaian Teori Peluang untuk membahas persoalan ketidakpastian dapat dilakukan bilamana dimiliki suatu informasi yang dapat dimodifikasi menjadi frekwensi relatif. Contoh kasus masalah grosir buah tetah menunjukkan bagaimana penggunaan konsep teori peluang dan ekspektasi digunakan untuk mengambii keputusan. Dan perhitungan dapat diperoleh bahwa nilai minimum kerugian adalah $17.50, dengan jumlah persediaan perharinya 12 keranjang.

Pink Room

BAB I PENDAHULUAN

Dalam suatu proses belajar mengajar, dua unsur yang sangat penting adalah metode mengajar dan media pembelajaran. Kedua aspek ini saling berkaitan. Karena keduanya sangat mempengaruhi proses belajar siswa. Pemilihan salah satu metode mengajar tertentu akan mempengaruhi jenis media pembelajaran yang sesuai dengan kondisi materi dan siswa yang diajar, meskipun masih ada berbagai aspek lain yang harus diperhatikan dalam memilih media pembelajaran, antara lain tujuan pembelajaran, jenis tugas dan respons yang diharapkan, ternasuk karakteristik siswa. Meskipun demikian, dapat dikatakan bahwa salah satu fungsi utama media pembelajaran adalah sebagai alat bantu mengajar yang turut mempengaruhi iklim, kondisi, dan lingkungan belajar yang ditata dan diciptakan oleh guru. Sehingga, media pembelajaran yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran dapat mempengaruhi terhadap efektifitas pembelajaran.

Pemakaian media pembelajaran dalam proses belajar mengajar dapat membangkitkan minat dan keinginan yang baru, motivasi dan rangsangan kegiatan belajar, dan bahkan membawa pengaruh-pengaruh psikologis terhadap siswa. Selain itu, media pembelajaran juga dapan membantu guru dalam proses pembelajaran. Penggunaan media pembelajaran pada tahap orientasi pengajaran akan sangat membantu dalam proses pembelajaran dan penyampaian pesan dan isi pelajaran pada saat itu, sehingga yang menjadi tujuan dari pembelajaran bisa tercapai secara maksimal.

Oleh karena itu, media pembelajaran sangan penting dalam mendukung proses pembelajaran. Sehingga, perlu adanya pengembangan-pengembangan media pembelajaran. Pengembangan media pembelajaran harus sesuai dengan prinsip yang ada. Dan sesuai dengan tujuan dari pembelajaran itu sendiri. Sehingga perlu kiranya kami menjelaskan tentang langkah-langkah dalam pengembangan media pembelajaran. Sehingga, kita dapat mengetahui bagaimana cara mengembangkan media pembelajaran yang dapat membuat proses pembelajaran menjadi efektif.

  1. Rumusan Masalah
  2. Apa yang di maksud dengan media pembelajaran?
  3. Apa macam-macam dari media pembelajaran?
  4. Bagaimana prinsip pengembangan media pembelajaran?
  5. Bagaimana langkah-langkah mengembangkan media pembelajaran?
  1. Tujuan
  2. Dapat mengetahui esensi dan pengertian media pembelajaran
  3. Dapat mengetahui macam-macam media pembelajaran
  4. Dapat mengetahui prinsip-prinsip pengembangan media pembelajaran
  5. Dapat mengetahui langkah-langkah pengembangan media pembelajaran

BAB II PEMBAHASAN

Dalam proses komunikasi, media merupakan apa saja yang mengantarkan atau membawa informasi ke penerima informasi. Di dalam proses belajar mengajar yang pada hakikatnya juga merupakan proses komunikasi, informasi atau pesan yang dikomunikasikan adalah isi atau bahan ajar yang telah ditetapkan dalam kurikulum, sumber informasi adalah guru, penulis buku atau tadul, perancang dan pembuat media pembelajaran lainnya; sedangkan penerimaan informasi adalah siswa atau warga belajar. Pengertian media pembelajaran bervariasi. Secara etimologis kata media berasal dari bahasa Latin yang merupakan bentuk jamak dari medium yang secara harafiah berarti perantara atau pengantar .Dalam konteks belajar dan pembelajaran, media dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang dapat menyalurkan pesan atau materi pembelajaran dari guru atau pendidik sebagai komunikator kepada siswa atau peserta didik sebagai komunikan[1]. Media pembelajaran sebagai teknologi pembawa informasi yang dapat dimanfaatkan untuk proses belajar mengajar; sebagai sarana fisik untuk menyampaikan bahan ajar.

Media pembelajaran adalah berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsangnya untuk belajar. Menurut Djamarah dan Aswan Zain adalah media adalah alat bantu apa saja yang dapat dijadikan sebagai penyalur pesan guna mencapai tujuan pembelajaran.[2] Selanjutnya Purnamawati dan Eldarni menyatakan bahwa media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapatdigunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapatmerangsang pikiran, perasaan, perhatian dan minat siswa sedemikian rupa sehinggaterjadi proses belajar.[3]

Berdasarkan beberapa pengertian yang telah dikemukakan para ahli di atas, dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa pengertian media pembelajaran ialah komponen, alat bantu, saluran, atau segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyampaikan pesan yang berupa materi pembelajaran dari pendidik (guru) sebagai komunikator kepada peserta didik (siswa) sebagai komunikandalam proses belajar dan pembelajaran serta dapat merangsang pikiran, perasaan,minat, dan perhatian peserta didik sehingga terjadi proses belajar.

Beberapa ahli memberikan definisi tentang media pembelajaran. Schramm (1977) mengemukakan bahwa media pembelajaran adalah teknologi pembawa pesan yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran.

Karakteristik dan kemampuan masing-masing media perlu diperhatikan oleh guru agar mereka dapat memilih media mana yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan. Sebagai contoh media kaset audio merupakan media auditif yang mengajarkan topik¬-topik pembelajaran yang bersifat verbal seperti pengucapan (pronunciation) bahasa asing. Untuk pengajaran bahasa asing media ini tergolong tepat karena bila secara langsung diberikan tanpa media sering terjadi ketidaktepatan yang akurat dalam pengucapan pengulangan dan sebagainya. Pembuatan media kaset audio ini termasuk mudah, hanya membutuhkan alat perekam dan narasumber yang dapat berbahasa asing, sementara itu pemanfaatannya menggunakan alat yang sama pula.

Guru sebagai informator harus memiliki sejumlah bidang keilmuan yang sesuai dengan kewenangannya karena ini merupakan modal dasar guru agar pembelajaran dapat terlaksana dan tercapai dengan baik. Sikap profesionalisme guru dalam tahap persiapan ini dibutuhkan baik dalam merancang program pembelajaran maupun dalam bidang penguasaan ilmu yang digelutinya. Dalam tahap persiapan seorang guru harus memperhatikan pula bagaimana penyunan perancangan rencana kegiatan belajar-mengajar, baik itu yang berkaitan dengan tujuan, metode, media, sumber, evaluasi, dan kegiatan siswa itu sendiri.[4]

Jadi dapat disimpulkan media pembelajaran adalah sarana untuk menyalurkan pesan atau informasi dari guru kesiswa atau sebaliknya. Penggunaan media pembelajaran akan memungkinkan terjadinya proses belajar pada diri siswa dan atau dapat digunakan untuk meningkatkan efektivitas kegiatan pembelajaran. Kita ambil contoh;

  1. Seorang guru ingin menjelaskan tentang daur hidup kupu-kupu mulai dari larva/ulat. Agar lebih konkret, guru dapat membuat atau memperlihatkan gambar atau foto atau cd tentang proses terbentuknya kupu-kupu, tanpa guru menjelaskna panjang lebar, siswa akan lebih mengerti daur hidup seekor kupu-kupu dari media yang diperlihatkan oleh guru
  2. Jika kita ingin agar siswa dapat menunjukkan letak Indonesia dibenua asia maka sebaiknya kita menggunakan peta atau bola dunia, dengan demikian siswa kita akan mengerti dan dapat menunjukkan letak Indonesia di peta tersebut

Memperhatikan begitu banyak media yang dapat digunakan untuk kepentingan pembelajaran, beberapa ahli mencoba mengidentifikasi dan membuat klasifikasi media. Sebagai contoh Schramm menglasifikasikan media menjadi dua jenis, yaitu media sederhana (papan tulis, gambar, poster, peta) dan media canggih (radio, film, televise, computer). Lain lagi dengan Bretz yang mengklasifikasikan media berdasarkan tiga unsur, yaitu suara, bentuk, gerak. Bretz diantaranya menggolongkan media kedalam media cetak, media audio, media visual gerak, media visual diam, media audiovisual gerak, media audiovisual diam. Selain itu Tosti dan Ball juga menyusun pengelompokkan media menjadi enam kelompok media penyaji, yaitu (1) grafis, bahan cetak, dan gambar diam (2) media proyeksi diam (3) media audio (4) media gambar hidup/film (5) media televise (6) multimedia

Dari berbagai pengelompokan media pembelajaran tersebut, secara sederhana media pembelajaran dapat dipiloah menjadi tiga bagian saja, yaitu sebagai berikut

Media visual adalah media yang hanya dapat dilihat dengan menggunakan indra penglihatan. Jenis media inilah yang sering digunakan oleh guru untuk membantu menyampaikan isi atau meri pelajaran. Media visual ini terdiri atas media yang tidak dapat diproyesikan (non-projected visual) dan media yang dapat diproyesikan (project visual). Media yangd dapat diproyesikan ini dapat berupa gambar diam (still pictures) atau bergerak (motion pictures). Contoh dari media visual adalah tablel, poster, foto, dan slide.

Pengertian media audio untuk pembelajaran, dimaksudkan sebagai bahan yang mengandung pesan dalam bentuk auditif (pita suara atau piringan suara), yang dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan kemauan siswa, sehingga tedadi proses belajar mengajar. Manfaat media audio terutama dirasakan benar dalam melatih berbahasa asing, music literary, belajar jarak jauh, dan paket belajar atau modul untuk tujuan belajar mandiri.

Masih ada lagi dua media audio yang disalurkan melalui telekomunikasi yang sedikit banyak digunakan dalam pendidikan, yaitu radio dan telepon. Radio mempunyai sejarah yang panjang dalam siaran pendidikan, sedangkan telepon baru saja dipergunakan melalui kuliah jarak jauh (telelecture) atau teknik jaringan penerimaan yang diperluas (amplified receiver technique).

Ada beberapa keuntungan yang dapat diperoleh dari jenis media ini, antara lain dalam hal melatih daya ingat dan mengungkapkan kembali gagasan cerita yang telah disimak, melatih diri dalam memisahkan informasi yang relevan dari yang tak relevan serta dapat pula melatih daya analisis.

Sesuai dengan namanya, media ini merupakan kombinasi audio dan visual atau bisa disebut media pandang-dengar. Sudah barang tentu apabila kita menggunakan media ini akan semakin lengkap dan optimallah penyajian bahan ajar kepada para siswa. Selin itu, media ini dalam batas-batas tertentu dapat juga menggantikan peran dan tugas guru. Dalam hal ini, guru tidak selalu berperan sebagai penyaji materi (narasumber) karena penyajian materi dapat digantikan oleh media. Oleh sebab itu, peran guru beralih menjadi fasilitator belajar. Contoh dari media audiovisual diantaranya program video/televise pendidikan, video/televise instruksional, dan program slide suara (soundslide), dan pembelajaran dengan computer.[5]

Siswa memiliki daya tangkap yang berbeda dalam menerima materi yang akan diberikan seorang pendidik. Seorang pendidik harus mengerti tentang penggunaan media pembelajaran. Dan tidak asal membuat media pembelajaran, harus mengerti prinsip-prinsip dalam memilih media pembelajaran. Seperti yang dikatakan oleh Punaji Setyosari dalam naskah yang digunakan PLPG, dia menyebutkan bahwa dalam memilih media pembelajaran seorang pendidik harus memperhatikan beberapa prinsip. Yaitu ;

  1. Tak ada satupun media, prosedur dan pengalaman belajar yang paling baik untuk belajar;
  2. Percayalah bahwa penggunaan media itu sesuai dengan tujuan khusus Pembelajaran;
  1. Anda harus mengetahui secara menyeluruh kesesuaian antara isi dan tujuan khusus program;
  1. Media harus mempertimbangkan kesesuaian antara penggunaannya dengan cara pembelajaran yang dipilih;
  1. Pemilihan media itu sendiri jangan tergantung pada pemilihan dan penggunaan media tertentu saja;
  2. Sadarlah bahwa media yang paling baik pun apabila tidak dimanfaatkan secara baik akan berdampak kurang baik atau media tersebut digunakan dalam lingkungan yang kurang baik;
  1. Kita menyadari bahwa pengalaman, kesukaan, minat dan kemampauan individu serta gaya belajar mungkin berpengaruh terhadap hasil penggunaan media;
  1. Kita menyadari bahwa sumber-sumber dan pengalaman belajar bukanlah hal-hal yang berkaitan dengan baik atau buruk tetapi sumber-sumber dan pengalam belajar ini berkaitan dengan hal yang konkrit atau abstrak.[6]

Dalam memilih media pembelajaran juga harus melihat prinsip-prinsip pembelajaran dahulu. Setelah itu seorang pendidik akan mengetahui sejauh mana dia akan membuat media pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran. Dalam bukunya Arifin Prinsip-prinsip Pembelajaran Fajar melingsir kutipan dalam website tentang beberapa prinsip-prinsip umum dalam pembelajaran sebagai berikut:

  1. Bahwa belajar menghasilkan perubahan perilaku peserta didik yang relatif permanen;
  1. Peserta didik memiliki potensi, gandrung dan kemampuan yang merupakan benih kodrati untuk ditumbuhkembangkan;
  1. Perubahan atau pencapaian kualitas ideal itu tidak tumbuh alami liner sejalan proses kehidupan.[7]

Pemilihan dan penggunaan media pembelajaran tidak hanya sekedar memilih saja. Karena harus memperhatikan banyak hal, agar dapat menunjang efektif, efisien, dan daya tarik dalam belajar siswa. Mudhoffir dalam bukunya Teknologi Instruksional, menyebutkan ada beberapa prinsip pemilihan media adalah sebagai berikut a) Kesesuaian dengan tujuan pengajaran, b) Tingkat kemampuan siswa, c) Ketersediaan media, d) Biaya, e) Mutu teknik media.[8]

Prinsip pemilihan media pembelajaran menurut Harjanto seperti yang dilingsir oleh website www.m-edukasi.web.id yaitu: 1) tujuan; 2) keterpaduan; 3) keadaan peserta didik; 4) ketersediaan; 5) mutu teknis; 6) biaya. Jadi dapat disimpulkan bahwa prinsip-prinsip media pemilihan media pembelajaran adalah :

  1. Media yang dipilih harus sesuai dengan tujuan dan materi pembelajaran, metode pengajaran yang digunakan, serta karakteristik siswa.
  2. Mengenali ciri-ciri tiap media pembelajaran
  3. Pemilihan media pembelajaran harus berorientasi pada peningkatan efektivitas belajar siswa.
  4. Pemilihan media harus mempertimbangkan biaya pengadaan, ketersediaan bahan media, mutu media, dan lingkungan fisik tempat belajar siswa.[9]
  1. Langkah-Langkah Mengembangkan Media Pembelajaran

Media pembelajaran merupakan alat yang digunakan dalam proses belajara mengajar yang dapat membangkitkan minat dan keinginan, motivasi siswa, dan bahkan dapat membawa pengaruh-pengaruh psikologis terhadap peserta didik. Oleh karena itu, pengembangan media pembelajaran sangatlah penting karena penggunaan media pembelajaran pada tahap orientasi sangatlah penting untuk membentuk keefektifan proses pembelajaran dan penyampaian pesan dan isi pelajaran, sehingga tujuan pembelajaran bisa tercapai secara maksimal.

Kegiatan pengembangan media pembelajaran secara garis besar harus melalui tiga langkah besar yaitu kegiatan perencanaan, produksi dan penialian. Sementara dalam rangka melakukan desain atau rancangan pengembangan program media, Arief Sadiman, dkk, memberikan urutan langkah-langkah yang harus diambil dalam pengembangan program media menjadi 6 (enam) langkah sebagai berikut:[10]

  1. Menganalisis kebutuhan dan karakteristik siswa

Kebutuhan dalam proses belajar mengajar adalah kesenjangan antara apa yang dimiliki siswa dengan apa yang diharapkan. Contoh jika kita mengharapkan siswa dapat melakukan sholat dengan baik dan benar, sementara mereka baru bisa takbir saja, maka perlu dilakukan latihan untuk ruku, sujud, dan seterusnya.

Setelah kita menganalisis kebutuhan siswa, maka kita juga perlu menganalisis karakteristik siswanya, baik menyangkut kemampuan pengetahuan atau keterampilan yang telah dimiliki siswa sebelumnya. Cara mengetahuinya bisa dengan tes atau dengan yang lainnya. Langkah ini dapat disederhanakan dengan cara mengenalisa topik-topik materi ajar yang dipandang sulit dan karenanya memerlukan bantuan media. Pada langkah ini sekaligus pula dapat ditentukan ranah tujuan pembelajaran yang hendak dicapai, termasuk rangsangan indera mana yang diperlukan (audio, visual, gerak atau diam).

contoh melakukan identifikasi kebutuhan dan karakteristik siswa:

Seorang anak berusia 7 tahun diharapkan sudah berprilaku hidup sehat dengan rajin membaca, rajin menabung, tidak boros, namun dalam kenyataannya tidak sesuai dengan harapan. dengan demikian terjadi kebutuhan bagaimana meningkatkan sikap siswa untuk hidup hemat.

Adanya kebutuhan tersebut inilah yang menjadi dasar pijakan dalam membuat media pembelajaran, karena dengan dorongan kebutuhan inilah media dapat berfungsi dengan baik. dan media yang digunakan siswa, haruslah relevan dengan kemampuan yang dimiliki siswa.

  1. Merumuskan tujuan pembelajaran (Instructional objective) dengan operasional dan khas.

Untuk dapat merumuskan tujuan instruksional dengan baik, ada beberapa ketentuan yang harus diingat, yaitu: tujuan pembelajaran harus berorientasi kepada siswa; artinya tujuan itu benar-benar harus menyatakan adanya perilaku siswa yang dapat dilakukan atau diperoleh setelah proses belajar dilakukan.

Sebuah tujuan pembelajaran hendaknya memiliki empat unsur pokok yang dapat kita akronimkan dalam ABCD (Audience, Behavior, Condition, dan Degree). Penjelasan dari masing-masing komponen tersebut sebagai berikut:

A = Audience adalah menyebutkan sasaran/audien yang dijadikan sasaran pembelajaran

B = Behavior adalah menyatakan prilaku spesifik yang diharapkan atau yang dapat dilakukan setelah pembelajaran berlangsung

C = Condition adalah menyebutkan kondisi yang bagaimana atau dimana sasaran dapat mendemonstrasikan kemampuannya atau keterampilannya

D = Degree adalah menyebutkan batasan tingkatan minimal yang diharapkan dapat dicapai.

Contoh Rumusan Tujuan Pembelajaran:

Setelah mengikuti praktek berwudhu, siswa kelas MI kelas V dapat mempraktekkannya (sholat) dengan benar

  1. Merumuskan butir-butir materi secara terperinci yang mendukung tercapainya tujuan

Penyusunan rumusan butir-butir materi adalah dilihat dari sub kemampuan atau keterampilan yang dijelaskan dalam tujuan khusus pembelajaran, sehingga materi yang disusun adalah dalam rangka mencapai tujuan yang diharapkan dari kegiatan proses belajar mengajar tersebut. Setelah daftar butir-butir materi dirinci maka langkah selanjutnya adalah mengurutkannya dari yang sederhana sampai kepada tingkatan yang lebih rumit, dan dari hal-hal yang konkrit kepada yang abstrak. Contoh Rumusan Butir-butir Materi dari Rumusan Tujuan Pembelajaran di atas yaitu: Praktek berwudhu

  1. Mengembangkan alat pengukur keberhasilan

Alat pengukur keberhasilan seyogyanya dikembangkan terlebih dahulu sebelum naskah program ditulis. Dan alat pengukur ini harus dikembangkan sesuai dengan tujuan yang akan dicapai dan dari materi-materi pembelajaran yang disajikan. Bentuk alat pengukurnya bisa dengan tes, pengamatan, penugasan atau cheklist prilaku.

Instrumen tersebut akan digunakan oleh pengembang media, ketika melakukan tes uji coba dari program media yang dikembangkannya. Misalkan alat pengukurnya tes, maka siswa nanti akan diminta mengerjakan materi tes tersebut. Kemudian dilihat bagaimana hasilnya. Apakah siswa menunjukkan penguasaan materi yang baik atau tidak dari efek media yang digunakannya atau dari materi yang dipelajarinya melalui sajian media. Jika tidak maka dimanakah letak kekurangannya. Dengan demikian, maka siswa dimintai tanggapan tentang media tersebut, baik dari segi kemenarikan maupun efektifitas penyajiannya.

Sebagai salah satu contoh tentang alat pengukur keberhasilan dari media yang dikembangkan oleh guru adalah sebagai berikut:

Rumusan Tujuan Rumusan Materi Alat Pengukur (Tes)
Siswa kelas V MI dapat mempraktekkan cara berwudhu dengan benar Tata cara berwudu · Sebutkan bacaan niat berwudhu dan do’a setelah berwudhu

· Tunjukkan gerakan-gerakan atau cara dalam berwudhu

Dari contoh di atas, jelaslah bahwa penyusunan alat ukur keberhasilannya harus berdasar dari rumusan tujuan dan materi pembelajaran yang akan diajarkan melalui media pembelajaran tersebut.

  1. Menulis Naskah Media

Naskah media adalah bentuk penyajian materi pembelajaran melalui media rancangan yang merupakan penjabaran dari pokok-pokok materi yang telah disusun secara baik seperti yang telah dijelaskan di atas. Supaya materi pembelajaran itu dapat disampaikan melalui media, maka materi tersebut perlu dituangkan dalam tulisan atau gambar yang kita sebut naskah program media.

Naskah program media maksudnya adalah sebagai penuntun kita dalam memproduksi media. Artinya menjadi penuntut kita dalam mengambil gambar dan merekam suara. Karena naskah ini berisi urutan gambar dan grafis yang perlu diambil oleh kamera atau bunyi dan suara yang harus direkam.

Tahapan dalam pembuatan atau penulisan naskah adalah berawal dari adanya ide dan gagasan yang disesuaikan dengan tujuan pembelajaran. selanjutnya pengumpulan data dan informasi, penulisan sinopsis dan treatment, penulisan naskah, pengkajian naskah atau revisi naskah, revisi naskah sampai naskah siap diproduksi.

  1. Mengadakan Tes atau Uji Coba dan Revisi

Tes adalah kegiatan untuk menguji atau mengetahui tingkat efektifitas dan kesesuaian media yang dirancang dengan tujuan yang diharapkan dari program tersebut. Sesuatu program media yang oleh pembuatnya dianggap telah baik, tetapi bila program itu tidak menarik, atau sukar dipahami atau tidak merangsang proses belajar bagi siswa yang ditujunya, maka program semacam ini tentu saja tidak dikatakan baik.

Tes atau uji coba tersebut dapat dilakukan baik melalui perseorangan atau melalui kelompok kecil atau juga melalui tes lapangan, yaitu dalam proses pembelajaran yang sesungguhnya dengan menggunakan media yang dikembangkan. Sedangkan revisi adalah kegiatan untuk memperbaiki hal-hal yang dianggap perlu mendapatkan perbaikan atas hasil dari tes.

Jika semua langkah-langkah tersebut telah dilakukan dan telah dianggap tidak ada lagi yang perlu direvisi, maka langkah selanjutnya adalah media tersebut siap untuk diproduksi. akan tetapi bisa saja terjadi setelah dilakukan produksi ternyata setalah disebarkan atau disajikan ada beberapa kekurangan dari aspek materi atau kualitas sajian medianya (gambar atau suara) maka dalam kasus seperti ini dapat pula dilakukan perbaikan (revisi) terhadap aspek yang dianggap kurang. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan kesempurnaan dari media yang dibuat, sehingga para penggunanya akan mudah menerima pesan-pesan yang disampaikan melalui media tersebut. Prosedur tes/uji coba ini akan dijelaskan lebih lanjut dalam bab yang menjelaskan tentang evaluasi media.[11]

BAB III PENUTUP

pengertian media pembelajaran ialah komponen, alat bantu, saluran, atau segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyampaikan pesan yang berupa materi pembelajaran dari pendidik (guru) sebagai komunikator kepada peserta didik (siswa) sebagai komunikandalam proses belajar dan pembelajaran serta dapat merangsang pikiran, perasaan,minat, dan perhatian peserta didik sehingga terjadi proses belajar.

Macam-macam media diklasifikasikan menjadi dua jenis, yaitu media sederhana (papan tulis, gambar, poster, peta) dan media canggih (radio, film, televise, computer). Dan media berdasarkan tiga unsur, yaitu suara, bentuk, gerak. Bretz diantaranya menggolongkan media kedalam media cetak, media audio, media visual gerak, media visual diam, media audiovisual gerak, media audiovisual diam. Selain itu Tosti dan Ball juga menyusun pengelompokkan media menjadi enam kelompok media penyaji, yaitu (1) grafis, bahan cetak, dan gambar diam (2) media proyeksi diam (3) media audio (4) media gambar hidup/film (5) media televise (6) multimedia.

Prinsip pemilihan media pembelajaran yaitu: 1) tujuan; 2) keterpaduan; 3) keadaan peserta didik; 4) ketersediaan; 5) mutu teknis; 6) biaya.

Adapun dalam langkah-langkah pengembangan media pembelajaran dapat melalui langkah-langkah sebagai berikut:

  1. Menganalisis kebutuhan dan karakteristik siswa
  2. Merumuskan tujuan pembelajaran (Instructional objective) dengan operasional dan khas
  3. Merumuskan butir-butir materi secara terperinci yang mendukung tercapainya tujuan
  4. Mengembangkan alat pengukur keberhasilan
  5. Menulis Naskah Media
  6. Mengadakan Tes atau Uji Coba dan Revisi

Sumber:

– Gintings Abdorrakhman, 2008, Essensi Praktis Belajar dan Pembelajaran Bandung: Humaniora.

– Djamarah, Syaiful Bahri dan Aswan Zain, 2006. Strategi belajar Mengajar . Jakarta : PT. Rineka Cipta.

– Purnamawati dan Eldarni, 2001 , Media Pembelajaran Jakarta

– Asep Herry Hernawan, dkk, 2009. Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran, Jakarta: Universitas Terbuka.

– A.S Sudiman, dkk, 1986.Media Pendidikan; Pengertian Pengembangan, dan Pemanfaatannya. Jakarta; Pustekkom dan Rajawali.

– Mudhofir. 1999. Teknologi Instruksional. Remaja Rosda Karya: Bandung.

– Setyosari, Punaji. 2008. Pemilihan dan Penggunaan Media Pembelajaran. Universitas Negeri Malang; Panitia Sertifikasi Guru Rayon 15: Malang.

– Arifin, Zainal. 2009. Prinsip-prinsip Pembelajaran, dalam Kurikulum dan Pembelajaran. Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universiatas Pendidikan Indonesia: Bandung.

Cara Menjadi Lebih Produktif

wikiHow adalah suatu “wiki”, yang berarti ada banyak artikel kami yang disusun oleh lebih dari satu orang. Untuk membuat artikel ini, penyusun sukarela menyunting dan memperbaiki dari waktu ke waktu.

Ada 7 referensi yang dikutip dalam artikel ini dan dapat ditemukan di akhir halaman.

Setiap orang ingin bisa melakukan banyak hal dalam waktu yang singkat. Sangat mudah untuk menerima bahwa beberapa orang terlahir lebih produktif daripada orang lain yang cenderung menunda-nunda pekerjaan. Meskipun hal itu benar, orang-orang produktif memanfaatkan beberapa strategi berguna yang bisa membantu siapa saja.

Peringkat broker opsi biner:
Tempat berinvestasi
Tinggalkan Balasan

;-) :| :x :twisted: :smile: :shock: :sad: :roll: :razz: :oops: :o :mrgreen: :lol: :idea: :grin: :evil: :cry: :cool: :arrow: :???: :?: :!: