Untung Rugi Investasi Bitcoin Terkini Lainnya

Peringkat broker opsi biner:

Investasi Emas Lebih Untung Dibanding Investasi Lain, Ini Alasannya

JAKARTA, KOMPAS.com – Zaman sekarang, orang semakin terpelajar dan tergiur untuk investasi. Sayangnya, banyak yang akhirnya tak jadi investasi karena bingung memilih instrumen yang tepat di samping banyaknya tawaran instrumen.

Daripada bingung, Anda bisa memulainya dengan investasi emas. Karena saat ini investasi emas telah menjadi primadona di berbagai kalangan usia, mulai dari generasi milenial hingga generasi baby boomers.

Kabarnya, investasi emas juga lebih untung dibanding investasi lainnya.

Lalu, apa saja keuntungan tersebut? Simak jawabannya berikut ini.

1. Jadi alat tukar saat krisis

Semua negara pasti pernah mengalami krisis keuangan. Untuk terhindar dari krisis itu, sebenarnya Anda bisa mengandalkan tabungan emas yang Anda miliki untuk digunakan menjadi alat tukar saat mata uang tengah tak terkendali.

Apalagi, emas biasanya tidak terpengaruh inflasi sehingga lebih terkendali.

Direktur Utama Pegadaian Kuswiyoto mengatakan, saat ini orang semakin banyak berlomba-lomba menabung emas. Tujuannya tentu saja sebagai alat tukar saat terjadi krisis.

Peringkat broker opsi biner:

“Dari sisi makro, saat negara mengalami krisis, emas bisa menjadi alat tukar. Hari ini banyak orang China orang Jepang beli emas, soalnya negara akan banyak tertopang oleh emas yang dimiliki masyarakatnya. Jadi kalau krisis enggak pusing lagi kita,” kata Direktur Utama Pegadaian Kuswiyoto di Jakarta, Kamis (1/8/2020).

2. Jadi dana darurat

Selain terhindar dari inflasi, emas bisa disetarakan dengan dana tunai karena lebih mudah dicairkan. Sehingga penggunaannya pun bisa dimaksimalkan untuk dana darurat ataupun kebutuhan mendesak lainnya.

” Emas bisa disetarakan dengan cash kalau kita perlu duit mendadak. Kalau dicairkan itu bunganya pasti murah. Artinya, tabungan emas bisa memberikan kemudahan dan lebih menyejahterakan,” pungkas Kuswiyoto.

3. Lebih aman

Karena mampu terhindar dari inflasi dan suku bunga tinggi, investasi emas bisa dibilang lebih aman dibanding instrumen investasi lainnya. Fluktuasi emas tidak se-ekstrem fluktuasi saham maupun mata uang kripto.

Investasi Bitcoin, Miliarder Jepang Rugi Rp 1,8 Triliun

Liputan6.com, Tokyo – Anjloknya harga bitcoin ternyata pernah merugikan CEO Softbank, Masayoshi Son. Miliarder itu dilaporkan harus mengikhlaskan kerugian Rp 1,8 triliun karena jatuhnya harga bitcoin.

Dilaporkan The Wall Street Journal, Masayoshi Son langsung masuk ke pasar bitcoin pada tahun 2020. Kala itu, harga bitcoin memang sedang meroket.

Pada akhir Desember 2020, nilai bitcoin justru menukik tajam alias mengalami crash. Padahal, Son baru saja berinvestasi bitcoin di bulan yang sama.

Pada awal tahun 2020, miliarder itu harus menjual bitcoinnya. Kerugian yang ia tanggung mencapai USD 130 juta atau Rp 1,8 triliun (USD 1 = Rp 14.122).

Kabarnya, ia membeli bitcoin atas ajakan seorang pengelola aset dari Fortress Investment Group yang juga aktif membeli bitcoin. Fortress sebetulnya sudah dibeli SoftBank pada bulan Februari 2020.

Bitcoin hampir menyentuh USD 20 ribu (sekitar Rp 200 juta) pada puncak tertingginya di Desember 2020. Kini, penjualan bitcoin berkisar di harga USD 5.586 (Rp 78,8 juta).

Di bawah pimpinan miliarder Masayoshi Son, SoftBank memang fokus pada investasi teknologi berjangka panjang. Melalui SoftBank Vision Fund, perusahaan membanjiri Silicon Valley dengan dana hingga USD 100 miliar (Rp 1.412 triliun).

5 Alasan Pemerintah Keluarkan Larangan Bitcoin

Di negara besar memang menjadi investasi yang banyak peminatnya. Hanya saja, di Indonesia justru dilarang. Berikut alasannya sebagaimana dikutip dari Swara Tunaiku.

1. Tidak Didukung oleh OJK

Sebagai Otoritas Jasa Keuangan, badan pemerintah tersebut memiliki peranan vital dalam menjaga eksistensi nilai rupiah di masyarakat. Oleh karena itu, penggunaan Bitcoin sebagai alat transaksi alternatif pun dilarang peredarannya.

Dengan kata lain, tidak bisa digunakan untuk menjadi alat tukar dari suatu barang apa pun. Selain itu, bitcoin juga dianggap bisa merugikan masyarakat Indonesia. Sebab, peredarannya sama sekali tidak diatur dan tidak mendapat jaminan dari pemerintah Indonesia. Khususnya oleh bank sentral atau BI.

Sebab lainnya, bitcoin berpotensi mengganggu stabilitas keuangan negara karena tingginya penggelembungan nilai uang akibat tren bitcoin.

2. Bitcoin Rentan Alami Peretasan

Dengan nilai tukar yang begitu besar, tidak heran jika banyak yang berupaya meretas atau membobolnya.

Sistem keuangan yang ada di bank lokal saja bisa diretas oleh tangan-tangan usil. Padahal bank lokal tersebut sudah diawasi langsung oleh OJK dan disetujui oleh pemerintah Indonesia. Bagaimana dengan Bitcoin yang sudah resmi dilarang? Tentu setiap risikonya tidak lagi menjadi tanggungan pemerintah.

Uang dalam bentuk digital tidak selamanya aman. Sepandai-pandainya kamu menyembunyikan kode akses dompet Bitcoin, tetap memiliki kemungkinan untuk diretas. Kalau serpihan Bitcoin yang kamu miliki hilang, maka tidak ada yang bisa menjamin alias tidak bisa kembali lagi.

Celah Bagi Kasus Kriminal?

3. Sering Tersangkut Pencucian Uang sampai Pendanaan Teroris

Cukup mengkhawatirkan memang. Begitu pemerintah Indonesia melarang bitcoin, maka dengan sendirinya mudah berafiliasi dengan praktik-praktik terlarang. Misalnya, pencucian uang dari para koruptor atau mafia serta kelompok teroris untuk melancarkan aksi teror di sana-sini. Masa kamu mau disetarakan dengan mereka?

Selain itu, bitcoin juga rentan digunakan untuk berbagai tindak kejahatan lain. Misalnya prostitusi. Sebab, pengguna bitcoin dibolehkan bertransaksi menggunakan samaran. Peredaran uangnya juga tidak terlacak oleh sistem OJK. Pernah ada kasus ancaman pemboman Mall Alam Sutera dengan permintaan tebusan berupa bitcoin ke pihak mal.

4. Adanya Mata Uang Digital yang Lain

Selain Bitcoin, masih ada ratusan lagi mata uang digital lain. Salah satu yang paling terkenal bernama Ethereum dengan satuannya bernama ether.

Mulanya, Ethereum difungsikan sebagai platform untuk bertransaksi via jaringan digital. Tapi akhirnya berstatus sama dengan Bitcoin, yakni bisa dipakai untuk investasi. Begitu pula dengan Monero, IOTA, dan lainnya yang sama-sama berstatus sebagai mata uang digital. Setiap tahunnya muncul nama-nama baru. Bahkan dari bitcoin sendiri sudah ada variannya yang juga bisa dijadikan sarana investasi.

Namanya juga uang digital. Penurunan nilai yang drastis sudah menjadi lalapan sehari-hari yang tak terhindarkan oleh pengguna.

5. Benarkah Pemerintah Menyiapkan Pengganti Bitcoin?

Fenomena Bitcoin yang merebak di skala internasional telah memberikan ide untuk pemerintah. Tidak menutup kemungkinan, bahwa nantinya uang fisik bisa diwakili dengan uang digital. Tentu pemerintah akan mengujinya lebih dulu. Biar tidak meresahkan masyarakat yang ikut-andil. Jadi, gunakan uang digital ketika sudah berstatus legal dulu.

Investasi Bitcoin, Orang Ini Untung Rp 12 Juta Tiap Bulan

Jakarta – Seperti mata uang lainnya, nilai Bitcoin juga berfluktuatif. Meski berbentuk virtual, mata uang ini juga bisa diperdagangkan.

Di Indonesia Bitcoin memang belum diakui, namun sudah cukup banyak orang Indonesia yang menjajal untuk berinvestasi di dalamnya. Bahkan ada pula yang sudah memetik keuntungan yang terbilang fantastis.

Seperti Erin Heri Gunawan yang sudah memegang Bitcoin sejak akhir 2020 yang lalu. Kala itu harga 1 keping Bitcoin masih sekitar Rp 8-9 jutaan. Namun hingga September 2020 harga sekeping Bitcoin sudah mencapai US$ 4.909 atau setara Rp 64,7 juta (kurs Rp 13.200).

“Waktu itu saya beli Rp 20 juta dapat 2,2 keping Bitcoin,” tuturnya saat dihubungi detikFinance, Jumat (8/9/2020).

Namun sayangnya waktu awal-awal memegang uang virtual itu, Erin sempat terayu oleh pihak-pihak yang menawarkan penempatan Bitcoin sebagai investasi dengan keuntungan besar. Namun ternyata yang dia ikuti itu berskema ponzi.

“Dia menawarkan 80% return-nya dalam 3 bulan. Awalnya benar saya dapat keuntungan sebesar itu. Tapi selanjutnya saya harus cari anggota lainnya,” aku Erin.

Beberapa kali dia sempat terayu program serupa selama 8 bulan. Sampai-sampai Bitcoinnya berkurang menjadi 1,2 keping.

Merasa kapok, akhirnya dia memilih untuk mengelola sendiri dengan transaksi Bitcoin sendiri. Seperti mata uang biasa, Bitcoin juga memiliki pasar sendiri yang bernama Bitcoin Spot Market.

Di Indonesia, trading Bitcoin bisa dilakukan di web Bitcoin.co.id. Di web tersebut terdapat papan perdagangan. Seperti papan perdagangan bursa saham, Bitcoin Spot Market juga menunjukkan kurva pergerakan harga Bitcoin setiap detiknya yang berbentuk candle stick.

Cara perdagangannya juga sama dengan saham, pelaku pasar Bitcoin cukup melakukan jual beli dengan memasang harga order yang diinginkan. Strateginya juga sama, beli di harga terendah dan petik keuntung kala harganya tengah melambung.

Nah, Erin melakoni transaksi tersebut sudah selama 1 tahun belakangan. Tidak ada strategi khusus, dia hanya membeli ketika harga Bitcoin sedang rendah dan menjual saat tinggi. Namun dengan begitu saja dia mengaku bisa mengantongi keuntungan rata-rata sekitar 0,2 keping dari modal 1,2 keping setiap bulannya.

Jika dihitung dengan harga saat ini, keuntungan 0,2 keping yang dikantongi Erin bisa mencapai Rp 12 juta per bulan. Bahkan dia bisa menyicil rumah dan kendaraan dari keuntungan itu.

“Itu pun kalau dihitung rata-rata Rp 12 juta, dan saya mainnya cari aman saja, kalau berani mungkin lebih dari itu. Keuntungannya saya ambil terus untuk cicil rumah sama cicil motor,” kata Erin.

Saat ini, nilai portofolio Erin dari 1,2 keping yang dimiliki sekitar Rp 76,8 juta. Jika saja Erin masih mengempit 2,2 keping Bitcoin nilai portofolionya mencapai Rp 140,8 juta, dari modal hanya Rp 20 juta dalam waktu 1,5 tahun. (wdl/wdl)

Peringkat broker opsi biner:
Tempat berinvestasi
Tinggalkan Balasan

;-) :| :x :twisted: :smile: :shock: :sad: :roll: :razz: :oops: :o :mrgreen: :lol: :idea: :grin: :evil: :cry: :cool: :arrow: :???: :?: :!: